Wednesday, May 8, 2013

FoMO, Fobia Baru Para Pecandu Internet !


Media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter tak dapat dilepaskan dari kehidupan orang-orang masa kini. Apalagi keduanya dianggap sebagai sarana untuk mengetahui tren yang ada atau update kabar dari teman. Namun siapa sangka jika kondisi ini memunculkan fenomena baru yang disebut dengan 'fear of missing out' (FoMO). Apa itu?

Fenomena ini terjadi ketika Anda membuka akun jejaring sosial lalu mengetahui teman-teman Anda tampaknya asyik membahas sesuatu dan Anda merasa sedih atau tertinggal karena tak dapat mengikuti obrolan itu, bahkan tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

Konsep baru ini merujuk pada kekhawatiran orang-orang jika melihat orang lain terlihat lebih bahagia dan merasakan kepuasan yang lebih besar daripada mereka. Keadaan ini biasanya ditandai dengan keinginan untuk tetap terhubung dengan media sosial secara terus-menerus, terutama untuk mengetahui apa yang orang lain lakukan.

Hal ini mendorong tim peneliti dari University of Essex, Inggris untuk menggelar studi pertama tentang fenomena yang baru muncul tiga tahun belakangan atau ketika popularitas media sosial mulai merangkak naik ini dan hasilnya akan dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada bulan Juli 2013.

Menurut ketua tim peneliti, psikolog Dr. Andy Przybylski, FoMO sendiri sebenarnya bukanlah hal baru. "Yang baru adalah peningkatan penggunaan media sosial dan hal itu menawarkan semacam jendela baru untuk melongok ke dalam kehidupan orang lain. Tapi bagi orang yang memiliki kadar FoMO tinggi hal ini bisa menimbulkan masalah karena mereka cenderung selalu mengecek akun media sosialnya untuk melihat apa saja yang dilakukan teman-teman mereka hingga mereka rela mengabaikan aktivitasnya sendiri," katanya.

"Saya kira Facebook itu memang memiliki manfaat tersendiri, tapi persepsi tentang bagaimana kita menggunakan media sosial itu sendiri berubah. Kita tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk iseng membukanya atau mengakses akun lewat ponsel sepanjang waktu. Kita jadi cenderung menggunakannya untuk mengikuti kehidupan orang lain dan fenomena ini belum pernah ada sebelumnya karena kita akan terus mendapatkan notifikasi terkait aktivitas orang lain itu," terang Dr. Przybylski.

Untuk itu, Dr. Przybylski pun menyarankan agar setiap orang belajar untuk mengendalikan penggunaan media sosial, terutama mengurangi frekuensinya menjadi sedang atau biasa-biasa saja. "Jika tidak, fenomena ini akan menciptakan aspek pedang bermata dua dari penggunaan media sosial," tandasnya.

Selain berhasil menciptakan sebuah metode untuk mengukur tinggi-rendahnya kadar FoMO yang dimiliki seseorang, dari studi ini peneliti juga menemukan bahwa orang-orang yang berusia 30 tahun ke bawah terlihat mempunyai kecenderungan paling tinggi mengalami FoMO dibandingkan kelompok usia lainnya.

Lagipula kelompok ini dilaporkan paling sering menganggap media sosial sebagai salah satu hal penting bagi mereka, sehingga mereka lebih bergantung pada sarana ini sebagai bagian dari interaksi sosial, ketimbang mungkin tatap muka langsung.

Studi ini pun menemukan faktor sosial juga memainkan peranan penting di balik munculnya fenomena FoMO ini. Dr Przybylski menyatakan ketika 'kebutuhan psikologis' seseorang tak terpenuhi, ia akan lebih cenderung melampiaskannya melalui media sosial dan FoMO menjembatani kesenjangan tersebut. Itulah sebabnya mengapa sebagian orang cenderung lebih banyak menggunakan media sosial daripada yang lainnya.

