Sunday, September 9, 2012

UI GELAR UPACARA WISUDA



Universitas Indonesia (UI) kembali menggelar upacara wisuda, Jumat (7/9/2012), di Balairung UI, Depok, Jawa Barat. Tahun ini, UI meluluskan 8.672 mahasiswa dari jenjang D-3 hingga S-3. Jumlah ini terbanyak sepanjang sejarah UI.

"Suatu kebanggaan hari ini Universitas Indonesia bisa mempersembahkan total lulusan semester genap tahun ini sebanyak 8.672 orang. Jumlah ini merupakan jumlah lulusan terbanyak dalam sejarah UI," ucap Pejabat sementara Rektor UI, Djoko Santoso, saat memimpin upacara wisuda dan penyambutan mahasiswa baru, Jumat (7/9/2012) sore.

Dalam pidatonya, Djoko berpesan kepada para lulusan untuk mempersembahkan kejujuran dan sikap yang bertanggung jawab atas pencapaian ilmu yang telah diperolehnya. Hal yang sama juga ditujukan kepada mahasiswa baru agar mereka tetap mengindahkan kedua hal tersebut dalam pencarian ilmu.

"Bayangkan jika kedua landasan itu ada, pribadi mahasiswa akan menjadi sosok profesional sejati. Teruslah mengasah kemampuan dalam dua sisi, satu memantapkan kemampuan profesional keilmuan di bidang Anda, sisi lain kembangkan kemampuan penalaran dan penjabaran keilmuan untuk kepentingan masyarakat," ungkapnya.

Seiring dengan tingginya jumlah lulusan yang banyak, Djoko juga mengatakan bahwa pada wisuda semester ini terdapat 1.230 wisudawan berpredikat cumlaude. Jumlahnya mencapai 14 persen dari total lulusan tahun ini. Jumlahnya naik tiga kali lipat dari jumlah peraih cumlaude tahun sebelumnya, yaitu 429 orang dari total 7.458 lulusan.

UI menggelar wisuda dalam dua hari. Pada hari ini, digelar wisuda untuk 3.298 lulusan sarjana kelas reguler dan kelas khusus internasional.



http://edukasi.kompas.com/read/2012/09/07/17350653/UI.Lepas.8.672.Wisudawan.Terbanyak.Sepanjang.Sejarah

Wednesday, September 5, 2012

Halal Bi Halal 1433 H Kemantren Jakarta


Suyono TldJOG70:  I/2 - PP2
 Minggu jam 9.00 saya ditilpun mas Achmad (Ikang) Fauzi (PP-2) yg sebelumnya sudah terima sms dariku tentang informasi syawalan TLD70.  “Yon berangkat enggak ?”; tanyanya.  “Yo..berangkat wong nggak ada acara lain yg lebih penting, aku berangkat jam 10-an” : jawabku.   “Aku enaknya bagaimana ya..soalnya belum pernah, dan sudah pada lupa sama teman-teman dulu” : tanyanya lagi rodo mbingungi.   “Hla monggo saja, kalau mau datang saya jemput atau sampeyan yg ke rumahku ? aku manut “ : jawabku.   Akhirnya AF jam 10.30 sudah tiba di rumahku, malah pakai kesasar pula, wong sudah pernah kok lali ya.  Berangkatlah kami berdua ewes-ewes dg route Jl Casablanca (Kol Sugiono) – Kuningan- W Monginsidi.  Jam 11.30 nyampailah ke RM  Warungdaun dan segera masuk ke dalam, …waow..surprise, ternyata sudah lebih dari 20 orang berada di sana (waktu sebelum puasa kurang dari 10 orang). Segera kusalami 1 per 1, bagiku sudah banyak yg kukenal baik melalui FB, milis maupun pernah ketemu langsung sewaktu di Yogya & Jkt.

Terlihat obrolan pertemuan berlangsung gayeng yg kemudian dibuka oleh Lurah Kemantren Jkt  Dr. ML.  Sebetulnya nggak dibuka juga sudah berlangsung gayeng. Yo wis ben...ethok-ethoknya dibuka saja.  Mbuh Lurahe ngendiko opo , aku yo ra pati krungu ….ketutup suara gumbrenggeng konco-konco,  pokoke yen ono sing nguyu melu ngguyu...apalagi susunan  mejane  ndlujur dawa..antara ujung satu dg lainnya adoh tenan..saya duduk agak ujung.

