Sunday, April 1, 2018

Merasa Hidupmu Jenuh?

Merasa Hidupmu Jenuh? Mungkin Sudah Saatnya Rehat dari Sosial Media!

Di era sekarang, rasanya untuk hidup tanpa sosial media adalah hal yang mustahil. Dari anak SD hingga lansia bahkan tidak luput untuk mengakses sosial media setiap hari. Berdasarkan riset, rata-rata orang per hari menghabiskan waktu sebanyak 116 menit untuk mengakses sosial media.

Tidak bisa dipungkiri kalau sosial media memiliki dampak yang baik di berbagai bidang, seperti untuk bersosialisasi, menambah pengetahuan, bisnis, menyalurkan hobi, atau hanya sekedar sebagai hiburan guna mengisi waktu. Namun tak ayal, sosial media juga memiliki dampak yang negatif bagi penggunanya, seperti menyia-nyiakan waktu, kejahatan di dunia maya, tidak ada privasi, kurang pergaulan, konsumtif, hingga kecemburuan sosial. Maka tak jarang pengguna media sosial bisa merasa frustasi yang dapat berakibat pada kesehatan.

Jika kamu mengalami hal yang seperti itu, mungkin tidak ada salahnya kalau kamu rehat sejenak dari kehidupan di dunia maya. Berikut beberapa manfaat rehat dari sosial media yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidupmu.

1. Kamu akan lebih merasa tenang.

Rehat sejenak dari kehidupan sosial media, bisa mengurangi kadar stress mu. Kamu nggak perlu sibuk untuk tahu apa yang sedang dikerjakan orang lain atau berlomba-lomba untuk menunjukkan sesuatu kepada orang  lain. Yang perlu kamu lakukan adalah menjalani hidup dan menjadi dirimu sendiri apa adanya tanpa perlu penilaian sempurna di dunia maya.

2. Kamu akan berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain.

Sadarilah bahwa apa yang terlihat di sosial media, tidak selalu sama dengan kenyataannya. Terlalu lama menghabiskan waktu di sosial media kerap hanya membuatmu membandingkan dirimu dengan orang lain hingga membuatmu merasa minder. Padahal, kamu tidak seburuk apa yang kamu pikirkan kok!

3. Alih-alih demi mendapatkan inspirasi, terkadang kita nggak sadar kalau sosial media justru dapat mengekang kreativitas kita.

Menurut Dr. Cantor, sosial media dapat mengganggu perkembangan kreativitas seseorang. Karena pada dasarnya, untuk memperoleh ide-ide kreatif yang diperlukan adalah istirahat sejenak seperti berjalan-jalan atau berkhayal, bukan justru dengan mengakses sosial media.

4. Pada akhirnya, kamu akan merasa lebih bahagia!

Pada saat kamu rehat dari sosial media, yang menjadi fokus dirimu hanya satu, yakni: DIRIMU! Kamu bisa fokus menyelesaikan pekerjaanmu atau fokus berinteraksi dengan orang-orang disekitarmu. Ketika kamu fokus pada diri sendiri, maka itulah proses dimana kamu sedang meningkatkan kepercayaan dan penghargaan atas dirimu sendiri.

Memang ada banyak cara untuk dapat meningkatkan kualitas hidup selain rehat sejenak dari sosial media. Tapi tidak ada salahnya kan mencoba hal-hal baru? Bisa jadi kamu akan menemukan hal lain yang lebih menakjubkan di luar sana.

Kamu tidak harus mulai dengan berhenti sama sekali dari sosial media. Kamu bisa mulai mencobanya dengan memberi batasan waktu dalam sehari, hingga kemudian berlanjut ke tahap yang lebih tinggi.

Lagipula, kamu bukan orang yang pertama kok yang melakukan ini. Beberapa seleb papan atas seperti Reza Rahadian, Daniel Radcliffe, Jennifer Lawrence, memilih untuk tidak menggunakan sosial media untuk lebih fokus berkarya ketimbang membandingkan diri dengan orang lain atau memikirkan komentar negatif atas dirinya.

Selamat mencoba!

Friday, March 2, 2018

TAN SHOT YEN

Ini ada tulisan dari dr Tan Shot Yen yg mungkin bisa menambah pengetahuan dan pola pikir kita dalam menyikapi apa yg terjadi dalam diri kita.....
********************
Saran Dr. Tan Shot Yen Lahir di Beijing,
17 Sept 1964 & dibesarkan di Jakarta. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara & lulus

Profesi Kedokteran Negara FKUI pada tahun 1991.

Dokter Tan Shot Yen dikenal sebagai seorang dokter yang kritis & sering diundang sebagai pembicara & narasumber di berbagai seminar.