Ketika melihat efek FoMO terhadap kehidupan seseorang, tim peneliti juga menemukan bahwa orang yang diketahui mengidap FoMO level tinggi lebih cenderung tergoda untuk SMS-an dan bertukar email ketika berkendara. Tak hanya itu, orang-orang ini juga lebih mudah teralihkan perhatiannya oleh media sosial saat mendengarkan kuliah dan lebih concern terhadap penggunaan media sosial ketimbang aktivitas lainnya.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi orang-orang yang sudah terjebak dalam FoMO ini? "FoMO terjadi ketika kita mengabaikan pengalaman kita rasakan sendiri karena terlanjur terobsesi pada pengalaman orang lain yang tidak kita alami," terang psikolog Arnie Kozak, Ph.D., penulis buku Wild Chickens and Petty Tyrants: 108 Metaphors for Mindfulness tapi tidak terlibat dalam studi ini.

Agar tak terjebak pada kondisi itu, Kozak pun mengingatkan agar setiap orang hanya melihat bagian terbaik dari pengalaman orang lain yang mereka bagikan lewat media sosial. Setelah itu, jangan pernah menganggap kehidupan Anda membosankan karena pengalaman setiap orang tentu berbeda satu sama lain atau merasa ketinggalan jaman.

"Gunakan FoMO Anda sebagai katalis untuk menciptakan target yang realistis. Anda dapat memanfaatkannya sebagai inspirasi," saran Kozak, seperti dikutip dari Emaxhealth, Sabtu (4/5/2013).

Monday, May 6, 2013

Rumah Pohon Suku Korowai



Indonesia memang luar biasa ....!
Terutama provinsi yang satu ini. Tidak hanya terkenal dengan kekayaan flora dan fauna, Papua memiliki suku-suku asli yang memiliki kehidupan menarik dan unik. Salah satunya adalah suku pedalaman asli papua yang hidup dan tinggal di rumah pohon setinggi hingga 50 meter yang dikenal dengan nama Suku Korowai.

Suku Korowai mendiami wilayah Kaibar, Kabupaten Mappi, Papua. Suku Korowai baru ditemukan oleh misionaris Belanda pada tahun 1974. Sebelumnya, mereka benar-benar tidak mengenal orang diluar kelompoknya. Tidak seperti suku lain yang membangun rumah Honai sebagai tempat hunian, mereka justru tinggal di rumah pohon.

Suku Korowai tinggal di rumah pohon setinggi mulai 15 hingga 50 meter. Mereka membangun rumah di atas pohon untuk menghindari binatang buas dan gangguan roh jahat. Suku korowai percaya bahwa, semakin tinggi rumah mereka, semakin jauh dari gangguan roh-roh jahat.

Bahan yang digunakan untuk membuat rumah pohon berasal dari hutan dan rawa di sekitar mereka, seperti kayu, rotan, akar dan ranting pohon. Rumah pohon suku Korowai sangat alamiah. Semua bahan terbuat dari alam, kerangka terbuat dari batang kayu kecil-kecil dan lantainya dilapisi kulit kayu. Dinding dan atapnya menggunakan kulit kayu atau anyaman daun sagu. Untuk mengikat, semua menggunakan tali. Semua proses pembuatan rumah dilakukan dengan menggunakan tangan. Barang logam satu-satunya yang ada adalah parang atau kapak yang biasa mereka gunakan untuk berburu.

Pada tahun 2011, Suku Korowai pernah muncul dalam film dokumentasi BBC Human Planet. Dalam film tersebut, suku Korowai menunjukkan bagaimana mereka membuat rumah pohon. Bahkan salah satu usaha ambisius mereka tunjukkan dengan membangun rumah pohon setinggi 114 meter dalam waktu 2 minggu!






Thursday, April 4, 2013

Muhammad Sobirin, Aktivis FaceBook





Ia alumni TldJOG70. Berdomisili di Yogyakarta. Hobinya membakar sate, bersepeda ria dan facebook-kan. Hampir tiap hari ia memperbaharui statusnya di FaceBook. Ya....boleh dikatakan tiada hari tanpa FaceBook. Ia menjalin pertemanan sangat baik dan luwes, sampai hari ini jumlah temannya telah mencapai 267 orang dan akan terus bertambah....

