HTML
Saturday, June 13, 2020
Friday, June 12, 2020
Thursday, June 11, 2020
Monday, May 25, 2020
BADAI COVID 19
Kita tidak bisa marah dengan mereka yg masih harus keluar rumah utk bekerja karena kebutuhan hidup.
Kita juga tidak bisa iri dengan mereka yg bisa #stayathome dengan NYAMANnya, karena perjuangan tiap orang dalam masa Covid-19 ini tidaklah sama.. Ada yang diberi KELEBIHAN MATERI untuk bisa #dirumahsaja..
Ada juga yang TERSEOK-SEOK dgn segala kesulitan untuk bertahan hidup jika hanya #dirumahsaja..
Yang bisa kita lakukan adalah MENJAGA DIRI masing² sebaik mungkin dan tetap mengikuti anjuran memakai masker, minum Vit, rajin mencuci tangan n menjaga jarak dg orang lain, BUKAN MENJADI HAKIM bagi satu sama lain..
Sadarlah kita berada di BADAI YANG SAMA, tapi TIDAK DIKAPAL YANG SAMA... Biarlah masing² kapal mencari jalan keluar dari badai ini... Berdoa dan berharaplah yang terbaik untuk setiap kapal, tanpa saling menghakimi...
Tetaplah kuat iman dan imun, semangat menjalani hidup....Badai pasti berlalu, tetapi pastikan Allah ada dalam kapal anda dan memegang kendali atas kapal anda. Jangan menyerah 🙏👏
Kita juga tidak bisa iri dengan mereka yg bisa #stayathome dengan NYAMANnya, karena perjuangan tiap orang dalam masa Covid-19 ini tidaklah sama.. Ada yang diberi KELEBIHAN MATERI untuk bisa #dirumahsaja..
Ada juga yang TERSEOK-SEOK dgn segala kesulitan untuk bertahan hidup jika hanya #dirumahsaja..
Yang bisa kita lakukan adalah MENJAGA DIRI masing² sebaik mungkin dan tetap mengikuti anjuran memakai masker, minum Vit, rajin mencuci tangan n menjaga jarak dg orang lain, BUKAN MENJADI HAKIM bagi satu sama lain..
Sadarlah kita berada di BADAI YANG SAMA, tapi TIDAK DIKAPAL YANG SAMA... Biarlah masing² kapal mencari jalan keluar dari badai ini... Berdoa dan berharaplah yang terbaik untuk setiap kapal, tanpa saling menghakimi...
Tetaplah kuat iman dan imun, semangat menjalani hidup....Badai pasti berlalu, tetapi pastikan Allah ada dalam kapal anda dan memegang kendali atas kapal anda. Jangan menyerah 🙏👏
Wednesday, April 29, 2020
Tuesday, April 28, 2020
INSTALL ULANG TATA KEHIDUPAN
INSTALL ULANG TATA KEHIDUPAN
Oleh :
Arif Satria
Rektor IPB
Pandemi Covid-19 yang bersifat global telah berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Bermula hanya berdampak pada aspek kesehatan, kemudian meluas kepada aspek ekonomi, pendidikan, keagamaan, pemerintahan, dan pangan. Sejalan dengan tugas menjalankan ibadah bulan Ramadhan, tentu tugas kita adalah bagaimana menemukan hikmah dari bencana ini. Melihat karakteristik Covid-19 dan multiplier effect yang ditimbulkan, prasangka baik kita adalah bahwa Tuhan tidak saja sedang menguji kesabaran kita, tetapi juga sedang meminta kita untuk meng-install ulang tata kehidupan baru. Mengapa ?
Pertama, install ulang tata kehidupan ekologis
. Bumi sudah merasakan beban yang berat. Kerusakan lingkungan terjadi dimana-mana. Polusi udara, pencemaran sungai dan laut, sampah menggunung, deforestasi, dan bahkan pemanasan global telah kita rasakan. Seiring meningkatnya intensitas aktivitas ekonomi maka carbon footprint juga meningkat. Lapisan ozon makin menipis.
Namun kini sebagian besar orang berdiam di rumah dan menjalankan pekerjaan dari rumah. Akibatnya jalan sepi, pasar sepi, toko tutup, warung sepi, dan mobilitas sosial makin terbatas. Kemudian polusi udara teratasi, lapisan ozon membaik, langit makin bening biru, sampah berkurang, dan udara makin segar. Saat bumi beristirahat seperti sakarang ini, mestinya menjadi momentum kita untuk merenung: apakah ketika pandemi Covid-19 berakhir lalu alam yang sudah tenang seperti ini akan tetap tenang dan membuat hidup kita lebih nyaman dan sehat?