Selain sebagai dokter, dia juga praktisi
~Braingym &
~Quantum, serta
~Hypnoterapist.

Menurut Dr. Tan Shot Yen,
"Kesalahan pasien dalam berobat hanyalah mencari tahu 'bagaimana'.
Bagaimana caranya

~Menurunkan tensi,
~Menurunkan kadar gula
~Menguruskan badan
~Menghilangkan senewen atau
~Sakit di jemari.

Jika Anda Cuma tanya 'bagaimana', Anda akan jatuh menjadi sekadar Konsumen obat.

Pertanyaan terpenting adalah mengapa Anda sampai sakit?" urainya.

Wanita 51 tahun ini memang tak mau punya pasien yang mengharapkan pil atau tongkat ajaib untuk membereskan tubuhnya.

"Saya mau pasien yang
~Taking ownership of their own body.
Itu badan anda. Buat apa dokter yang sok tahu menyuruh ini-itu?

Yang benar buat dokter belum tentu benar buat Anda."

"Sampai kapan seseorang mau tergantung pada obat-obatan?

Apakah setelah mengonsumsi obat dia benar2 sembuh? Jawabannya tidak.

Karena begitu obat berhenti, dia sakit lagi.

Berapa banyak dokter hanya bertanya 'sakit apa' lalu berkata 'ini obatnya'? Dia tidak memberikan pendidikan atau menjelaskan asal usul penyakit.

Pasien dalam hal ini mengamini saja, padahal pasien harusnya memahami perannya dalam menciptakan penyakitnya, " jelas dr. Tan.

Sakit adalah Introspeksi

"Sakit adalah introspeksi."
Ketika sakit, saya berhenti & menoleh ke belakang. Apa yang 'jalan' dan 'nggak jalan' selama ini? Nah, menjadi sembuh adalah keberhasilan introspeksi & menemukan cara untuk lebih maju lagi. Dalam fase inilah sesungguhnya peran dokter sangat diperlukan untuk membimbing pasien menemukan kesembuhannya & tidak  hanya meninabobokan pasien dengan segala macam obat.

Menurut dr. Tan, kita memasuki era kebablasan mengonsumsi obat.

Akhirnya, obat dijadikan demand/ kebutuhan.
Setelah demand melambung tinggi, masyarakat digenjot untuk mendapatkan penghasilan lebih yang sebagian besar akhirnya berakhir di atas kertas resep (habis untuk menebus obat – obatan).

Lihatlah berapa banyak orang yang harus berusaha mati2-an demi keperluan berobat salah satu anggota keluarga.

"Akibat perkembangan ilmu kedokteran – terutama setelah ditemukannya alat pacu & cangkok jantung,
Tubuh manusia yang tadinya holistic lalu di-pecah2.

Kalau kepala sakit yang diobati, ya kepala saja.

Kita terlepas dari tubuh, emosi, dan kecerdasan spiritual.

Tubuh manusia hanya jadi seperangkat mesin.
Kalau ada yang salah, kita pergi ke bengkel. Dan, rumah sakitlah bengkel terbesarnya.

Betul, badan manusia terlalu kompleks untuk dipegang satu ahli saja.
Manusia boleh dipegang beberapa ahli, asal mereka sama2 sadar bahwa manusia diciptakan Tuhan.

Masalahnya, dokter punya arogansi profesi.
Seorang dokter biasanya susah dibilangin & selalu merasa benar," tuturnya lugas.

Inilah beberapa tips sehat ala Dokter Tan.

Semua karbohidrat buruk seperti gula & turunannya,
Terigu, Beras & Pati, akan cepat diubah menjadi gula & masuk dalam peredaran darah.
Kalau ini terjadi terus-menerus, efek lanjutannya adalah menurunnya daya tahan tubuh,
~Kegemukan
~Kolesterol
~Diabetes &
~Penyempitan pembuluh darah.

Sebagai ganti karbohidrat buruk, sayur mentah & beberapa jenis buah bisa menjadi menu yang mengenyangkan & menyehatkan.

Dengan makan sayur mentah & buah, dijamin enzim berguna masih hidup & semua vitamin serta antioksidannya tidak hilang.
Porsinya tentu harus memadai,
Misalnya untuk makan siang (dengan takaran satu dinner plate):
1 ikat selada segar
1 bh timun
1 bh tomat
1 bh alpukat &
1 bh apel.
Sayuran yang kita konsumsi sebaiknya tidak dimasak, karena manfaatnya sudah tidak ada lagi (nilai gizi sudah hilang).