Oh ya .. yg datang setelah kuingat2 sekitar 30-an kurang dikit , wis dijangkar (jambal) wae yo :

1.     Aan
2.     Sri Murtini
3.     Nanik SM
4.     Umi Pur
5.     Retno A
6.     Ratna Dewi
7.     Asti
8.     Henny (Ny Didik)
9.     Japong
10.  Teguh W
11.  Edi Ros
12.  Yono
13.  Andi W
14.  Herry Bud
15.  Mukhtar L
16.  Marsito
17.  Pakde Arief
18.  Sudarmanto
19.  Sri Kaloka
20.  Sri Nirbito
21.  Hendra Barata
22.  Didik Is
23.  A  Fauzi
24.  Hary Sur
25.  Sukatno
26.  Prasetyo
27.  Edi Mart
28.  Lupa
29.  Lupa
30.  Sopo maneh..

Sebetulnya saya berniat bikin absen, dan sudah minta kertas sama servant hla kok lama nggak dikasih, ndilalah aku yo lali nagih nganti bubar.
Mas Sri kaloka, Saya tidak membayangkan ketemu mas SK sebab setahuku beliau di Bandung dan selama ini saya juga kurang komunikasi, setelah 40 th nggak ketemu mas SK masih nampak kalem dan langsing.
Mbak Sri Murtini. Lewat FB ngakunya dulu di I-2, sejak itu aku mencoba nginget-inget kok ya nggak match nggak ketemu ya.  Eeh ...ternyata sekarang baru ngaku kalau dulu di I-5.....sengaja ngerjain saya.  Oala..mbak Sri...tego temen sampeyan, awas tunggu balasanku. Piye yo carane mbales.

Mbak Aan. Crito-crito kok njur nyinggung musik. Oh aku jadi ingat,” mbak Aan dulu main accordian ya? ” Jawabannya meng-iyakan, ternyata saya betul, sampai sekarang mbak Aan masih bermusik. Kita tunggu saja nanti kiprahnya di S’baya, katanya juga mau datang. Oh yes..

Mas Hendra Barata. Dulu ketua Osis,  so pasti aku mengenalnya. Salut buat mas HB yg jauh-jauh dari Ciamis (6 jam prjln) merloke rawuh. Bayangkan nyopir sendiri, ngakunya ada yg menemani, yg nyopir mas Hendra yg menemani mas Barata....haha...jas bukak iket blangkon alias sami mawon., matur nuwun mas HB.

Dari kemantren S’baya rawuh mas Herry Bud & mbak Asti, matur nuwun. Tapi ada yg mengartikan sedang “menanam budi”.  Adoh-adoh soko Suroboyo, ben mengkone yen even nang S’boyo genti ditekani.  Ho..ho..beban moral juga ya kalau sampai nggak datang ke S’baya (sorry guyon hlo mas Her/mbak Asti).
Mbak Ratna Dewi datang agak terlambat karena paralel dg acara lain, bahkan acara paralelnya dikorbankan tidak sampai selesai demi nggabung dengan Tld, suwun mbak.

Mas Harry Suryanto, dari postur tubuh dan gayanya saya masih ingat namun agak ragu dengan tidak memakai kacamatanya.  “mas  Harry ya ?” : tanyaku ragu.  Jawabannya membenarkan, seneng sekali  ternyata tebakanku betul.

Mas Didik Iswardhana, aku tidak pangling walaupun beliau mungkin masih meraba-raba. “iki Yono sing endi yo?”. Ma kasih mas Didik atas rawuhnya ke Jkt, sarimbitan dengan ingkeng garwo. Mas DI ini memang hoby touring, katanya kalau nggak nyopir malah pusing.  Yo wis sak kersamu mas !

Sekitar jam 14.00, kira-kira 2/3nya sudah meninggalkan gelanggang pertemuan dengan berbagai keperluan.  Datanglah Sang Komandan Pusat Tld70 dari Yogya mas Prof Ed Mart langsung dari airport dengan backpacknya. Setelah saling bersalaman/berpelukan dikeluarkanlah benda pusaka dari ranselnya berupa bungkusan plastik. Haha...lumayan..mas EdMart mbela-mbelain mampir Kranggan sakperlu nyangking tahu, tempe kara, tempe gembus baceman plus cabe rawit ijo, sampai- sampai hampir ketinggalan pesawat, katanya.   Sedap….minum teh anget nyamikane tempe bacem, anane mung ayem tentrem.

