Wednesday, December 11, 2013

Live - Proses Evakuasi Tragedi Bintaro 2 [Kereta Tabrak Truck Tangki Per...

Musibah ini terjadi pada hari Senin tanggal 09 Desember 2013



Saturday, November 16, 2013

Tiga Fase Pendidikan Anak

Pernahkah anda membaca tentang pola pendidikan anak yang meliputi 3 tahap, berikut ini penjelasannya :

1. Pada 7 tahun pertama, perlakukan anak sebagai raja (0-7 th).

Bukan memanjakan tetapi memberi contoh cara melayani orang, cara menyayangi, cara menghormati dan segala sesuatu yang baik, pada usia ini anak mudah sekali menyerap pendidikan yang dicontohkan orang tua. Harapannya anak akan tahu bagaimana cara berbakti kepada orang tuanya.

2. Pada 7 tahun kedua, perlakukan anak sebagai tawanan perang (7-14 th)

Maksudnya adalah mulai mendisiplinkan anak. Rasulullah SAW mulai menyuruh anak untuk shalat di umur 7 tahun, lalu memukulnya jika tidak shalat di umur 10 tahun. Anak harus dipersiapkan dengan baik untuk memasuki pubertas. Ia akan menjadi dewasa dengan kasih sayang dan kedisiplinan yang dicontohkan orang tuanya.

orangtua sbg sahabat

3. Pada 7 tahun ketiga (14 tahun ke atas), perlakukan anak sebagai sahabat.

Awal pubertas hingga dia dewasa, anak butuh pengawasan dan pendampingan yang baik, namun semuanya tidak dilakukan dalam tekanan orangtua, untuk menumbuhkan kesadaran anak. Bila anak kita mempunyai kesulitan/masalah, dia akan lari ke sahabatnya, dan orang tua-lah sahabat yang baik. Tentu dengan pendidikan dasar di 7 tahun pertama, anak tetap akan menghormati orang tuanya, meskipun saat itu orangtuanya sedang berperan sebagai sahabat.

Dengan pendidikan diatas, narkoba dan perilaku negatif remaja berkurang , setidaknya dirumah kita sendiri.

http://berita9.com/2012/04/28/tiga-fase-pendidikan-anak/

Cara Mendidik Anak Yang Baik Dalam Keluarga

Memiliki seorang anak merupakan dambaan dari setiap orang tua. Hal ini adalah salah satu unsur yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga. Anda juga tidak hanya menginginkan anak saja kan? Anda juga pastinya menginginkan anak anda sholeh, cerdas, jadi kebanggaan anda, betul ya? Maka jika itu yang anda inginkan, anda harus tahu cara mendidik anak yang baik dalam keluarga anda.

Pentingnya Tahu Cara Mendidik Anak Yang Baik


Anak itu merupakan aset di masa depan. Anaklah yang akan meneruskan keturunan dari keluarga anda. Jika anda tidak memperhatikan cara mendidik anak anda, suatu saat anak anda bukannya menjadi aset yang mengharumkan nama orang tuanya malah menjadi aib bagi keluarga. Saat ini banyak orang

1. Berikan Teladan

Anak-anak adalah pembelajar yang baik karena pada saat itu mereka sangat penuh dengan rasa ingin tahu. Mereka terlahir kedunia ini ibarat kertas yang putih dan bersih, tinggal orang tua dan lingkungannya lah yang akan menentukan apakah kelak dia akan mengisi kertas yang putih itu dengan gambar yang baik atau justru sebaliknya. Anak-anak belajar dengan cara melihat dan mendengar. Maka sebagai orang tua harus bisa meneladankan perilaku yang baik dan perkataan yang baik dan benar.

Banyaknya terjadi kegagalan dalam mendidik anak biasanya karena tidak bisanya orang tua meneladankan perilaku kepada anaknya. Pepatah mengatakan "buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya", pepatah ini memang benar sekali. Anak adalah cermin dari orang tuanya. Jika anda sebagai orang tua ingin mengajarkan kejujuran maka anda harus jujur, jika ingin mengajarkan sopan santun, maka anda harus sopan santun, jika anda ingin mengajarkan kedisplinan maka anda harus disiplin. contoh kejadian yang sungguh menggelikan dan banyak terjadi di masyarakat yaitu orang tua yang melarang anaknya merokok tapi dianya sendiri merokok. Makanya anak remaja yang merokok saat ini semakin meningkat.