BUAH YANG BAIK untuk dimakan antara lain:
Apel, Alpukat & Pir.

Buah lain seperti
Durian, Mangga, Pepaya & Pisang
sebaiknya dihindari karena kandungan gulanya tinggi.

Satu lagi,
Sebaiknya buah dimakan langsung & tidak diolah terlebih dulu seperti misalnya dijus. Karena dengan dijus, terjadi pengrusakan serat, sehingga yang Anda asup hanya gulanya saja.

BAHAN MAKANAN sebaiknya tidak digoreng, karena bisa menjadi racun dan merusak organ tubuh.

Usahakan makanan dikukus atau dibakar. Jika dibakar, jangan lupa dialasi daun.

PRODUK KEDELAI yang baik adalah
Tempe, Oncom & Tauco.

Sedangkan
Susu kedelai, Kecap & Tahu kurang bagus, karena bisa menjadi pencetus kanker.

BUAH JERUK BAIK UNTUK TUBUH,
karena mengandung anti-oksidan
Tapi jangan dicampur dengan air hangat atau panas, karena bisa berubah menjadi racun.

HINDARI MENGONSUMSI MAKANAN YANG TELAH MELEWATI PENGAWETAN atau dalam kaleng,
karena bisa sebagai pencetus penyakit.

JANGAN PERNAH MERASA TUA,
Karena bisa membuat seluruh tubuh kita terasa semakin tua.
Usia boleh tua,
Tapi pikiran & semangat kita harus tetap muda
Supaya seluruh energi positif mengaliri seluruh tubuh kita.

JIKA ANDA MERASA SAKIT seperti
Flu, Hipertensi, Kolesterol & lain2
coba instropeksi makanan / minuman apa saja yang telah Anda konsumsi sebelumnya,
Lalu hindari
Jangan hanya minum obat, tapi makanan buruk yang Anda asup tidak berubah.

JANGAN TERPAKU PADA PEMIKIRAN BAHWA SEHAT HANYA DARI MAKANAN DAN OLAH RAGA SAJA. Sehat yang sebenarnya adalah
~Sehat secara makanan
~Sehat secara Fisik (olah raga yg benar) &
~Sehat secara pikiran & hati/iman.
_Semoga Bermanfaat_.

Tuesday, February 6, 2018

Behavevioral Economics

Melalui riset yang dilakukan para ahli *Behavioral Economics,* ditemukan beragam “bias” atau “systematic thinking error” yang acap menyelinap dibalik sanubari kita. Hasil riset dimaksud telah disampaikan/diposting oleh mbak Asti di WAG ini bbrp waktu yg lalu. Silahkan dibaca lagi.

Lalu apa yg dimaksud dengan *Behavevioral Economic* itu?

Bayangkan kita berada di suatu supermarket.

Kita hendak berbelanja dan kita mempunyai daftar barang yang akan kita beli hari itu, anggap saja kita hanya akan membeli sebotol sampo. Dan ternyata etalase alat-alat mandi, termasuk sampo, berada di ujung pojokan dari arah kita masuk. Pertama kali kita memasuki area supermarket, kita melihat sekumpulan barang-barang bertumpukkan entah itu berupa makanan, barang pakai, dsb. Tak hanya bertumpukkan, barang-barang tersebut mempunyai label super besar yang bertuliskan diskon 50% lengkap dengan periode diskon dan perubahan harganya, dari harga lama yang dicoret kemudian diganti dengan harga baru yang kini hanya setengahnya saja. Kita sedang tidak terburu-buru, jadi ah tidak ada salahnya untuk sekedar melihat-lihat, siapa tahu ada barang menarik yang sedang diskon di sana. Beberapa menit asyik mencari-cari, ternyata ada juga nih peralatan makan lengkap bermerek yang sedang diskon. Ah mumpung diskon, kapan lagi? Lebih baik beli sekarang saja, kalau nanti pasti harganya naik lagi. LUMAYAN… Masuklah satu set peralatan makan itu ke dalam keranjang belanja kita.

Rak sampo masih di ujung pandangan kita rupanya. Lihat-lihat sekitar dulu ah sambil berjalan menuju ke sana…

Melewati lorong makanan ringan dan biskuit kita melihat beberapa produk yang asing di mata. Ada snack baru rupanya. Penasaran, apa sih? Kayanya enak. Beli deh buat nyobain, satu aja yang kecil. Biskuit itu juga kayanya seru deh rasanya. Boleh lah sesekali beli.

Lanjut melewati lorong alat-alat kebersihan rumah tangga, nyaris mencapai rak sampo.