Tentang rencana Suroboyoan Nopember mendatang, aku ditunjuk oleh pak Lurah supaya mengkoordinir keberangaktan dari Jkt biar berombongan. Terima kasih pak ML atas kepercayaannya, namun mohon maaf saya  menolaknya karena saya sendiri merencanakan berangkat ke S’baya dari Yogya naik KA.  -…sinten numpak sepurrr..bayare setali ..monggo sami kondur…-  Kemudian yg ingin berangkat berombongan dikoordinir mas Japong, sorry ya mas Japong, pancen njenengan sing kudu ketiban sampur.

Opo maneh yo......O iyo sewaktu bubaran pulang aku nanya sama mas A Fauzi ; ” mas Fauzi, waktu pertama lihat kawan-kawan siapa yg langsung Anda kenal ?”.  Jawabnya mantap : “Sri Nirbito !”.  O ala ..Zie, hla yen kuwi kan  konco tunggal kringkel...yo pasti to …nunggal geologinya.  Untung sampeyan ora njawab : “Yono”,  sido tak udhunke tengah ndalan tenan sampeyan....weit…. aku sing nunut ding.  Mekaten .
Salam hangat -yon





DJP:

Wah, wah.... ada juga yg piawai dalam menuliskan crito, berarti Inu ada saingannya nih.
Maturnuwun mas Yon, critone nyengsemke dan bisa menambah gambaran suasana saat itu.
Ada ralat sedikit atas nama2 yg hadir :
- Sudjatno (bukan Sukatno, soalnya ada juga teman kita Katno yg tidak hadir disini)
- Muchlisah
- Henny (yg bukan istri Didiek)

Yon:

Mas Japong, rasanya ralat sedikit tapi itu fatal bagiku.  Wah..wah...saya harus minta maaf, 
Kepada mbak Henny, mbak Ny Didik & mas Didiek ysh saya mohon maaf se-besar2nya atas kekeliruan  yg tak sengaja ini. Juga kepada  mas Sudjatno karena salah sebut dan mbak Muchlisah yg lupa tidak kusebut. Harap maklum yo mbak2 & mas2, jujur saja saya ini sebetulnya anggota PDIP (Penurunan Daya Ingat & Pendengaran).
Oh ya mbak Umi kemarin ngomentariku : " seingatku mas Yono ki dulu pendiem".  Kalau itu sampai sekarang saya masih pendiem mbak Umi, belum berubah (dereng ewah...kalau ini beda artinya).  Keluarga besarku di mBantul komennya sama : "suyono ki koyo gamelan, yen ora ditabuh ora bakalan muni !". Hla piye...di rumah kalau lagi ber-2-an dengan mbok wedok, komennya juga idem : "neng omah wong loro kok sepi, podo wae jejeran patung".  Nah ini yg bikin panas ...apa perlu mengerjakan "kerajinan tangan" ....eit jangan teruskan critanya...
Salam Hangat.

EM:

Justru krn Anda pendiem itu, mas Yon, kata2 Anda mengendap lbh mantap dan ketika dikeluarkan secara terrtulis mantapnya muncul dan terasa ... Terus nulis mas Yon, nanti ada dr Inu pun biar bareng2 nulis, krn saya yakin persepsi, tanggapan sampai ke gaya penulisan pasti beda, dan teman2 akan diperkaya oleh reportase Anda berdua ... Ditunggu pandangan mata berikutnya ...

Wednesday, August 22, 2012

MEWUJUDKAN PERTANIAN/AGRIBISNIS YANG TANGGUH


Prof. Dr. Masyahuri, Guru Besar Agribisnis  UGM
Dalam rangka ulang tahun Magister Manajemen Agribisnis Universitas Gadjah Mada (MMA-UGM) yang ke-6 (enam) telah diselenggarakan berbagai kegiatan diantaranya: (i) Pembukaan Pameran Produk-produk Pertanian (3 s/d 8 Mei 2005 di Areal Fakultas Pertanian/MMA-UGM); (ii) Acara KEMAS (Kenangan Masa di TVRI Yogyakarta (Selasa, 3 Mei 2005); (iii) Seminar Nasional Mewujudkan Pertanian/ Agribisnis Yang Tangguh di Era Otonomi Daerah (Sabtu, 7 Mei 2005 di Auditorium Pascasarjana UGM); (iv) Temu Alumni MMA-UGM (Sabtu, 7 Mei 2005) di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro. 

