Tuesday, March 24, 2020

Pidato HB X

“Pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X”:

“COBAAN GUSTI ALLAH” 

Assalammualaikum wr. wb.

Semoga kedamaian, keberkahan, dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyertai kita semua, 

Para warga Yogyakarta, juga anak-anakku yang sedang belajar di rumah,

Saudara-saudaraku semuanya,

SAYA, Hamengku Buwono, pada hari-hari ini yang sarat akan ketidakpastian, yang digambarkan oleh Pujangga Wekasan, Ranggawarsito, dalam Serat Kalatidha, suasana tidha-tidha yang sulit diramal, penuh rasa was-was, saya mohon para warga agar bersama-sama memanjatkan doa ke haribaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, agar kita diberi petunjuk di jalan lurus-Nya, kembali pada ketenteraman lahir dan batin.

Di masa tanggap darurat bencana virus corona ini, kita harus menghadapinya dengan sikap sabar-tawakal, tulus-ikhlas, pasrah lahir-batin, disertai ikhtiar yang berkelanjutan. Sama seperti juga bagi saya, yang berkewajiban menjadi pamong praja beserta pamomong rakyat Yogyakarta, harus berpegang teguh pada ajaran Jawa: “Wong sabar rejekine jembar, Ngalah urip luwih berkah”.

Suasana dualistis ini ibarat mata uang logam, di balik “bahaya” ada “peluang”, bagaikan pedang bermata dua, bisa untuk “membunuh musibah” atau “bertahan hidup”. Islam mengajarkan, di balik cobaan hari ini selalu ada berkah yang datang kemudian. Kemudahan memang tampak enak, dan bisa membuat orang terlena. Di mana seorang pengemudi mobil mengantuk? Bukan di jalan sulit dan sempit, tetapi di jalan raya yang mulus. Pepatah Jawa mengatakan: “kêsandhung ing râtâ, kêbêntus ing tawang”.

Saudara-saudaraku Warga Yogya semuanya, 
BERBEDA dengan bencana gempa tahun 2006 yang kasat-mata. Sekarang ini, virus corona itu jika memasuki badan, tidak bisa kita rasakan, dan menyerangnya pun tak terduga-duga. Menghadapi hal itu, kita selayaknya bisa menjaga kesehatan, laku prihatin, dan juga wajib menjalankan aturan baku dari sumber resmi yang terpercaya. Saya yakin, karena rakyat Yogyakarta memiliki kadar literasi yang tinggi, tentu bisa membedakan mana yang berita hoax serta mana-mana yang benar dan nalar. Pepatah Jawa kembali mengatakan: “Gusti paring dalan kanggo uwong sing gelem ndalan”.

Karena itu, strategi mitigasi bencana non-alam ini, DIY belum menerapkan “lockdown”. Melainkan “calm-down” untuk menenangkan batin dan menguatkan kepercayaan diri, agar eling lan waspada. Eling atas Sang Maha Pencipta dengan laku spiritual: “lampah” ratri, zikir malam, mohon pengampunan dan pengayoman-Nya. 

Waspada, melalui kebijakan “slow-down”, sedapat mungkin memperlambat merebaknya pandemi penyakit corona, dengan cara reresik diri dan lingkungannya sendiri-sendiri. Kalau merasa kurang sehat harus memiliki kesadaran dan menerima kalau wajib “mengisolasi diri” pribadi selama 14 hari sama dengan masa inkubasi penyakitnya. Jaga diri. Jaga keluarga. Jaga persaudaraan. Jaga masyarakat, dengan memberi jarak aman, dan sedapat mungkin menghindari keramaian jika memang tidak mendesak betul. Bisa jadi kita merasa sehat, tapi sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa kita benar-benar sehat. Malah bisa jadi kita yang membawa bibit penyakit. Karena itu saya mengingatkan pada pepatah Jawa lagi: “Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan”. Pesan saya singkat: ”Waspadalah dan berhati-hatilah Saudara-saudaraku!”

Doaku buat seluruh warga: “Sehat, sehat, sehat!”. Semoga Gusti Allah berkenan meridhai-Nya. Aamiin. 

Terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, 
Senin Pon, 23 Maret 2020, 28 Rejeb taun Wawu 1953

HAMENGKU BUWONO X

Sunday, March 22, 2020

Benarkah Tuduhan Cina dan Rusia?

BENARKAH TUDUHAN CHINA & RUSIA KALAU CORONA BERASAL DARI AMERIKA ?

Virus itu diciptakan oleh AS. “ Katanya.

“ Kamu sedang berteori? Kataku tersenyum. Saya termasuk orang tidak pernah percaya dengan teori konspirasi. Namun saya percaya politik penuh dengan konspirasi. Sebuah cara persekongkolan sekelompok orang dalam merencanakan sebuah kejahatan yang dilakukan dengan rapi dan sangat dirahasiakan.

“ Saya mencoba melakukan desk research terhadap COVID 19 ini. Sekedar untuk mengetahui darimana asalnya dan mengapa bisa muncul, dan akhirnya menjadi berita heboh yang mencekam.”

“Wow hebat kamu.”

“ Dalam dunia yang serba terbuka saat sekarang ini, adalah konyol kalau kita bergantung dengan berita media utama..”

“ Ok lah Apa yang kamu ketahui ? Aku mau dengar”

“ Yang pasti Virus itu bukan berasal dari China.”

“ Jadi, dari mana?

“ Satu satunya Lab yang punya sample Virus hidup dengan lima jenis GEN adalah Bio-Lab militer AS di Fort Detrick, Maryland. Itu sangat mungkin tercipta virus baru. Sementara Lab Wuhan di China hanya punya satu sample jenis virus, yang tak mungkin bisa melahirkan varietas virus baru. “

“ Ok. Bagimana kamu bisa simpulkan itu ? Kata saya mengerutkan kening.

“ Itu yang ngomong ahli epidemiologi dan farmakologis Jepang dan Taiwan. Mereka bilang coronavirus baru berasal di AS. “

“ Gimana mereka sampai ngomong seperti itu?

“ Itu berdasarkan fakta. Pada agustus 2019, dokter dari Taiwan mencatat. Ada pasien di AS menderita pusing dan sesak napas. Dia menulis laporan kepada kepada pejabat AS. Bahwa penyebab kematian pasien itu diduga karena virus corona. Tetapi peringatan itu diabaikan oleh pejabat Amerika. “

“ Terus…”

“ Pada bulan September 2019, Warga Jepang di Hawai terinfeksi virus corona. Padahal dia belum pernah ke China. Artinya infeksi ini terjadi di AS jauh sebelum terjadi wabah di Wuhan. Berdasarkan data agustus 2019, kematian pasien akibat virus itu sekitar 10 ribu orang di 22 negara bagian AS. “

“ Loh katanya yang saya baca dari media massa itu flue Amerika yang menyerang perokok Vaping”

“ Itu ulah propaganda dari konglomerasi Pabrik Rokok. Mereka gunakan tangan American Medical Association untuk membunuh bisnis Vaping, dengan mengatakan bahwa penyebab kematian adalah aktifitas vaping dari rokok elektrik. Sehingga bisnis rokok konvensional tetap primodana.”

“ Yang aku tahu dari media massa, kan sebelum peristiwa kematian pasien itu, CDC , Centers for Disease Control and Prevention telah menghentikan bio-lab Militer AS di Fort Detrick, Maryland, karena tidak adanya perlindungan terhadap kebocoran patogen.” Kataku mencoba membantah hubungan Bio Lab dengan keberadaan virus itu.

“ Nah itu semakin memperkuat teori. Bisa jadi memang CDC sudah mengetahui terjadi kebocoran Lab itu. Makanya mereka tutup. Untuk cuci tangan.”

“ Ok lah. Tetapi aku masih belum bisa menerima teori kamu itu”

“ Selanjutnya, kamu perhatikan. Pada bulan oktober 2019, di media massa China, ada berita tentang Pertandingan militer dunia atau the World Military Games. Lima atlit dari 200 atlit AS yang ikut dalam WMG dirawat di Ruma sakit di Wuhan.”

“ Apa penyakitnya?