Di sini hanya ada sabun cuci, detergen, pewangi, tissue dan sebagainya. Tetap ada promo-promo seperti beli dua gratis 1, beli sabun cuci piring gratis spons, beli detergen gratis piring, dsb. Tapi merasa itu bukan suatu hal yang sedang dibutuhkan saat ini, jadi kita lewati mereka begitu saja.

Tibalah di depan rak sampo. Di sana sudah dari tadi berjajar beragam produk sampo mulai dari yang sering terdengar di iklan televisi hingga merek yang baru diketahui keberadaanya. Tak perlu pikir panjang, ambil saja sampo langganan dengan merek yang sering mucul di iklan TV tentunya. Sudah lelah berputar-putar di supermarket, langsung saja kita meluncur ke meja kasir.

Barang apa yang awalnya kita rencanakan beli? Sampo.

Barang apa yang akhirnya kita beli? Sampo, peralatan makan, snack, biskuit.

Mungkin kurang-lebih itulah gambaran tentang Behavioral Economics. Intinya adalah, pengambilan keputusan kita (economics) dipengaruhi oleh pertimbangan lain seperti kondisi psikologi kita (behavioral). Seperti contoh di supermaret tersebut, kita akhirnya membeli barang-barang yang tidak ada dalam daftar belanja kita. Mengapa demikian? Karena ada alasan dan rasionalisasi. Apakah logis dan rasional? Belum tentu!

Pada kasus keputusan kita membeli peralatan makan karena sedang diskon mungkin terlihat rasional. Jika kita tidak membeli sekarang, harganya akan menjadi dua kali lipat, dan kita akan “rugi” jika tidak membelinya sekarang. Benarkah kita rugi? Bukankah kita justru telah kehilangan uang untuk membelinya? Apakah memang benar peralatan makan itu adalah sesuatu yang kita butuhkan sekarang dan nanti? Jika sekarang peralatan makan itu tidak diskon, apakah kita pasti akan membeli peralatan makan tersebut nanti?

Beda kasusnya jika kita memang berencana akan membeli peralatan makan, namun masih belum tahu kapan waktunya. Memilih membeli peralatan makan di saat sedang periode diskon tentu menjadi sebuah keputusan yang tepat dan rasional. Jika ternyata peralatan makan tersebut tidak kita butuhkan sampai nanti sementara kita telah terlanjur membeli meskipun dengan harga miring, apakah keputusan kita sudah tepat? Saya rasa tidak.

Pada kasus keputusan kita membeli snack dan biskuit hanya karena penasaran sudah jelas tidak rasional. Kita hanya mengikuti hasrat, bukan kebutuhan. Mungkin awalnya kita memang tidak berhasrat untuk membeli snack dan biskuit itu, tapi karena ada perangsang/pemicu berupa produk baru atau varian baru maka rasa penasaran kita semakin bertambah dan memuncak sehingga perlu dilampiaskan dengan cara membelinya. Tetapi kita masih mempunyai excuse lainnya. Karena barang tersebut bukan hal yang sebenarnya kita perlukan, jadi kita hanya membeli yang ukuran kecil. Sebuah pembenaran atas tindakan yang salah. Tetap saja salah.

Sementara itu, ketika kita melewati bagian alat kebersihan kita tidak membeli apapun meskipun di sana terpampang banyak promosi menarik. Hal ini mungkin bisa terjadi karena memang kita sedang tidak memerlukannya saat itu. Pun ditawari diskon atau promosi seperti itu rasanya tetap saja kurang menggiurkan. Barang itu sendiri mungkin sifatnya “inelastis”, bukan konsumsi sekali pakai habis dan tingkat marginal utilitasnya tidak terlalu besar. Beda dengan barang konsumsi cepat habis.

Pada keputusan membeli sampo juga sebenarnya tidak semuanya berdasarkan rasionalitas. Justru ada bias di sana. Sebagian orang mungkin termasuk sebagai “korban iklan”. Mereka percaya dengan apa yang mereka saksikan di iklan, atau setidaknya percaya bahwa produk-produk yang ada iklannya itu merupakan produk yang kualitasnya lebih baik dibandingkan produk yang tidak ada iklannya. Hal ini merupakan bias informasi: hanya karena kita mendapatkan informasi berupa iklan kita bisa memutuskan produk mana yang lebih baik. Hal ini tentu dapat menyebabkan produk-produk yang tidak diiklankan tidak akan mendapat penggemar padahal kualitasnya belum tentu lebih rendah.

Ya, mungkin seperti itu gambaran kecil bagaimana hal-hal yang menurut kita logis/rasional, padahal sebenarnya tidak, dapat mempengaruhi keputusan kita sehari-hari. Behavioral Economics mencoba menjelaskan mengapa terjadinya hal demikian dilihat dari sudut pandang perilaku manusia.