Dalam seminar Mewujudkan Pertanian/ Agribisnis Yang Tangguh di Era Otonomi Daerah pada hari Sabtu, 7 Mei 2005 lalu hadir sebagai pembicara yaitu: Prof. Dr. Masyhuri (Guru Besar Ekonomi Pertanian/ Agribisnis UGM dan Koordinator PERHEPI Wilayah Jawa); Dr. Budiono (Mantan Menteri Keuangan RI); Johanes Saragih (Koordinator Perencana Bisnis Menengah BRI); DR. Paulus Tribata Budiarjo, M.Th, MM (Praktisi Agribisnis Buah Naga); Paulus Setiabudi (Senior Vice President PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk); Dr. Ir. Djamaluddin MS, APU (Kepala Dinas Pertanian Propinsi Gorontalo); dan Dr. Arief B. Witarto, M.Eng (Ketua Peneliti Bioteknologi Indonesia). 

Pada kesempatan tersebut Prof. Dr. Masyhuri dalam makalah berjudul Pengembangan Agribisnis Pada Era Otonomi Daerah menjelaskan bahwa Indonesia mempunyai sumber daya alam berupa lahan, perairan baik darat maupun di laut yang sangat luas dan iklim yang mendukung sehingga merupakan potensi usaha pertanian dan agribisnis yang perlu dimanfaatkan. Dari sisi permintaan adanya pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan serta liberalisasi akanmeningkatkan permintaan pangan dan hasil pertanian lainnya. Disamping itu banyaknya sumberdaya manusia yang terlibat di sektor pertanian dan agribisnis merupakan asset yang besar untuk pengembangan agribisnis. Selain itu akibat adanya krisis moneter pada waktu yang lalu telah meningkatkan nilai mata uang asing, sehingga meningkatkan harga jual dalam rupiah. Sehingga peningkatan harga jual akan meningkatkan kesediaan petani, meningkatkan produksi dan penawaran produk agribisnis. Pada era otonomi daerah ini, pemerintah daerah dapat mengembangkan agribisnis di aderahnya sesuai dengan potensi, tanpa harus menunggu petunjuk dari pusat, tuturnya. (Humas UGM) 

http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=92

Tuesday, August 21, 2012

AGRARIS

Negara agraris yang swasembada pangan?
Berikut liputanku di lahan pertanian di seputaran  Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu.


Wednesday, June 27, 2012

Pemakaian Obat Esensial di Sektor Swasta Masih Memprihatinkan



YOGYAKARTA-Dibandingkan dengan tahun 1990-an, situasi penggunaan obat di Indonesia sudah berangsur membaik, utamanya di sektor pelayanan publik. Data nasional yang dikompilasi dari berbagai laporan menunjukkan persentase pasien yang menerima antibiotika di Puskesmas berangsur menurun dari 88% di tahun 1987 menjadi sekitar 50% di tahun 1997, 1998, 1999, 2002 dan sekitar 50% di tahun 2010.
Selain itu persentase pasien yang menerima injeksi telah berhasil dikendalikan, dari 74% di tahun 1987 turun drastis menjadi 4-11%, dan kemudian bertahan sekitar 3% di tahun 2010. Persentase penggunaan obat esensial di sektor publik selalu baik, yaitu berkisar antara 93-100%. Sedangkan persentase penggunaan obat esensial di sektor swasta masih perlu ditingkatkan karena hanya berkisar 34-49%.

“Sementara di sisi lain penggunaan obat non-esensial ikut memberikan kontribusi terhadap besarnya biaya obat, yaitu sekitar 3-5 kali lebih banyak daripada yang seharusnya,”ini diungkapkan oleh Prof.Dr.Dra.Sri Suryawati, Apt., pada pidato pengukuhannya sebagai guru besar Fakultas Kedokteran, Senin (25/6) di Balai Senat UGM.

Pada pidato pengukuhan yang berjudul Kearifan Budaya Indonesia Untuk Solusi Masalah Global Penggunaan Obat, Suryawati menegaskan penting serta kemajuan obat esensial yang sangat menggembirakan. Dalam kurun waktu 3 dekade, 86% negara di dunia telah mempunyai Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), termasuk Indonesia.

Menariknya, kata Suryawati, hasil survei WHO yang dipublikasikan tahun 2011 menyebutkan semua (100%) negara dengan tingkat pendapatan tinggi menggunakan obat esensial untuk pengadaan obat publiknya. Untuk sektor swasta, datanya masih memprihatinkan karena hanya sekitar 13% negara saja yang mengutamakan obat esensial.