Semua tergantung kita, tapi sebenarnya Pandemi Covid-19 adalah pesan bahwa kita harus berubah dan memulai hidup dengan cara baru. Pandemi Covid-19 memberi pesan bahwa bumi harus istirahat agar kondisi lingkungan pulih. Adalah tugas kita untuk saat ini merancang bagaimana pemulihan lingkungan terus terjaga meski Pandemi Covid-19 telah berakhir.
Suatu saat di Los Banos saya bertemu dengan profesor dari Jepang yang bercerita tentang pendidikan ekologi manusia (human ecology) di Tokyo University. Beliau mengatakan bahwa pendidikan ekologi manusia ada di fakultas kedokteran, bukan di fakultas lingkungan. Ini memang agak aneh. Ternyata baginya menjaga kesehatan bukan persoalan tersedia-tidaknya obat. Rezim obat-obatan adalah masa lalu. Sebaliknya dia menegaskan bahwa ke depan kesehatan adalah akibat kondisi lingkungan. Bagi Jepang, harmoni dengan alam dan harmoni secara sosial adalah “obat” paling mujarab menjaga kesehatan kita, karena keduanya adalah sumber kebahagiaan. Jadi, kesehatan, kebahagiaan dan status lingkungan hidup semakin kuat tali temalinya.
Kedua, install ulang tata hidup sehat. Hidup sehat kini menjadi obsesi semua orang. Pandemi Covid-19 telah memaksa kita semua untuk mengubah cara hidup. Sebelum ini hand-sanitizer hanya kita gunakan saat keluar masuk ruang rawat inap rumah sakit. Cuci tangan dengan sabun sebelumnya hanya saat sebelum dan sesudah makan. Namun kini setiap saat orang mencuci tangan. Kini semua orang tahu apa itu hand-sanitizer dan menggunakannya setiap saat. Masker dulu hanya digunakan tenaga medis, kini digunakan semua orang. Hal ini karena kesadaran masyarakat makin meningkat tentang mobilitas virus. Kini orang berlomba-lomba untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mengingat daya tahan tubuh adalah “obat” penangkal efektif Covid-19. Orang pun tanpa disuruh mulai rajin berolahraga dan berjemur.
Praktik baru tersebut sebagian besar merupakan bagian dari prinsip gizi seimbang. Dulu, para ahli gizi mempromosikan prinsip gizi seimbang hingga berbusa-busa. Namun kini orang dengan sendirinya telah menerapkan prinsip gizi seimbang meski tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah implementasi gizi seimbang. Dengan demikian Covid-19 telah memaksa kita meng-install ulang cara hidup kita dengan cara hidup sehat yang lebih baik.
Ketiga, install ulang tata kehidupan sosial-ekonomi. Solidaritas sosial makin berubah. Dulu individualisme orang perkotaan begitu menonjol. Kini empati mereka makin meningkat. Gerakan solidaritas untuk membantu korban ekonomi Covid-19 semakin marak. Aneka program donasi melalui media sosial berkembang secara spontan. Telah meningkat kesadaran kolektif bahwa musibah ini harus dihadapi bersama-sama. Solidaritas sosial ini merupakan modal sosial yang luar biasa. Masyarakat modern yang telah terspesialisasi, berhubungan dengan sesama atas dasar ikatan kontraktual, kini tergerak untuk bersama-sama atas dasar ikatan moral. Jiwa kemanusiaan makin tumbuh. Tata kehidupan sosial kota telah berubah.
Namun sebenarnya yang menarik adalah bukan semata solidaritas dalam konteks ekonomi. Bukan semata berbagi rezeki kepada golongan menengah ke bawah yang terkena dampak ekonomi Covid-19 tetapi solidaritas berbagi nilai moral dan ilmu. Seruan moral untuk membangun optimisme diviralkan melalui media sosial. Tips-tips untuk beradaptasi dengan situasi baru ini beredar dimana-mana. Berbagi nasehat dan berbagi ilmu tiap hari kita rasakan.
Keempat, install ulang tata kehidupan para pembelajar. Kini kita berlomba-lomba dalam inovasi. Ternyata musibah ini mendorong para pembelajar untuk mengerahkan ilmunya untuk memberikan solusi. Banyak inovasi bermunculan, baik inovasi peralatan medis, inovasi pelayanan medis, maupun inovasi obat-obatan. Musibah ini memberi pelajaran pentingnya mencari ilmu yang bermanfaat. Di saat-saat seperti inilah taruhannya pada kapasitas keilmuan kita. Ilmu bukan untuk unjuk kebanggaan tetapi ilmu untuk solusi. Karena itulah kesadaran para pembelajar makin meningkat untuk melakukan riset-riset transformatif, yakni riset-riset yang berdampak, dan bukan sekedar riset untuk riset. Install ulang mindset para pembelajar telah terjadi.