Selamat datang di dunia irasional, dunia yang sebenarnya sudah sejak dari dulu kita huni.

Salam irasional!

Systematic Thinking Error

Manusia itu, saya dan Anda semua, pada dasarnya suka berpikir secara tidak rasional atau irasional
Prof Richard Thaler :
Melalui riset yang dilakukan para ahli behavioral economics, ditemukan beragam “bias” atau “systematic thinking eror” yang acap menyelinap dibalik sanubari kita.

Diam-diam beragam bias itu ini membuat decision making kita menjadi tidak lagi obyektif dan rasional. Bias itu membuat kita – saya dan kamu – berulang kali melakukan error yang bersifat sistematis, dan acap membuat hidup kita nyungsep dalam kegelapan nasib.

Ada banya jenis error thinking yang dilacak dalam riset-riset behavioral economics. Saya akan coba mengulas 5 diantaranya. Mari kita lacak sambil ditemani secangkir teh hangat.

Error Thinking # 1 : LOSS AVERSION
Puluhan studi dalam ilmu behavioral economics membuktikan ternyata kita manusia itu cenderung terlalu takut dengan potensi kerugian, dibanding potensi keuntungan yang akan diraih.

Fenomena itu disebut sebagai loss aversion – atau terlalu khawatir dengan potensi kerugian.

Manusia dimanapun di dunia ini ternyata memang cenderung takut untuk mengambil risiko. Kita semua lebih gentar menghadapi potensi kerugian; daripada bersemangat menjemput peluang keuntungan.

Dalam sebuah studi bahkan terungkap : rasa sakit kita akan kehilangan ternyata lebih membekas didalam hati daripada rasa senang akibat mendapatkan keuntungan.

Dengan kata lain : pengalaman rugi 10 juta ternyata jauh lebih lama membekas dalam hati, dibanding perasaan senang akibat dapat untung 10 juta.

LOSS AVERSION mungkin yang bisa menjelaskan kenapa mayoritas orang agak ragu untuk memulai usaha baru secara mandiri.

Bahkan sebelum memulai menjalankan usaha, kebanyakan orang sudah takut duluan. Takut jangan-jangan nanti malah rugi. Jangan-jangan usaha saya gagal.

Loss aversion yang juga mungkin bisa menjelaskan kenapa kebanyakan orang agak pesimis dengan peluang keberhasilan yang akan mereka miliki.

Error thinking semacam ini yang bisa membuat hidup kita kelak jadi termehek-mehek.

Error Thinking # 2 : ENDOWMENT EFFECT
Efek ini intinya bermakna : Anda terlalu menghargai berlebihan barang yang Anda sudah beli atau yang sudah Anda miliki.

Begitu Anda membeli atau memiliki sesuatu, mendadak muncul rasa cinta pada barang itu, dan akibatnya Anda memberikan value yang lebih tinggi dibanding harga pasaran atau nilai sebenarnya.

Misal : Anda memiliki mobil Honda Jazz baru. Setelah beberapa lama, Anda ingin menjualnya kembali. Anda kemungkinan besar akan memberikan harga penawaran yang jauh lebih tinggi dibanding harga pasaran. Anda yang memiliki mobil tersebut cenderung memberikan penilaian harga yang lebih tinggi dibanding harga pasaran yang sebenarnya.

Contoh lain endowment effect : Anda membeli saham Telkom misalnya. Setelah beberapa bulan ternyata harganya jeblok. Namun karena pengaruh endowment effect, Anda tidak segera cut loss. Anda terus saja memberikan penilaian berlebihan dan membenarkan pembelian Anda, meski makin lama harga makin jatuh.

Contoh lain lagi : Anda terlibat dalam sebuah projek. Setelah beberapa lama projek ini sebenarnya merugi, namun Anda tetap saja menginvestasikan tenaga, pikiran dan dana yang tersisa untuk meneruskan projek yang merugi ini.

Kenapa Anda tak segera cut? Karena ada efek endowment : Anda merasa “sayang” kalau projek yang sebenarnya merugi ini Anda putus ditengah jalan.

Endowment effect inilah yang juga membuat Nokia dan Kodak dulu mati ditelan sejarah.

Mereka terjebak endownent effect : terlalu mencintai produknya sendiri secara berlebihan. Terlalu bangga dan memberikan penilaian berlebihan terhadap produknya sendiri, sehingga abai dengan perubahan mendadak disekelilingnya.

Too much love will kill you. Ternyata ungkapan romantis ini benar adanya, yang dibuktikan melalui studi-studi dalam ilmu behavioral economics.