“ Terinfeksi virus. Tapi apa jenis virusnya, waktu itu belum diketahui kepastiannya. Event ini berakhir, tepat 2 minggu sebelum kasus Wuhan merebak. Atau tepatnya awal november 2019. Nah anehnya, pada waktu event WMG digelar, juga berlangsung event 201 di John Hopkins Center for Health Security di kampus Institut John Hopkins yang terletak di Baltimore, Maryland AS. Ajang 201 tersebut disokong penuh oleh Bill and Melinda Gates Foundation, Big Pharma (GAVI) dan nggak ketinggalan World Economic Forum (WEF). Pada acara itu, diadakan simulasi latihan pandemi tingkat tinggi yang diberi kode nCov-2019. Simulasi tersebut menghasilkan 65 juta total kematian di seluruh dunia dan membuat pasar keuangan internasional ambles sekitar 15%.”

“ Sedikit paham. Tapi belum bisa masuk ke nalar saya”

“ OK. Dari media massa saya membaca artikel yang ditulis oleh Daniel Lucey, seorang ahli penyakit menular di Universitas Georgetown di Washington. Ia mengatakan dalam sebuah artikel di majalah Science bahwa manusia terinfeksi pertama kali bukan di Wuhan tetapi tempat lain. Tetapi ada juga yang bilang pada pada tanggal 18 september. Yang pasti bukan berasal dari pasar seafood di Wuhan. “

“ Terus…” Saya mulai penasaran.

“ Makalah dari Daniel Lucey itu diperkuat oleh peneliti China dari China academy science. Dalam artikelnya menyampaikan rincian tentang 41 pasien pertama yang dirawat di rumah sakit. Mereka positip terinfeksi apa yang disebut dengan novel coronavirus 2019 (2019-nCoV). Pertama kali, pasien jatuh sakit pada 1 Desember 2019 dan tidak memiliki hubungan dengan pasar seafood. Data mereka juga menunjukkan bahwa, secara total, 13 dari 41 kasus tidak pernah ke pasar seafood.”

“ Apa artinya?

“ Walau sebagian besar memang punya catatan pergi ke pasar Seafood, tetapi itu menunjukan penyebaran virus terjadi sebelum desember. Pastinya bulan november 2019 atau lebih awal.”

“ Masih belum memuaskan teori kamu” Kata saya.

“ Nih ada lagi laporan dari Kristian Andersen ahli biologi evolusi di Scripps Research Institute yang telah menganalisis urutan 2019-nCoV untuk mencoba memperjelas asal muasal virus corona. Dia mengatakan skenario yang masuk akal adalah orang yang terinfeksi membawa virus ke pasar seafood. Jelas ya. Jangan dibalik. Bukan seafood sebagai penyebar tetapi manusia. Menurut artikel Science, pada 25 januari 2020, Andersen memposting di situs web penelitian virologi tentang analisisnya terhadap 27 genom 2019-nCoV. Dia menyimpulkan kelahiran Covid 2019 itu pada tanggal 1 Oktober 2019. "

“ Kalau dilihat dari urutan acara World Military Games pada tanggal 18-27 Oktober, bisa jadi memang Covid 2019 itu sudah ada pada lima pasien lima atlit AS. Dari sanalah awal penyebaran. Pasien nol Covid 2019 itu adalah kelima pasien asal AS itu di China. Setelah itu ada hari raya imlek di China. Di mana terjadi eksodus besar besaran orang kota ke desa untuk merayakan imlek di kampung halamannya. Kerumunan orang banyak tak bisa dihindari. Intelijen China cepat mengatahui akan serangan Covid 2019 itu. China tidak mau ambil resiko terjadi penyebaran virus corona meluas. Apalagi di saat musim dingin. Dengan cepat pemerintah China lockdown kota Wuhan.” Kataku.

“ Cobalah bayangkan. Andaikan China terlambat mengantisipasi itu, diperkirakan 16 juta orang mati di Wuhan. Itu lebih dahsyat dari bomb Atom Nagasaki Hirosima. Yang akhirnya memaksa Jepang takluk dalam perang dunia kedua. Kemungkinan kalau China gagal dalam perang melawan Covid 2019, China akan bernasip sama dengan Jepang. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Justru dengan adanya wabah ini, dunia tahu siapa itu AS dan siapa itu China. Kini kebenaran menemukan jalannya sendiri“ Katanya.

