Sunday, March 10, 2013

Saturday, March 9, 2013

Don’t Worry, Be Happy — The Takeaway



While sex can reduce stress, it may not always be appropriate to heat things up when anxiety rolls in. Luckily, researchers suggest listening to music is an effective way to reduce physiological stress (and doesn’t require taking any clothes off). In one study, college students performed an oral presentation with either Pachaelbel’s Canon or no music in the background. Scientists found those lovely violins helped reduce anxiety, heart rate, and blood pressure in participants who presented with the tunes [2]. Music can also help with a situation that stresses out even the bravest among us: heading to the doctor or dentist [3]. In patients from infants to 20-year-olds, headphones playing certain calming tunes (folk, contemporary, classical, and lullaby) may decrease pain and anxiety during medical procedures [4]. And one study found music can be beneficial for cancer patients undergoing chemotherapy and radiation. Patients showed better moods, lower blood pressure, and lower heart rates when they listened to music or worked with a music therapist [5]. Researchers think music can distract patients from their misery and even increase their ability to tolerate pain [1]. (Mozart makes that cavity filling a piece of cake.)
While the science behind music therapy is relatively new, some experts suggest the brain’s response to music can help ease pain and depression and could even enhance creativity [7] [8]. (Who needs booze?) Slower musical beats can also alter brainwave speed, creating brainwave activity to when we're in a more meditative or hypnotic state. For some people, listening to slow music is also a therapeutic way to reduce stress, headache pain, and even symptoms of PMS [9].
Still stressin’ at night? Classical music may be an effective way to ease into falling asleep, which will hopefully lead to feeling more refreshed in the AM [10]. Not a huge Beethoven fan? Don’t you worry 'bout a thing — just listen to this song instead.

The Tip

Listening to music (especially slower tunes) can alter brain activity, which may lead to a reduction in stress and pain.

Sumber:  http://greatist.com/happiness/unexpected-stress-busting-power-music

Tuesday, March 5, 2013

Desahan itu… Subhanallaaah..

Sri Suryawati mengajar di Kelas Inspirasi Yogya, 20 Feb 2013

Ini adalah cerita di luar skenario.. Bukan cerita tentang kelas-kelas heboh yang sudah terjadual aku datangi untuk berbagi inspirasi..  Bukan tentang sambutan riuh mereka setiap kali aku muncul di pintu kelas mereka dengan bola dunia di pelukan.. Aku memang begitu tenar pagi itu, berkat bola dunia yang kupinjam dari kelas V.. hehehe.. bagai pesulap keliling dengan tongkat ajaibnya..

Selesai sudah jadualku mengajar kelas I sampai V. Kulihat teman-teman Kelas Inspirasi dan para guru duduk santai di luar ruangan, sebagian berfoto ria. Segera kuhampiri mereka. Namun Pak Kawit, Kepala Sekolah yang ganteng itu menghentikan langkahku. “Bu, anak-anak kelas VI minta diajar ibu. Tapi kalau ibu mau istirahat dulu ya ngga papa, biar mereka menunggu”.  Aku terhenyak.  “Apakah mereka masih ada pelajaran?” tanyaku. Ternyata tidak. Kulirik kelas VI, para siswa berdiri di depan kelas dengan tatapan mata ke arah kami. Hatiku bagai hampir rontok dari tangkainya, segera aku minta ijin masuk ke kelas VI.

Sambil berjalan ke kelas VI otakku berputar. Aku tak boleh lagi memprovokasi mereka. Mereka sudah cukup teragitasi oleh teman-temanku yang super heboh. Mereka sudah menulis cita-cita di pohon tinggi. Mereka butuh ketenangan karena sedang mempersiapkan diri untuk ujian akhir. Begitu menginjak ambang kelas, hatiku bulat sudah.. aku akan ngobrol santai saja, calming down, memotivasi untuk belajar secara sistematis, makin rajin beribadah, menjaga kesehatan, dan selalu mohon doa restu orang tua dan guru.