Error Thinking #3 : CONFIRMATION BIAS
Error ini intinya Anda terjebak pada pilihan favorit yang Anda miliki; sehingga mengabaikan alternatif pilihan. Anda hanya mau membaca informasi yang meng-konfirmasikan kebenaran pilihan favorit Anda.

Contoh : Anda sudah suka smartphone merk tertentu. Maka saat browsing mencari informasi tentang smartphone baru, Anda menseleksi informasi yang Anda mau baca. Anda cenderung lebih fokus untuk mencari informasi yang membenarkan kekuatan smartphone favorit Anda; dan mengabaikan informasi yang mengkritisi kekuatan smartphone tersebut.

Confirmation bias ini amat masif terjadi saat Pilpres atau Pilgub. Saat Anda sudah punya pilihan favorit, maka Anda hanya akan mau membaca informasi yang membenarkan pilihan Anda; dan enggan membaca atau mendadak emosi saat membaca informasi yang tidak sesuai pilihan Anda.

Semua kubu terjebak confirmation bias. Maka pilihan yang rasional dan obyektif menjadi sulit dilakukan saat semua orang terjebak error thinking semacam ini.

Error Thinking # 4 : HERD BEHAVIOR
Studi-studi dalam ilmu behavioral economics menemukan fakta kelam ini : manusia, saya dan kamu semua, ternyata suka bertindak seperti kerumunan bebek. Belok kiri satu, belok semua. Ada yang ke kanan, ke kanan semua.

Kita semua itu memang suka latah. Punya perilaku seperti kerumunan yang mudah latah dengan perilaku orang-orang disekitar kita.

Herd behavaior ini yang memunculkan mania, tren sesaat atau kehebohan akan sesuatu. Keramaian makin mengundang keramaian.

Warung makan pinggir jalan yang ramai, pasti akan makin ramai. Penjual obat jalanan yang ramai didengar orang, pasti akan makin banyak pengunjungnya.

Buku yang diberi label best seller, pasti akan makin meningkat penjualannya. Toko roti yang antriannya panjang, pasti akan makin heboh pembelinya. Investasi yang lagi hot, pasti akan makin banyak yang tertarik ikut.

Itu semua adalah fenomena herd behavior. Sebab kamu dan saya memang suka latah dan penasaran dengan apa yang disukai banyak orang.

Error Thinking # 5 : SURVIVOR BIAS
Bias ini terjadi saat kita mengambil kesimpulan berdasar data yang tidak valid. Kenapa tidak valid, karena yang sering kita baca hanya yang survive atau sukses bertahan. Yang gagal jarang diberitakan.

Contoh : Steve Jobs, Bill Gates dan Mark Zuckerberg semua adalah mahasiswa drop out atau DO. Tapi sukses. Kemudian ada yang bilang, nggak usah takut DO, sebab Anda bisa sukses juga seperti mereka.

Pernyataan seperti itu adalah contoh pikiran yang terjebak survivor bias. Pernyataan ini menganggap kasus Bill Gates dkk yang DO tapi sukses adalah “kebenaran umum”.

Faktanya : orang DO yang sukses seperti mereka mungkin hanya 1%. Mayoritas lainnya ya tetap jadi pengangguran atau jadi orang miskin.

Survivor bias adalah cermin kebodohan dalam memahami ilmu statistik. Kasus tertentu yang mungkin hanya terjadi pada 1 – 2% orang, dianggap mewakili SELURUH populasi.

Kesalahan generalisasi seperti itu sering terjadi. Hanya karena baca satu atau dua kasus di media atau di grup WA, mendadak menganggap semuanya akan seperti yang ada dalam kasus tersebut. Ini namanya kegoblokan statistik.

DEMIKIANLAH, lima jenis bias atau error thiking yang berhasil diungkap dalam beragam riset ilmu Behavioral Economics. Lima error thinking ini adalah :

1. Loss aversion : gue takut rugi ah
2. Endowment effect : too much love will kill you
3. Confirmation bias : pilihan gue yang paling hebat
4. Herd behavior : kita semua suka latah
5. Survivor bias : kepalsuan statistik

Harap dikenang selalu 5 bias diatas. Sebab kita semua mungkin akan selalu terjebak didalamnya.

Sunday, October 15, 2017

Pertolongan Pertama Serangan Jantung

Serangan jantung merupakan salah satu momok menakutkan dalam bidang medis di Indonesia.

Bagaimana tidak, serangan ini bisa datang tiba-tiba dan tak jarang merenggut nyawa.

Apalagi hingga kini belum dapat diketahui apa saja tanda-tanda seseorang terserang penyakit jantung.