“ Bagaimana dengan Virus yang menyerang Iran dan Italia?

“ Hasil penelitian membuktikan bahwa varietas genom virus di Iran dan Italia, setelah diurutkan, ternyata tidak memiliki kesamaan dari varietas yang menginfeksi China. Artinya itu berasal dari tempat lain. Nah ini menyimpulkan bahwa penyebaran virus di luar China bukan berasal dari China. Ini semakin membuktikan bahwa Virus Covide 19 itu memang di create oleh manusia melalui rekayasa di Lab. Itu hanya mungkin AS. Karena hanya AS satu satunya negara yang punya varietas lengkap virus untuk menciptakan satu varietas baru.”

“ Tapi berita media massa sangat bias “ Kataku.

“ Memang benar. Bukan hanya Covid 2019, MERS awalnya diyakini berasal dari seorang pasien di Arab Saudi pada Juni 2012, tetapi kemudian riset membuktikan MERS itu berasal dari Yordania kali pertama terkena virus pada bulan april tahun yang sama. Artinya kan bukan dari Arab tetapi dari Yordan. Jadi kita harus hati hati membaca berita resmi. Bahwa media Barat selalu begitu bersemangat untuk memberitakan seperti kasus SARS, MERS, dan ZIKA, yang semuanya terbukti salah. Sama halnya, media Barat membanjiri berita berbulan-bulan tentang virus COVID-19 yang berasal dari pasar makanan laut Wuhan, yang disebabkan oleh orang yang makan kelelawar dan hewan liar. Semua ini terbukti salah.”

" Wah dengan informasi itu, apa yang dapat kamu sikapi?

" Ini bagian dari rangkaian perang dagang. Sejarah perang dunia kedua berawal dari perang dagang juga. Saling embargo satu sama lain. Akhirnya perang phisik tak terelakan. Kini mungkin orang engga mau lagi perang phisik. Karena ongkosnya mahal. Tetapi dengan sains, orang bisa membunuh banyak orang tanpa ada kerusakan. Ya menggunakan virus atau bakter."

“ Kalau benar AS yang menciptakan, mengapa Virus itu juga menyerang sekutu AS seperti Eropa, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Singapore, Arab dan lain lain, termasuk Indonesia?

“ AS meliat fenomena perang dagang dimana para sekutunya tidak sepenuhnya mendukungnya menghadapi China. Misal, kedekatan Arab dengan China dalam proyek jalur sutera, belum lagi bantuan China kepada Italia dalam menyelesaikan krisis gagal bayar utang, investasi korea dan jepang yang sangat besar di China, Indonesia dalam kasus laut China selatan yang terkesan tidak berpihak kepada AS. Iran, yang semakin garang dengan AS, dan ancaman bagi agenda AS memecah belas Irak. Semua ada alasan yang mudah ditebak dan ditelusuri.”

“ Untuk apa ?

“ Untuk apa ? bagi masyarakat modern, kematian akibat wabah itu jaun lebih menakutkan daripada perang phisik. Apalagi dalam sistem demokrasi, kepanikan sangat rentan menciptakan chaos sosial. Dalam pasar serba terbuka, kepanikan sangat mudah menciptakan chaos market. Lihatlah fakta sekarang. Semua bursa berjatuhan mengancam mata uang dan index. Setiap kepala negara harus secepat mungkin mengatasi wabah itu atau mereka jatuh.”

“ Loh AS juga terancam kepanikan akibat virus corona?

“ Itu juga bagian dari rangkaian elite AS memaksa publik AS menerima strategi AS dalam memenangkan perang semesta lewat ekonomi dan tekhnologi. Ingat engga kasus Pear Harbour dulu, yang seakan sengaja membiarkan penerbang termpur Jepang masuk wilayah AS untuk menghabisis pangkalan perang AS di Hawai. Dari situlah legitimasi politik tercipta agar AS masuk dalam perang dunia ketiga.” Katanya berteori.