Tanpa terasa limabelas menit berlalu, kalimat-kalimatku sudah mulai mengarah ke pamitan. Tiba-tiba kudengar desahan lembut dari sebelah kiri depan. Kutengok sumber suara, terlihat dua siswi berpandang-pandangan.. Kulanjutkan pamitanku, ehh.. kembali desahan itu mendesir lagi. Kali ini kutanya ada apa.. kedua siswi kembali berpandangan, namun kali ini saling menunjuk.. mata bulat mereka seolah ingin bilang: ibu tanya dia saja.. Hatiku yang tadi sudah hampir rontok kini benar-benar gogrok.. ahhh.. mereka tak mau kutinggalkan.. Ekspresi wajah mereka sendu sekali.. Aku thingak-thinguk.. kamera.. kamera.. mas Wahid.. mbak Dhila.. (mereka adalah relawan fotografer Kelas Inspirasi).. Sepertinya wajahku juga sendu, ada sesuatu yang menitik di sana.. Duuhh.. untung tak ada kamera..

Kubatalkan menyelesaikan kelas, aku duduk kembali mengobrol santai. Ternyata dua siswi yang mendesah itu menyimpan banyak pertanyaan. Mereka ingin belajar bahasa-bahasa resmi dunia. Waktu kuberi contoh ‘terimakasih’ dalam berbagai bahasa, mereka sangat gembira. Juga siswa-siswi yang lain. Ternyata masih banyak yang ingin mereka obrolkan.. beberapa bercerita tentang kejadian-kejadian mengesankan.. Aku kembali terhenyak.. mereka butuh teman berbagi. Kami Kelas Inspirasi datang ke SD Cemoroharjo untuk berbagi. Dan ini kenyataannya: para siswa juga ingin berbagi.. para siswa ingin ngobrol dengan tokoh-tokoh yang mereka kagumi..

Apakah di sekolah lain, siswa kelas VI juga seperti ini? Aku tak tahu. Tapi sangat amat jelas, para siswa kelas VI SD Cemoroharjo ini sangat fokus, cerdas, pandai bertutur kata, dan sangat santun. Salut yang setinggi-tingginya kepada Guru-Guru yang telah berhasil membimbing dan mengarahkan mereka sehingga mempunyai kemampuan intelektual, sikap, dan kepribadian yang begitu membanggakan.

Aku terharu..
Anak-anakku, dengan ijin guru Insya Allah aku akan datang lagi.. kapan saja kalian menginginkannya.. Subhanallaaah.. 

(Sri Suryawati, Kelas Inspirasi Yogya, 20 Feb 2013)

Buku karangannya Sri Suryawati


==========
YangTi Surya,

Keng wayah namung saged matur sekhedik sanget :

YangTi Surya huuuuuuebaaaaat.

Atur sungkem bekti,
TPG HitS
==========
Aaaa...aku melu tre..trenyuh ....maca andarane mbak Prof.Yang Ti.., pancen jempol Eyang....
==========
Mbak Surya ysh...ysb....
Bahwa mbak Surya mengajar di kelas inspirasi itu tentu tepat sekali, dan tentu akan sangat menginspirasi semua murid..... Tapi yg saya lebih hebatkan adalah bahwa mbak Surya ternyata mahir untuk menulis novel lho... Beda style nya dg mas Inu, kalau beliau itu mahir menulis kisah.....he...he...piiiiz mas Inu....
Wassalam Herbud.

==========
Bisa dibayangkan wajah" lugu sekaligus antusias mendengarkan Suryawati di kelas inspirasi.
Dasar gurunya cantik anggun, komunikatif, pinter membesarkan hati anak, pinter merangsang minat anak, sampai" yg seharusnya nggak diajar pun meri , minta diajar....
Nggak salah Kelas Inspirasi memilih Suryawati untuk mengajar....
Selamat Prof DR Suryawati, telah sukses membuka wawasan anak" murid yg masih perlu dirangsang agar semangat untuk mencari ilmu semakin berkobar.
Melu mongkog......