Serangan jantung bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Entah itu sedang bekerja di kantor, berolah raga, bahkan pada saat sedang tidur.

Sampai saat kini belum ada cara yang pasti agar terhindar dari serangan jantung, selain anjuran dokter untuk mengaplikasikan pola hidup sehat, seperti makan makanan sehat, istirahat cukup, rutin berolah raga, hingga menjauhi rokok.

Teka-teki penyebab serangan jantung memang masih menjadi pekerjaan rumah bagi dunia medis.

Meski demikian, setidaknya ada tindakan yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama bila seseorang tiba-tiba terserang penyakit jantung di sekitar kita.

Kepala Departemen Kardiovaskuler FK UPH dan Staff Heart Center Siloam Lippo Vaillage, Dr dr Antonia Anna Lukito, SpJP(K), FIHA FSCAL, FAPSIC, menerangkan bahwa serangan jantung adalah pembekuan aliran darah.

Oleh karena itu, hal penting yang harus cepat dilakukan adalah mengencerkan pembekuan itu.

"Bila ada orang  disekitar kita terkena serangan jantung, tentu kita ingin menolong. Pertama- tama pasien ditidurkan, ditenangkan. Karena makin dia panik, makin gelisah, maka kebutuhan oksigennya makin tinggi sehingga serangan jantung makin luas," ujar Dr Anna, sapaannya, ditemui dalam pengenalan produk Philips Azurion di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (28/9/2017).

Anna melanjutkan setelah itu, segera berikan aspirin untuk dikunyah. Bila tidak ada yang memiliki aspirin, dapat membelinya di warung terdekat karena aspirin dijual bebas. "Makanya saya anjurkan selalu sedia aspirin di rumah," katanya.

"Kenapa aspirin? Aspirin merupakan pengencer. Sedangkan serangan jantung itu terjadi karena pembekuan aliran darah. Makanya perlu dilakukan pengenceran bekuan dulu," bilang Anna.

Setelah itu, orang atau pasien tersebut harus secepatnya dibawa ke rumah sakit terdekat yang memiliki fasilitas ICU atau UGD untuk diberi pertolongan pertama.

Sember:
WartaKota Minggu, 15 Oktober 2017

Monday, November 21, 2016

Langgam Keroncong

Sundari Sukoco


Tembang kenangan Indonesia
TEMBANG KERONCONG KENANGAN (TEMBANG KENANGAN INDONESIA)





Di bawah bulan Purnama

Autoimun

Penyakit autoimun terjadi jika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Padahal, sistem kekebalan tubuh seharusnya menjadi benteng bagi tubuh dalam menghadapi penyakit.
Penyakit kelainan kekebalan tubuh ini bisa berdampak kepada banyak sekali bagian tubuh seseorang. Saking banyaknya, tercatat ada 80 jenis penyakit autoimun dengan sebagian gejala yang sama. Hal ini membuat seseorang sulit diketahui apakah menderita gangguan ini atau tidak dan pada jenis yang mana. Meski memiliki jenis yang banyak, penyebab dari penyakit autoimun masih belum dapat dipastikan.

Video Autoimun yang dapat memberikan semangat hidup bagi penderitanya.

Penyakit Autoimun yang Paling Sering Ditemui

Dari sekian banyaknya jenis penyakit autoimun, beberapa penyakit autoimun di bawah ini merupakan yang sering sekali ditemui.