Inilah salah satu statusnya:

Medan laga perang terdahsyat, terbesar, terlama dan terbrutal dalam sejarah hidup manusia itu medan perang dimana dan kapan? Sebenarnya Anda dan saya tengah berada didalamnya...
Kita harus mati- matian berjuang untuk memenangkan perang (jihad) terbesar ini. Serbuuuu Raidddd Tora tora toraaaaaa.

Suyono Atmowiyono:  Mas Birin , ya di dalam kita sendiri ...

Muhammad Sobirin: Suyono Atmowiyono, ya benar...didalam diri kita masing2. Banyak yg terkapar dan tewas ketika berperang melawan hawa nafsu...

Pakdhe Antok:  Mas Sobirin iku di Medan Perang nek di Jogya Perang opo yooo? Enake perang melawan Sate lan Tongseng Terpedo iso terkapar tenan hoooo

Muhammad Sobirin:  Pakdhe Antok,, sing penting ora pareng kokean mangan terpedo lho...beno enak ro empÛk,heheh sugeng enjang Pakdhe.. 

Salam semangat ya...mas Sob!

Sumber: http://www.facebook.com/muhammad.sobirin.92

Sunday, March 31, 2013

JANGAN KOTORI SEL TUBUH KITA DENGAN MAKANAN RUSAK

 
Menu harian kita sudah salah kaprah. Yang kita makan bukan saja tidak lagi tepat dengan kodrat tubuh, terlebih sudah bersifat racun. Penyimpanan, pengawetan,. penambahan zat kimiawi dalam proses, sehingga tidak bersesuaian lagi dengan kehendak sel tubuh. Yang kita konsumsi sudah tak cocok dengan sel tubuh. Lingkungan kita sudah tak lagi bersesuaian dengan permintaan sel tubuh kita. Untuk itulah perlu kembali melakukan koreksi dalam memilih menu. Kembali ke yang alami, yang membatasi olahan, meniadakan tambahan bahan kimiawi yang laik dimakan sekalipun. Kalau ada zat warna alami kenapa memilih yang kimiawi. Kalau ada madu kenapa memilih gula pasir. Kalau ada ubi rebus kenapa memilih donat. Kalau ada pepes ikan kenapa memilih bistik. Bila koreksi takkunjung kita lakukan, itu alasan kenapa kasus kanker di dunia semakin bertambah banyak. 
Kita semakin sukar mengelak dari serbuan itu semua,ketika kebutuhan bahan makanan yang kita beli sudah tercemar semua, nyaris tidak menyehatkan semua. Sayur yang ditanam di tanah berlimbah. Ikan di laut dan di sungai yang menelan semua limbah rumah sakit, limbah industri, dan limbag dapur juga. Maka kita tak mungkin mengelak darisemua cemaran itu. Lalu yang dapat kita upayakan memilih yang terbaik dari yang buruk itu. Kalau bisa mendapatkan sayur dan buah organik, jangan pilih yang budidaya. Kalau bisa pilih belut dan lele sawah, jangan beli yang budidaya. Kalau ada unggas alami jangan makan ayam broiler.
 Sumber: http://www.facebook.com/handrawan.nadesul

Sunday, March 24, 2013

KENAPA MAKIN BANYAK ORANG KENA KANKER


Pertama-tama sebab faktor yang kita makan salah. Bukan hanya merokok, polusi udara, melainkan menu harian, jajanan, zat tambahan dalam makanan (food additive). 

Sekarang angka kanker usus besar makin banyak, lebih karena pilihan makanan orang sekarang tidak tepat. Maka kembalilah kepada menu harian nenek moyang kita. Nasi sepiring, ikan, tempe, tahu, sayur asam, sayur lodeh, lalapan buah dan sayur mayur. Bukan rutin memilih bistik karena bistik bertentangan dengan kodrat tubuh. Porsi protein (daging) melebihi kebutuhan tubuh, sedang karbonya (kentang) rendah saja. 


Sejatinya tubuh butuh 65 persen karbo (nasi,ubi,kentang,mi, jagung), 15 persen lemak, dan sisanya protein. Bistik kebalikan dari itu, proteinnya yang sebagian besar. Bahwa kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran. Salam sehat.