==========
Saya ikut gogrog siang tadi panas2 di lapangan membaca kenangan indah Eyang Uti Surya menautkan hati dengan murid2 ceria di Kelas Inspirasi...gak krasa tiba2 ada sesuatu yang menitik di sana (ini phrasa Eyang Uti yang membuat ku gogrog...). Untung gak enek sing eruh, nang tengah lapangan, aku njur ethok2 klilipen bledug karo thingak-thinguk..he..he..

InsyaAllah inspiring khususnya buat anak murid, juga buat Eyang Uti yang memang piawai nge-MC ta...

Melihat cover buku yang sudah dipraktekkan ke cucu2, nyuwun di-transmisi njih mbak Surya, ( di-snail mail seperti buku2 inspiring yang dulu juga oye punya dong..deh..).

Wassalam,

Sudarmanta

==========
 Aku elu Yang, aku elu. Aku ola gelem ditinggal Yang. Aku aluk dikilimi... Semoga mba Surya tetap sehat dan masih terus bisa berbagi pengalaman. Aamiin.
==========
mbaak....
aku ngiriiii, sampeyan kok biso huebat ngono to yo,
punya aktivitas yang sangat mulia, , bermanfaat bagi sesama, jd ga hanya memberi inspirasi buat anak2 SD itu tp juga buat kami
agar bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat pula.
salam, Naniek SM
==========


Thursday, February 28, 2013

Pengalaman Jadi Guru di Klas Inspiratif


Tgl 20 Feb kemarin saya jadi mengajar di KELAS INSPIRASI SD Salakan Negri 1 di Piyungan Bantul. Teman saya SMA, Prof Edy Martono di SD Sleman dan Prof Suryawati di SD Pakem. Saya jadi Guru SD Sehari dgn poerpoint dan foto2 tentang hidup saya sbg dokter. Untung teman2 saya satu grup mengajar, yg muda-muda, bisa mengadakan Laptop, LCD, dan layarnya. Sigap mrk menyiapkan peralatan itu di SD Salakan Negri 1.

Anak2 SD Klas 6 yg sudah nunggu sejak pagi terkejut melihat saya tampil di depan kelasnya. Mungkin melihat perawakan saya dan penampilan saya yg sangar dan agak menyeramkan. Tapi mereka mendengarkan dgn serius dan tenang karena ada 4 orang guru putri SD itu yg mohon ijin ikut mendengarkan. Walah walah.

Judul pelajaran saya : “MENGAPA SAYA MENJADI DOKTER”. Nah saya katakan tujuan saya menjadi dokter. Lalu metode belajar saya sejak SD, SMP, SMA. Lalu perjuangan saya sekolah di Kedokteran. Setelah lulus lalu menjadi dokter Kepala Puskesmas Ossu, Kab Viqueque, Tmor Timur. Lalu petualangan saya menjadi dokter di daerah darurat oerang di Timtim. Pertempuran ABRI dgn gerilyawan Retilin dipimpin Xanana. Dokter berkuda dgn kotak obat2an dan peralatan medis, diiringi perawat2 putra daerah yg berkuda juga, keluar masuk hutan, naik ke gunung2 mengobati masyarakat terpencil. Mengobati yg kuka2 perang, baik lawan maupun kawan obat dan tindakan medisnya sama.
Selesai tugas di TimTim lalu balik ke Jogja untuk sekolah lagi 5 th menjadi dokter spesialis jiwa. Kemudian gangguan jiwa itu apa dan bagaimana bentuk terapi dan pengobatannya. Kemudian sebagai psikiater menolong korban gempa Bantul yg dahsyat itu. Selama setahun datang ke Puskesmas2 Imogiri Bantul untuk menolong yg sakit fisik maupun sakit jiwa.