“ OK lah, kan sudah terbukti agenda AS menghancurkan China gagal, terus gimana dengan sekutunya. Kan mereka tidak sekuat Cina menghadapi wabah virus corona?

“ AS punya solusi di tengah kepanikan itu.”

“ Apa itu?

“ Tergantung sekutu AS. Apakah mereka masih commit dengan Konsesus Washington paska jatuhnya Lehman tahun 2008. Kalau commit, masalah virus corona ini akan selesai cepat. Setelah itu, situasi akan di bawah kendali AS untuk memenangkan perang dengan China dan menguasai dunia”

“ Oh i see. Saya bisa mengerti tapi sulit bisa menerima kalau benar itu bagian dari agenda AS. Terlalu mahal ongkosnya bagi kemanusiaan “

“ Politik mana pernah berpikir tentang korban kemanusiaan” katanya cepat.

Saya termenung. Semoga dunia baik baik saja. Diatas kehendak manusia ingin menciptakan kerusakan di muka bumi ini, ada Tuhan yang pasti akan menjaganya. Apapun itu, manusia sedang melewati takdirnya. Pada akhirnya kita sedang memasuki phase besar, untuk menerima pesan cinta Tuhan. Bahwa kebenaran itu akan mencari jalannya walau prosesnya memang pahit.

Sumber-sumber catatan 

https://mp.weixin.qq.com/s/CjGWaaDSKTyjWRMyQyGXUA

https://www.sciencemag.org/news/2020/01/wuhan-seafood-market-may-not-be-source-novel-virus-spreading-globally

http://wjw.wuhan.gov.cn/front/web/showDetail/2020011109036

http://wjw.wuhan.gov.cn/front/web/showDetail/2020011509040

https://sciencespeaksblog.org/2020/01/25/wuhan-coronavirus-2019-ncov-qa-6-an-evidence-based-hypothesis

http://virological.org/t/clock-and-tmrca-based-on-27-genomes/347

http://applications.emro.who.int/emhj/v19/Supp1/EMHJ_2013_19_Supp1_S12_S18.pdf

https://beritadunia.net/featured/pakar-biologi-rusia-virus-corona-adalah-senjata-biologi-amerika

https://www.viva.co.id/berita/dunia/1203786-eks-agen-cia-bongkar-misteri-konspirasi-as-dan-israel-ciptakan-corona

Erizeli Bandaro

Saturday, March 21, 2020

Tuhan Persona Non Grata

TUHAN PERSONA NON GRATA
(Corona, 😎

Emha Ainun Nadjib

Kenapa diperlukan health-distance, jarak kesehatan, atau healthy-distance, jarak sehat, antar orang sekitar 2 (dua meter) dalam persinggungan sosial di manapun dan kapanpun selama dibutuhkan tindakan preventif atas Coronavirus di seluruh muka bumi? Kenapa jangan kumpul-kumpul untuk keperluan apapun, jangan Maiyahan di lapangan seperti biasanya, bahkan jangan shalat berjamaah apalagi dengan shaf rapat?

Karena Covid-19 itu bersifat “min haitsu la yahtasib”, tidak bisa diduga, apalagi diperhitungkan sedang melayang-layang di sekitarmu atau tidak. Tuhan menginformasikan “barangsiapa fokus mengabdi kepada-Ku, atau siapa bertaqwa kepada-Ku, Aku kasih rezeki yang tak terduga. Tak terduga atau tak bisa diperhitungkan oleh pengetahuan dan ilmu manusia wujudnya apa, seberapa besar, datangnya dari mana, dan dengan cara apa. Tuhan menyatakan itu tidak kepada pohon bambu, daun kangkung, kambing atau anjing, melainkan kepada manusia. Dan karena manusia bukan makhluk sebagaimana alam dan hewan, maka pernyataan Tuhan tadi bisa ia simulasikan, misalnya: “Barangsiapa fokus hidupnya tidak kepada-Ku, barang siapa bertaqwa kepada yang selain Aku, maka kusiapkan adzab (lawan maknanya rezeki) “min haitsu la yahtasib” juga.