“Ada beberapa faktor penghambat seperti geografis, distribusi, jaminan ketersediaan, jaminan mutu obat hingga komitmen penyelenggara pelayanan,”urai Suryawati.
Dalam upaya meningkatkan mutu penggunaan obat menurut Suryawati masyarakat perlu bersikap kritis. Disamping itu, diperlukan juga kearifan untuk tidak serta menyalahkan penyedia pelayanan kesehatan yang menggunakan obat secara kurang tepat. Menurut Suryawati setidaknya ada tiga aspek yang perlu dicermati untuk meningkatkan mutu penggunaan obat, yaitu aspek penyedia pelayanan, aspek pasien, dan aspek lingkungan kerja.

“Tanpa memahami faktor tersebut agak sulit bagi kita untuk melakukan perbaikan secara tepat sasaran, nyaman bagi target, dan dalam suasana yang menyenangkan,”tutur perempuan kelahiran Yogyakarta, 27 Mei 1955 itu.

Suryawati memaparkan tiga model upaya perbaikan mutu penggunaan obat yang dikembangkan di Indonesia dan menarik perhatian dunia, diadopsi banyak negara dan digunakan dalam program nasional mereka. Ketiga model tersebut, yaitu CBIA (Cara Belajar Ibu Aktif), IGD (Interactional Group Discussion) dan MTP (Monitoring-Training-Planning).

CBIA adalah model edukasi pemberdayaan masyarakat agar lebih terampil memilih obat sehingga swamedikasi menjadi lebih efektif, aman, dan hemat biaya. IGD adalah model edukasi dengan memanfaatkan diskusi interaktif antara penyedia pelayanan kesehatan dan masyarakat untuk menghindarkan penyuntikan yang tidak diperlukan. Sedangkan MTP adalah model edukasi berbasis pemecahan masalah, sebagai instrumen untuk meningkatkan mutu penggunaan obat di rumah sakit.

“Ketiga model ini sarat dengan nilai dan konsep budaya Indonesia. Respon masyarakat dunia sangat baik terhadap ketiga model tersebut menunjukkan bahwa kearifan budaya Indonesia merupakan modal kuat untuk ‘go internasional’,”kata Suryawati.

Melalui model pendekatan tersebut Suryawati berharap agar konsep-konsep kearifan budaya Indonesia perlu diperhatikan dan dilestarikan. Jangan sampai kita pergi ke luar negeri untuk mempelajari budaya Indonesia dan kemudian mengimpornya ke Indonesia. Suryawati mencontohkan jangan sampai mahasiswa Indonesia kuliah di luar negeri untuk belajar The Gunungkidul Experience.

“Asal kita mampu meramu dalam format yang logis masyarakat global sangat besar untuk belajar dan mengadopsi metode yang kita kembangkan. Indonesia pantas jadi sumber belajar dunia,”pungkas Suryawati (Humas UGM/Satria AN) 



Sumber: http://www.ugm.ac.id/

Saturday, March 17, 2012

Mengenal lebih dekat Gangguan Kandung Empedu

Penyakit kandung empedu menjadi favorit karena kebetulan mengenai tokoh nasional. Proses penanganannya juga berjalan lancar melalui operasi yang berlangsung hanya 1 jam. Satu hari setelah operasi beliau sudah bisa turun dari tempat tidur dan jalan-jalan.

Gejala utama peradangan empedu termasuk batu kandung empedu adalah nyeri perut. Nyeri perut sendiri adalah suatu keadaan yang sering ditemukan dan mengantarkan pasien datang ke RS baik di poliklinik maupun gawat darurat RS. Pasien yang datang ke Poliklinik penyakit dalam 30 % karena nyeri perut dan 50-60 % yang datang ke konsultan penyakit lambung dan pencernaan. Nyeri perut yang terjadi bisa tiba-tiba atau kronis. Nyeri perut berhubungan dengan organ yang terkena yang menimbulkan nyeri perut tersebut. Nyeri perut di ulu hati tidak selalu berasal dari lambung atau maag, bisa berasal dari pancreas, kandung empedu, liver atau usus dua belas jari. Bahkan nyeri perut di ulu hati juga bisa berhubungan dengan serangan jantung dalam hal ini serangan jantung bagian bawah (infark miokard inferior).