Tentu ini sukarela dan tidak mendapat bayaran. Kemudian juga ketika Merapi meletuskan lahar panas dan dingin di akhir 2010 dan awal 2011. Bersama 40 psikiater dan dua ratus perawat mendatangi korban pengungsi di TPS-TPS di Magelang, Sleman Jogja, Klaten dan Boyolali. Memberikan juga sumbangan sembako dan 10.000 bibit pohon. Foto2 dokter berkuda di TimTim, lalu foto2 dokter jiwa dan pasien2 di RSJ Kramat sedang mendapat terapi. Disusul foto2 pertolongan psikologik pertama pada korban gempa Bantul, disusul tindakan dokter dan perawat pada korban2 bencana Merapi yg berjibun ribuan di TPS-TPS.

Hampir 2 jam usai sudah pelajaran saya di Kelas Inspirasi ini ( Ini ide dan programnya Anis Baswedan, Univ Paramadina). Saya tambahi sedikit dengan para pecandu Napza yg harus diobati juga oleh psikiater spt saya. Jenis2 Napza dgn contoh asli yang harus dihindari mereka dan betapa berbahayanya zat2 adiktif itu. Anak2 SD klas VI itu mendengarkan sejak awal sampai akhir dengan agak tegang, mata terbeliak dan hampir2 sukar bernafas. Ya, kehidupan dokter spt saya memang selalu dekat dgn penderitaan manusia, memang agak mengerikan. Menghadapi setiap hari orang yang sakit fisik ataupun mental yg sangat butuh pertolongan. Kehidupan dokter yg kadang membahayakan dirinya sendiri. Kehidupan dokter yg lebih mementingkan menolog sesama daripada bayaran.

Sumpah dokter untuk menghormati setiap hidup insani sejak terjadinya pembuahan. Meringankan penderitaan manusia dan memperpanjang usianya. Sekolah dokter yg amat panjang dan berat. Jiwa menolong yg harus dipupuk sejak anak2 dengan kegiatan Pramuka. Pramuka itu berwatak ksatria. Hemat, cermat dan bersahaja. Selalu siap menolong dan wajib berjasa. Dalam keadaan apapun harus senang. Disini senang, disana senang, di mana2 hatiku senang. Inilah yg kemudian mendasari watak, perilaku dan kehidupan seorang dokter yang baik. Tak ada anak2 yg berani bertanya di dalam kelas. Tapi di luar kelas, sambil foto2an bersama, mereka pada bertanya ini itu. Yang bertanya di dalam kelas malah guru2 putri mereka itu. Walah, hahaha. Tapi semua, baik saya, murid2 SD itu, maupun guru-gurunya, cukup puas dengan pelajaran kehidupan kaum profesional di Kelas Inspirasi itu. twitter@inuwicaksana.

Monday, February 11, 2013

Jadi Guru SD Sehari

Anis Baswedan (Univ Paramadina) telah sukses membuat program "Indonesia Mengajar" dgn mengirim muda-mudi sarjana ke seluruh pelosok tanah air unt menjadi guru kontrak setahun or dua tahun. Anis bikin program lagi, "Kelas Inspirasi" dgn mengajak para profesional berbagai bidang unt menjadi "Guru SD Sehari" relawan di Kelas Inspirasi. Kaum profesional diminta memberikan pengalaman dan perjuangan hidupnya mencapai profesinya, sedikit materi tentang jenis pekerjaannya, apa sumbangannya bagi bangsa dan kemanusiaan. Diharapkan penampilan sehari para profesional bisa membuka wawasan murid2 SD itu, membangkitkan semangat, inspirasi dan motivasi anak2 SD itu.