Coronavirus sedang merasuki siapa, sedang diangkut oleh siapa, di mana, kapan, tak ada manusia yang tahu. Menteri Kesehatan Negara pelopor kemajuan modern bisa ternyata dihinggapi. Wakil Perdana Menteri Negara Islam pun tidak lantas merdeka dari hukum “min haitsu la yahtasib”. Boleh selebritis, boleh orang populer sedunia, boleh bintang film internasional, boleh Walikota taat ibadah, siapapun saja, tidak merdeka dari aturan langit “min haitsu la yahtasib”.

Peradaban ummat manusia abad 21 tidak sempat menerapkan peribahasa klasik “sedia payung sebelum hujan”. Andaikan ada alat genggam yang bisa akurat mendeteksi di sekitar kita ada virus Corona atau tidak — maka kita tinggal bawa ke mana-mana. Kalau jelas suatu area bebas Corona, maka kita tetap bisa Maiyahan.

Bangsa Italia yang memang budayanya “mblunat”, “cuwawakan”, sembrono sehari-harinya, bahkan merupakan eksportir utama “Gentho-gentho” dan “preman-preman” yang kemudian dikenal sebagai Mafia — mengalami kedahsyatan “min haitsu la yahtasib” lebih parah dari Negara produsen Covid-19. Saya pernah hampir berantem dengan beberapa lelaki di suatu lokasi pariwisata Italia, karena mulut mereka begitu ekspresif seperti mengajak berkelahi — ternyata itu hanya tradisi mulut budaya mereka — kami kemudian malah berteman akrab, bahkan saya tinggali Peci Maiyah pada malam pemakaman Paus Johannes Paulus II.

Saya pernah juga datang ke Pompeii, lokasi salah satu bencana terbesar Eropa, yakni letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Banyak sekali lelaki perempuan sedang tidur berdua, atau lelaki dengan lelaki, mendadak menjadi seperti patung batu, saking dahsyat dan mendadaknya letusan gunung itu. Gunung Vesuvius memuntahkan awan tefra dan gas mematikan hingga ketinggian 33 kilometer (21 mil), menyemburkan batuan cair, batu apung hancur, dan debu panas dengan laju 1,5 juta ton per detik, yang akhirnya melepaskan energi termal 100.000 kali pengeboman Hiroshima-Nagasaki. Beberapa permukiman Romawi lenyap dan terkubur di bawah semburan piroklastik dan timbunan abu gunung berapi masif, yang paling terkenal adalah Pompeii dan Herculaneum.

Saya tidak menuduh atau memastikan bahwa apa yang dialami masyarakat Italia itu merupakan adzab Allah mirip dengan zaman Sodom & Gomorah Nabi Luth. Tetapi memang sebab-akibat perbuatan manusia dengan hukuman Tuhan terakhir yang kita ketahui dan percayai adalah ketika Tuhan sendiri yang menginformasikan. Yakni ketika Tuhan mempersemayamkan Kakek Adam dan Nenek Hawa di Sorga, kemudian diwanti-wanti “wala taqroba hadzihis syajarota fatakuna minadh-dholimin”. Jangan dekati pohon itu (apalagi memanjat dan memetik buahnya), supaya tidak menjadi orang dhalim.

Tidak ada argumentasi ilmiah apapun kenapa kalau mendekati pohon itu lantas menjadi orang dhalim. Satu-satunya alasan hanyalah bahwa “kalau Allah melarang ya jangan dilakukan”. Tidak ada argumentasi kesehatan, misalnya apakah Pohon itulah asal-usul segala virus yang menabur di bumi. Yang ada hanya hak mutlak Allah, karena Ia yang menciptakan pohon itu maupun Adam. Jangan tanya kepada seorang pelukis kenapa ia memilih guratan itu dikasih warna hijau atau merah, atau faktor-faktor lain dalam lukisan itu. Pelukis saja kita izinkan punya hak absolut dalam menentukan segala faktor dan unsur dalam lukisannya. Kenapa kepada Allah kita rewel.