Nyeri ulu hati karena masalah kandung empedu terjadi karena adanya peradangan pada kandung empedu baik berlangsung akut maupun kronis. Nyeri ulu hari karena masalah di kandung empedu bisa juga terjadi karena adanya batu pada kandung empedu. Jika dianalisa lebih lanjut batu kandung empedu terdiri dari batu kolesterol dan batu pigmen.

Nyeri karena adanya batu kandung empedu berlangsung beberapa saat dan berulang (kolik bilier), biasanya nyeri tersebut dapat menjalar ke punggung belakang. Untuk mengetahui penyebab dari nyeri ulu hati tersebut perlu dilakukan USG abdomen.

Melalui pemeriksaan USG abdomen dapat diketahui apakah ada peradangan baik akut maupun kronis pada kandung empedu tersebut. Selain itu melalui pemeriksaan USG juga diidentifikasi adanya batu pada kandung empedu. Pemeriksaan USG abdomen juga dapat mengevaluasi saluran empedu, bisa mengidentifikasi adanya pelebaran saluran empedu.

Sumbatan bisa terjadi jika batu yang ada di kandung empedu menyumbat pada saluran empedu tersebut. Data yang ada pada kami 20 % pasien dengan keluhan nyeri ulu hati atau nyeri perut disebabkan karena gangguan pada kandung empedunya baik berupa batu di kandung empedu atau peradangan pada kandung empedu itu sendiri. Kalau dilihat dari umur 20 % kasus yang mengalami gangguan pada kandung empedu tersebut lebih dari 80 % berumur diatas 40 tahun dan tidak ada yang berumur dibawah 30 tahun.

Peradangan pada kandung empedu (kholesistitis) yang berlangsung tiba-tiba atau akut, bisa ringan dan bisa berat. Pada kondisi yang berat, infeksi bisa saja selain mengenai kandung empedu juga bisa mengenai pancreas. Bahkan bisa terjadi infeksi luas dan sistemik yang dapat membahayakan jiwa.

Pasien dengan peradangan kandung empedu akut perlu dirawat di RS dan perlu mendapat antibiotika sistemik. Kandung empedu yang bermasalah apalagi ada batu didalamnya biasanya memang kandung empedu tersebut harus diangkat (kolesistektomi). Pada kondisi yang ringan dan dengan batu kandung empedu tanpa keluhan sama sekali, biasanya tidak perlu diatasi dengan operasi. Pengobatan pada batu kandung empedu yang tunggal dan kecil (diameter kurang dari 1,5 cm) cukup dengan diet dan obat-obatan. Obat-obatan yang diberikan yaitu obat yang bekerja melarutkan batu kolesterol yaitu ursodeoxycholic acid (UDCA). Obat ini biasanya diberikan selama 3 bulan.

Pada kasus yang memang memerlukan oeprasi, saat ini sebagian besar RS juga telah menerapkan tehnik laparaskopi untuk pengangkatan kandung empedu tersebut, Melalui tehnik ini masa rawat manjadi pendek, komplikasi paska operasi menjadi minimal.
Kenapa seseorang bisa terkena batu empedu.

Wanita lebih banyak pada laki-laki, semakin tinggi umur semakin tinggi terkena batu kandung empedu ini, pada pasien diatas 40 tahun akan lebih berisiko untuk terjadinya batu kandung empedu. Di Amerika 25 % wanita berumur 60 tahun mengalami batu empedu dan setelah diatas 75 tahun hampir 50 % mengalami batu empedu. Resiko lain untuk terjadinya batu kandung empedu antara lain obesitas, diabetes mellitus, pasien dengan sindrom metabolik yaitu dengan obesitas, kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) yang rendah, trigliserida yang tinggi, tekanan darah yang tinggi, dan juga dengan gula darah yang tinggi, riwayat keluarga dengan kandung empedu, diet tinggi lemak dan tinggi kolesterol dan rendah serat dan yang menarik juga ternyata penurunan berat badan yang mendadak juga bisa menyebabkan terbentuknya batu kandung empedu.

Bagi pasien yang sudah dioperasi kandung empedunya juga tetap harus menjaga makannya karena bisa saja terbentuknya pasir dan batu pada saluran empedunya walau kandung empedunya sudah diangkat.
Salam sehat,

Dr. Ari Fahrial Syam / STAF DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM FKUI-RSCM

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/03/17/apa-dan-bagaimana-batu-kandung-empedu/