Sumber: http://www.facebook.com/handrawan.nadesul?ref=ts&fref=ts

Friday, March 22, 2013

SOAL ASAM URAT

Asam urat atau uric acid diproduksi oleh tubuh sebagai bagian dari metabolisme gugus protein bernama purin. Kalau metabolismenya normal, kadar asam urat dalam darah di bawah 7 (wanita 6). Ia akan meninggi kalau produksi meningkat, atau memang bakat metabolismenya terganggu.

Pada mereka yang berbakat urat, menu harian mengandung purin tinggi (udang, ginjal, hati, otak,kerang, jantung, sardin, kaldu, ikan hering, angsa, jerohan) harus dipantang ketat. Juga menu purin sedang (ikan laut lain, jamur, asparagus, bayam, kembang kol, buncis, kacang-kacangan, melinjo, sayuran hijau, serta unggas) perlu dibatasi, dan jangan berlebih menu dengan purin rendah (susu, keju, telur, tempe, oncom). Makan sepotong ati-ampela saja bagi yang berbakat urat sudah bikin kumat. Tidak demikian kalau tidak berbakat.

Bahaya asam urat tinggi sebab di persendian berubah menjadi kristal urat. Jarum lembut yang menusuk menimbulkan radang sendi, sehingga merah, bengkak, dan nyeri. Seringnya di sendi jempol kaki.

Lebih bahaya lagi karena kristal urat tersangkut di ginjal membentuk batu ginjal urat. Karena bersifat kristal, maka serangan batu urat nyeri hebat di pinggang, dan kencing berdarah. Gangguan batu ginjal tensi darah bisa meninggi juga, selain demam, dan nyeri di pinggang.

Pantangan lain bagi yang mengidap urat tinggi, stop minum alkohol, bila kencing manis jangan dibiarkan tinggi sehingga berakibat benda keton (keton bodies) tinggi, dan batasi menu berlemak tinggi. Perbanyak konsumsi karbohidrat selain banyak minum air putih. Waspadai pada masa berpuasa, serangan asam urat acap muncul. Asam urat tinggi yang lama juga berpengaruh pada organ lain.
 Sumber: http://www.facebook.com/handrawan.nadesul

Monday, March 18, 2013

Kesalahan Memperlakukan Lutut




Kasus gangguan lutut banyak menimpa masyarakat kita hanya karena keliru memperlakukan lutut. Kita tahu lutut, selain pinggang yang memikul bobot tubuh. Sementara persendian lutut seiring bertambahnya umur akan berkurang minyak sendi dan rawan sendinya.

Kalau masih sering melakukan kegiatan melompat, meloncat, atau berlari, maka persendian lutut yang sudah tipis rawan sendinya, permukaan kedua bongkol sendi lututnya akan saling bertumbukan. Tumbukan dua bongkol sendi itulah yang memunculkan encok osteoarthitis (OA). Semua atlet memikul risiko terkena OA setelah usia tua.

Sayang kalau kita bukan atlet memikul risiko yang sama hanya karena keliru memperlakukan lutut. Kalau saja kita melindungi persendian lutut sejak muda dengan selalu memakai alas kaki yang empuk, sehingga alas kaki berfungsi sebagai pegas (shock absorbent), tumbukan yang terjadi pada bongkol sendi lutut bisa lebih diredam, sehingga dengan begitu kerusakan sendi tidak harus terjadi. Demikian pula dengan risiko kerusakan persendian pinggang (spondylitis).

Agar tidak sampai terjadi, selain perlu selalu memakai alas kaki empuk, bahkan di rumah sekalipun, terlebih yang berbadan gemuk, hendaknya tidak lagi berlari, jogging, badminton, volley, basket, setelah umur 50-an. Untuk tetap sehat cukup berjalan kaki tergopoh-gopoh (brisk walking).
Foto di bawah menunjukkan kondisi persendian lutut normal (kiri) dan setelah usia lanjut (kanan) yang makin tipis rawan sendinya.


Sumber: http://www.facebook.com/handrawan.nadesul