Tetapi memang sejak dahulu kala hingga hari ini manusia punya kecenderungan besar untuk meremehkan Tuhan. Tuhan “tidak dianggep”. Kena Corona tidak merasa bersalah, tidak lantas berintrospeksi individual maupun kolektif apa sih kesalahan kita — tidak ingat Allah “ala kulli syai`in Qodir”, berkuasa atas segala sesuatu, dari lautan meluap hingga tetesan embun. Tidak ada ajakan wirid, dzikir, mengaji total, atau istighatsah dari NU, MUI maupun Muhammadiyah. Tidak ada pencerahan logical maupun spiritual. Tidak ada introspeksi, muhasabah atau apapun yang didorongkan oleh para pemimpin Agama. Dan kalau kemudian Tuhan memperkenankan seorang pasien Corona sembuh dan pulih, juga tidak ada suasana syukur, tidak ada sujud syukur, tidak ada “slametan” atau bentuk apapun yang mencerminkan ada hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Benar-benar tidak masuk akal: Tuhan kok bukan mainstream perhatiannya manusia. Sukar dipahami bahwa manusia benar-benar makhluk berakal, berlogika dan memiliki cara berpikir.

Tuhan dipersona-non-grata-kan oleh alam pikiran manusia. Tuhan dimarjinalkan, bahkan mungkin ditiadakan oleh lingkup ingatan dan peta akal manusia. Juga tidak cukup terasa bahwa di dalam jiwa bangsa Pancasila ini ada implementasi Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan bukan baris teratas daftar skala prioritas manusia di dunia. Tuhan sangat dilecehkan.

Untung Tuhannya adalah Allah swt, yang karakter utamanya adalah Rahman dan Rahim, bahkan as-Syakur, Maha Bersyukur. Andaikan Tuhannya bukan Allah, yang mengutamakan hak mutlak-Nya untuk berlaku Al-Muntaqim, Maha Membalas, as-Syadid, Maha Menyiksa — bisa jadi korban Coronavirus akan dibiarkan sampai mencapai 30 juta penduduk dunia, sebagaimana Bill Gates pernah memperkirakan. ***

Friday, March 20, 2020

Kenapa harus pusing dengan corona

Well… bisa dibilang saat ini Indonesia sedang menghadapi masa-masa genting. Ada musuh yang tidak terlihat dan belum terlalu kita kenali kemampuannya. Yang jelas, virus ini sudah menyebabkan 8,811 kematian dan menginfeksi 218,827 orang di 152 negara di seluruh dunia (per 19 Maret 2020 pukul 16.00 WIB). Dan pastinya, masih banyak orang yang sebenarnya sudah terinfeksi namun tidak tercatat/terdeteksi.
Saya sengaja membuka tulisan ini dengan kalimat yang ingin meningkatkan kesadaran, bahwa pandemi ini bukan hal yang ringan. Wabah Covid19 yang sudah ditetapkan sebagai kegawatdaruratan bencana nasional bukanlah hal yang bisa disepelekan. Oke, saya akan coba membahas corona virus atau yang disebut dgn Covid19 ini dengan Bahasa yang ringan.

Read more:
https://wp.me/p4uen1-AD

Refleksi Fatwa Corona

-------
Refleksi Fatwa Corona

Oleh: Shohib Khoiri
(Dosen Agama & Etika Islam ITB)

"Saya tak takut Corona, hanya takut Allah". Kalimat ini kelihatannya benar dan menggambarkan keimanan mereka yang tinggi, tapi sebenarnya "sarat akan paham Jabariyyah" dalam kajian Aqidah. Lalu bagaimana dengan keimanan Baginda Nabi yang mengatakan "Larilah engkau dari lepra sebagaimana larinya engkau dari singa" (HR. Bukhari). Apakah mereka lebih tinggi keimanannya dari keimanan Baginda Nabi?.

"Tak mungkin Allah turunkan wabah kepada orang-orang shalih". Kalimat ini tampak seperti benar, tapi ada kerancuan. Kalau diyakini bahwa wabah hanya akan mengenai orang kafir/ahli maksiat, lalu bagaimana dengan Sahabat mulia Muadz bin Jabal yang wafat karena wabah penyakit saat itu?. Apakah keimanan beliau lebih rendah dari keimanan mereka yang mengatakan kalimat di atas?