Pendaftaran secara online ke website Kelas Inspirasi. Saya mndaftar bersama sahabat2 saya eks SMA Teladan Jogya Angkt 70, Prof Dr Edy Martono (Pertanian UGM) dan Prof Dr Suryawati (Farmakologi klinik UGM). Kami bertiga diterima, dan mengikuti briefing persiapan 10 Feb, dan mengajarnya 20 Feb 2013.
Minggu pagi kemarin kami bertiga mengikuti briefing di Pendopo Seno Aji, ringroad selatan Jogya. Dari 372 pendaftar, diterima 80 org pengajar, dan 35 fotografer/videografer.

Selain kami bertiga, diterima pula mantan walikota Jogya, Herry Zudianto. Saya dapat SD Sandakan 1, Jln Wonosari keutara, Prof Edmart dapat SD di Kab Sleman, sdang Yang Ti dapat SD di pelosok Pakem Kaliurang. Brifing membahas metode mengajar, perlengkapan teknis, dn apa yg akan diajarkan. Untuk Kelas Inspirasi tahun kedua ini, dilaksanakan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Pakanbaru dan Jogyakarta.


Inu Wicaksana/Alumni TldJOG70

Lukisan Kuda




Lukisan Kuda memang banyak digandrungi-diminati para pecinta/penikmat seni lukis, terbukti banyak sekali Lukisan Kuda terpajang dikebanyakan rumah, gedung, perkantoran, hotel dan lain-lain. Lukisan Kuda selain menyulap ruangan menjadi indah dan mempesona. Juga Lukisan Kuda memiliki makna yang bagus sekali, karena lukisan tersebut melambangkan Semangat, Perjuangan, Kegigihan, Keberanian dan Kejantanan.  Jadi dengan melihat Lukisan Kuda secara tidak langsung mengingatkan/memberikan kita gairah untuk selalu bangkit mengejar hasrat, harapan atau impian. Ah, semoga saja anda setuju!

Sudjendro/TldJOG70

Sunday, February 10, 2013

Tak seorangpun ingin Menderita


Di dunia ini semua orang ingin hidup bahagia, tidak seorangpun yang ingin hidup menderita. Semua orang ingin hidup bahagia, damai, dan menikmati suka cita. Hanya orang “gila” yang mendambakan penderitaan.


Walaupun secara naluriah orang ingin hidup bahagia, tetapi fakta menunjukkan bahwa penderitaan seringkali tidak dapat dihindarkan. Dan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan dalam hidupnya bisa saja orang berani mengambil risiko bersusah-susah dan menderita.
Penderitaan bukan tujuan tetapi risiko yang harus dihadapi ketika orang ingin hidup bahagia. Dalam hal ini ada ungkapan peribahasa:”Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Semua orang dalam kehidupan ini harus berani mengambil risiko seperti ungkapan “ No game No Risk”. Namun demikian sesuai judul tulisan ini “Semua orang ingin hidup bahagia” dan tidak seorangpun ingin hidup menderita, terkadang kita menolak menghindar atau berbuat apa saja demi menghindari penderitaan.
Memang penderitaan tidak kita cari, tetapi jika karena sebuah prinsip hidup dan kebenaran kita harus hidup menderita ini adalah risiko. Bukan berarti kita mencintai penderitaan, tetapi mau tidak mau kita diajak memaknai hidup ini walau kadang harus ada penderitaan di dalamnya.
Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena penderitaan adalah bagian integral dari hidup manusia, contoh: kalau ada pelajar yang ingin lulus dengan nilai bagus, maka ia harus duduk belajar dan rela menyangkal diri dan mengatakan “tidak” terhadap rintangan dan godaan yang datang dari TV dengan acara tayangan baik yang menjadi favouratenya.
Hanya orang yang berani mengambil risiko yang berhak menatap masadepan. Semoga kita mampu memaknai hidup kita walau seringkali harus hidup menderita, senada dengan ungkapan “Sengsara membawa nikmat”, karena di balik musibah selalu ada hikmah.

Salam Semangat,

Sudjendro/Alumi TldJOG70