  • Rheumatoid arthritis
Rheumatoid arthritis alias radang sendi adalah penyakit autoimun yang sering ditemui. Sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi yang menyerang pelapis sendi. Akibat dari serangan antibodi semacam ini adalah peradangan, pembengkakan, dan nyeri.
Jika tidak diobati, penyakit ini akan menyebabkan kerusakan permanen pada sendi. Untuk mencegahnya memburuk, penderita rheumatid arthritis biasanya akan diberikan obat oral atau suntik yang berfungsi mengurangi agresivitas sistem kekebalan tubuh.
  • Lupus
Penyakit autoimun yang sering kita dengar lainnya adalah systemic lupus erythematosus atau biasa kita sebut dengan lupus saja. Penyakit ini menyebabkan seseorang mengembangkan antibodi yang justru menyerang hampir ke seluruh jaringan tubuh.
Beberapa bagian tubuh yang paling sering diserang adalah sendi, paru-paru, ginjal, dan jaringan saraf. Untuk mengobati lupus, dokter biasanya memberikan obat steroid minum untuk menurunkan fungsi imun.
  • Diabetes tipe-1
Penyakit ini biasanya akan terdiagnosis sejak usia kanak-kanak atau dewasa awal. Penyakit Diabetes tipe-1 disebabkan oleh serangan sistem kekebalan tubuh pada sel-sel di pankreas yang memiliki tugas memproduksi insulin.
Hal ini menyebabkan terganggunya produksi insulin sehingga tubuh tidak mampu mengontrol kadar gula darah. Jika hal ini tidak dihentikan, maka berisiko timbul kerusakan pada tubuh, seperti gagal ginjal, kebutaan, stroke, penyakit jantung, atau masalah terkait sirkulasi darah dalam tubuh. Untuk mengobatinya, pasien akan diberikan suntikan insulin. Selain itu, mereka wajib untuk melakukan pemantauan kadar gula darah, konsumsi diet sehat, dan olahraga teratur.
  • Multiple sclerosis (MS).
Pada saat sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang sel-sel saraf sendiri, beberapa gejala yang mengerikan berisiko muncul sebagai akibatnya. Penyakit ini biasa disebut dengan multiple sclerosis alias MS.
Beberapa gejala yang timbul akibat penyakit ini, antara lain nyeri, kebutaan, gangguan koordinasi tubuh, dan kejang otot. Gejala lainnya yang mungkin timbul adalah tremor, mati rasa ekstrem, kelumpuhan, susah bicara, atau susah berjalan. Untuk mengobatinya, obat-obatan tertentu bisa digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Terapi fisik atau okupasi dapat dilakukan untuk membantu pasien MS dapat melakukan kegiatan sehari-hari.
  •  Graves’ disease
Ini adalah penyakit autoimun yang menyebabkan kelenjar tiroid menjadi terlalu aktif. Mereka yang menderita penyakit ini kemungkinan akan mengalami aneka gejala yang bisa mengganggu kegiatan sehari-harinya. Kesulitan tidur, mudah tersulut emosi, berat badan turun tanpa sebab, dan mata menonjol adalah sebagian gejalanya. Gejala lain yang mungkin timbul adalah terlalu peka pada hawa panas, otot lemah, tremor (tangan bergetar), dan periode menstruasi yang singkat.
Untuk mengobatinya, penderita kemungkinan akan diberikan pil radioaktif iodium. Pil ini digunakan untuk membunuh sel-sel kelenjar tiroid yang terlalu aktif. Pasien dapat juga diberikan obat anti tiroid. Meski jarang, bisa saja penderita penyakit ini butuh prosedur pembedahan.
  •  Psoriasis
Psoriasis adalah kondisi terlalu aktifnya sistem kekebalan tubuh sehingga menyebabkan kulit mengalami kondisi kronis. Kondisi ini disebabkan oleh salah satu sel darah dalam sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif, yaitu Sel-T. Berkumpulnya Sel-T di kulit menyebabkan rangsangan pada kulit untuk mereproduksi lebih cepat dari seharusnya. Selain itu, bisa menyebabkan kulit berwarna keperakan dan bersisik. Untuk menanganinya, dapat menggunakan krim steroid, terapi cahaya, ataupun obat oral.

Beberapa Faktor Risiko Terkena Penyakit Autoimun

Sejauh ini penyebab penyakit autoimun masih belum diketahui. Meski demikian, ada beberapa faktor yang memicu seseorang berisiko menderita penyakit autoimun. Beberapa hal di bawah ini bisa menjadikan seseorang berisiko terjangkit penyakit autoimun.
  • Lingkungan
Faktor lingkungan ditengarai merupakan hal penting kenapa seseorang bisa terkena penyakit autoimun. Faktor lingkungan antara lain adalah paparan bahan tertentu seperti merkuri.
  • Perubahan hormon
Beberapa penyakit autoimun sering kali menyerang perempuan pasca melahirkan. Hal ini menyebabkan hadirnya sebuah asumsi bahwa penyakit autoimun terkait dengan perubahan hormon, seperti saat hamil, melahirkan, atau menopause.
  • Infeksi
Beberapa gangguan terkait penyakit autoimun sering kali dikaitkan dengan terjadinya infeksi. Hal ini wajar karena sebagian gejala diperburuk oleh infeksi tertentu.
  • Genetik atau keturunan
Risiko terbesar terkait penyakit autoimun yang diprediksi para ahli adalah faktor genetik. Meski demikian, faktor ini dianggap bukan satu-satunya yang bisa memicu reaksi kekebalan tubuh.
Meski penyakit autoimun masih belum diketahui penyebabnya, namun kita bisa mewaspadai diri sendiri dengan memerhatikan faktor risiko. Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala-gejala terkait penyakit-penyakit di atas. Makin cepat diketahui, maka makin besar kemungkinan untuk bisa disembuhkan.