Kelima, install ulang kehidupan spiritual. Semula Tuhan dianggap terlalu jauh dari urusan duniawi, namun kini orang berusaha agar Tuhan hadir sedekat-dekatnya dengan kita. Kebetulan Pandemi Covid-19 terjadi pada bulan Ramadhan, semakin membuat proses install ulang spiritual kita makin sempurna. Salah satu proses refleksi spiritual penting adalah bahwa kita ternyata bukan siapa-siapa. Menghadapi virus kecil saja tak berdaya. Ilmu kita benar-benar hanya setetes air dari lautan luas. Disinilah kesadaran spiritual mulai tumbuh.
Semua tidak mungkin terjadi tanpa kehendak Tuhan. Kapan pandemi berakhir pun mesti dengan campur tangan Tuhan. Namun intervensi Tuhan untuk memulihkan keadaaan juga melalui proses-proses yang obyektif. Tuhan meminta kita tidak sombong dengan ilmu yang kita miliki, sehingga kita dengan rendah hati belajar dan belajar untuk menemukan cara pengobatan dan pencegahan Covid-19. Tuhan meminta kita untuk saling menolong. Tuhan telah meminta kita untuk menjaga alam. Tuhan telah meminta kita untuk mensyukuri nikmat yang telah Dia berikan. Mungkin hidup kita sudah kebablasan jauh dari koridor yang telah Tuhan tetapkan, dan mengabaikan sejumlah permintaan Tuhan tersebut.
Mungkin inilah cara Tuhan meminta kita untuk meng-install ulang tata kehidupan kita, agar kita makin bersyukur atas nikmat alam, nikmat kesehatan, nikmat ilmu dan nikmat iman. Kita telah dikaruniai akal dan hati. Mari kita gunakan untuk meng-install ulang tata kehidupan sebagai wujud syukur kita, dengan tatap didasari keyakinan bahwa kita bukan siapa-siapa di hadapanNya. Ikhtiar install ulang ini penting sebagai sikap tunduk kita pada QS Ar-Ra’d:11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka”.
Bogor, 28 April 2020
Monday, April 6, 2020
WAJIB PAKAI MASKER
Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid 19. Achmad Yurianto menegaskan bahwa pemerintah menjalankan program 'masker untuk semua' per 5 April 2020 sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Semua harus menggunakan masker. Masker bedah dan masker N95 hanya untuk petugas kesehatan. Gunakan masker kain, Ini menjadi penting karena kita tidak pernah tahu orang tanpa gejala didapatkan di luar," ujar Yuri pada konferensi pers, Minggu (5/4/2020).
Yuri mengatakan masyarakat harus menggunakan masker kain jika hendak keluar rumah dan ia menganjurkan penggunaan masker kain tidak lebih dari 4 jam lalu kemudian harus di cuci dengan sabun.
"Semua harus menggunakan masker. Masker bedah dan masker N95 hanya untuk petugas kesehatan. Gunakan masker kain, Ini menjadi penting karena kita tidak pernah tahu orang tanpa gejala didapatkan di luar," ujar Yuri pada konferensi pers, Minggu (5/4/2020).
Yuri mengatakan masyarakat harus menggunakan masker kain jika hendak keluar rumah dan ia menganjurkan penggunaan masker kain tidak lebih dari 4 jam lalu kemudian harus di cuci dengan sabun.
Dikhawatirkan bahwa masih banyak orang yang terkonfirmasi positif corona berkeluyuran di luar dan tanpa kita sadari orang tersebut membawa virus corona melalui droplet. Maka demikian, masker penting untuk digunakan.
Lebih lanjut, ia cukup perihatin dengan angka kenaikkan kasus positif di Indonesia tiap harinya karena masyarakat yang kurang peduli dengan penggunaan masker.
"Maka dari itu kami meminta mulai hari ini gunakan masker. Masker untuk semua, saling mengingatkan untuk menggunakan masker," ujarnya.
Kasus positif di Indonesia dilaporkan telah terjadi penambahan kasus sebanyak 181 sehingga saat ini kasus yang terkonfirmasi positif sebanyak 2.273.
"Maka dari itu kami meminta mulai hari ini gunakan masker. Masker untuk semua, saling mengingatkan untuk menggunakan masker," ujarnya.
Kasus positif di Indonesia dilaporkan telah terjadi penambahan kasus sebanyak 181 sehingga saat ini kasus yang terkonfirmasi positif sebanyak 2.273.
Sementara itu, jumlah kasus yang sembuh sebanyak 14 orang sehingga total 164 orang. Lalu, kasus yang meninggal bertambah 7 orang, sehingga jumlahnya menjadi 198 orang.
Sumber: CNBC Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)






