"Tapi mesjid ini adalah rumah Allah, tak mungkin Allah turunkan wabah di rumah-Nya, maka fatwa para ulama itu keliru". Ini pun tampak manis didengar, tapi bagaimana dengan sabda Baginda: "Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat." (HR. al-Bukhari). Hadits ini bersifat umum, di semua tempat. 

"Tapi tampaknya di wilayah kita aman-aman saja", semoga kalimat ini benar sesuai fakta. Tapi ahli virus mengatakan bahwa Corona adalah wabah dengan sifatnya yang mudah tersebar dengan inkubasi yg cukup panjang, sehingga orang yang terpapar baru akan ketahuan setelah 14 hari-an. 

Fenomena kalimat- kalimat di atas merupakan bentuk bagaimana otoritas keilmuan tak lagi dihargai, baik ilmu agama maupun sains, dan ironisnya hal itu dilakukan dengan "bungkusan agama". Padahal Allah berfirman: "Tanyakanlah kepada ahli ilmu apabila engkau tak mengetahui. 

Tak mungkin para ulama berfatwa tanpa pemahaman agama yang kuat. Mesir, Saudi Arabia, Kuwait, diantara negara-negara yang lebih dahulu mengeluarkan fatwa berkaitan dengan ibadah jumat selama wabah corona berlangsung. Mereka berfatwa dengan ilmu, ratusan hadits mereka hafal. Tak perlu ditanya mengenai hafalan Quran mereka, jangankan ulama, disana orang "biasa" hafal Quran bukan hal "luar biasa". Para ulama sangat paham bagaimana "himayatun nafs" yang merupakan salah satu "maqashid" syariah. Malu kita kalo bandingkan ilmu kita dengan mereka. Jangankan 30 juz, juz 30 saja mungkin kita tak hafal. Jangankan hafal ratusan hadits, hadit "innamal a'malu binniyyat ... " saja mungkin kita tak hafal. Begitu juga dengan para ulama di MUI yang tak diragukan keilmuannya

Atau masih ada yang mengatakan "kita tidak mengikuti ulama, tapi kita mengikuti Quran dan Sunnah". Kalimat ini pun sangat manis, tapi apakah para ulama itu tidak mengikuti Quran dan Sunnah?. Siapa yang lebih paham dengan Quran dan Sunnah? kita ataukah para ulama itu yang jelas sanad keilmuannya? .. 

Para ulama berfatwa berlandaskan pada pengetahuan mendalam mereka terhadap agama setelah mendengarkan ahli virus corona. Maka merendahkan fatwa mereka dapat dimaknai penegasian terhadap otoritas keilmuan agama dan sains sekaligus. 

Perlu diingat, Baginda Nabi pernah bertutur: 
إذا وسد الأمر الی غیر اهله فانتظر الساعة
Jika suatu perkara diserahkan kepada bukan ahlinya, nantikanlah kebinasaan yang akan datang.

عصمنا الله و إیاکم بطاعته ..

Gubernur DIY

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memastikan uji laborium Covid 19 berjalan lancar.

Lebih lanjut Sri Sultan mengungkapkan, cara mengendalikan penyebaran virus ini adalah dengan meningkatkan kesadaran diri, pengendalian rasa takut dan kekawatiran.
Mengedukasi publik sangat penting dilakukan. Dengan begitu tidak akan terjadi hal2 yang tidak diinginkan.

Sumber:
https://youtu.be/Yai8k3ujN6E

Virus Corona Indonesia

Virus Corona Indonesia diprediksi sampai akhir April 2020.

Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) merekomendasikan pembatasan sosial (social distancing) sebagai cara ampuh memutus penularan COVID-19 yang menjadi pandemi global termasuk di Indonesia. Istilah social distancing sendiri sering dipakai di tengah wabah pneumonia jenis baru ini, selain lockdown, tentunya.

Rekomendasi muncul dari para peneliti yakni Nuning Nuraini, Kamal Khairudin, Mochamad Apri, lewat jurnal ilmiah mereka berjudul “Data dan Simulasi COVID-19 dipandang dari Pendekatan Model Matematika”. Penelitian dosen Program Studi Matematika ITB ini menyebut, jika pembatasan sosial serius dilakukan, pandemi COVID-19 di Indonesia bisa berakhir April 2020.