2. Berikan Pengertian

Cara mendidik anak berikutnya yaitu mulai dari kecil orang tua harus memberikan pengertian-pengertian yang baik tentang kehidupan. Pengertian ini bisa dikatakan adalah teori-teori kehidupan yang baik yang akan berguna untuk kesuksesan anak di masa depan. Contoh pengertian tentang kejujuran, tentang kedisiplinan, tentang integritas, tentang menolong sesama, peduli lingkungan, bekerja keras dan lain-lain. Dengan pengertian-pengertian hidup yang baik maka anak anda akan lebih cepat dewasa. Dewasa yaitu bisa menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Untuk memberikan pengertian ini berarti orang tua harus menambah ilmu-ilmu tentang pengertian hidup yang baik, itu tandanya sebagai orang tua pun tidak ada kata untuk berhenti belajar.

3. Berikan Penderitaan Artificial

Fakta membuktikan bahwa banyak sekali orang yang sekarang sukses dahulunya adalah seorang anak yang lahir dari keluarga tidak mampu atau keluarga biasa-biasa saja. Hal ini ternyata anak-anak yang lahir dari keluarga tidak mampu mereka dipaksa untuk bekerja keras dan merasakan penderitaan dibandingkan dengan anak orang kaya. Penderitaan yang dialami waktu kecil itu akan membangkitkan mental anak-anak yang berguna untuk masa depan mereka. Pepatah mengatakan : "Orang yang selagi mudanya lemah, maka akan dipaksa bekerja keras di masa tuanya". Untuk menghasilkan seorang anak yang sukses jangan pernah memanjakan anak. Justru anak harus dilatih penderitaan dan perjuangan mulai dari kecil, hal ini bisa dimulai ketika anak sudah mulai berjalan logika berpikirnya.

Penderitaan artificial bukan berarti anak disiksa untuk menderita, tapi anak dikondisikan serba terbatas dan ada syarat untuk menginginkan sesuatu. Contoh ketika anak ingin dibelikan mainan, maka orang tua harus memberikan syarat yang syarat itu adalah untuk mendidik mental dan kepribadian anak. Misalkan "Kamu akan mama beliin handphone asalkan kamu rajin membereskan dan membersihkan kamar tidurmu" atau "Kamu akan mama belikan komputer jika kamu rajin belajar dan nilaimu rata-rata 8". Silahkan anda kreasikan sesuai kebutuhan.


4. Dorong anak untuk berani mencoba sesuatu

Seorang anak adalah pembelajar yang hebat, dan mereka dilahirkan dengan tidak ada rasa takut. Rasa takut itu mulai muncul ketika lingkungan mulai memasukan virus-virus ketakutan dengan kata-kata "jangan, Tidak boleh, awas". Sebagai orang tua harus memperhatikan keberanian anak, jika anak anda mulai menjadi orang yang tidak berani, pemalu, tidak percaya diri, maka anda harus mendorong dan memotivasi mereka untuk berani dan percaya diri. Contoh ketika ada pentas doronglah mereka untuk maju ke pentas seni baik itu menyanyi, menari, berpidato dan lain-lain. Ikutkanlah lomba-lomba untuk mengasah keberanian dan kepercayaan dirinya. Jika dalam lomba dia kalah teruslah dimotivasi untuk mencoba lagi dan berikan harapan terus menerus. Anak yang didik dengan harapan, kelak akan menjadi orang yang mampu bermimpi dan berjiwa besar.


Kesimpulan cara mendidik anak yang baik

Nah itulah sedikit tips tentang cara medidik anak dalam keluarga anda. Yang paling pokok dari semua cara mendidik anak adalah keteladanan dan perhatian dari orang tuanya. Mari kita jadikan anak-anak Indonesia generasi pemimpin hebat yang akan mengangkat Indonesia ke kancah persaingan dunia di masa depan.

http://frackasyster.blogspot.com/2013/04/cara-mendidik-anak-yang-baik-dalam.html

Fenomena Sexting Dikalangan Remaja

Saat ini fenomena sexting di kalangan remaja dapat dikatakan telah menjadi sebuah trend. Disebut trend karena sexting telah menjamur dan dilakukan oleh banyak remaja. Seiring dengan kemajuan dan tingginya teknologi handphone dan internet, banyak remaja yang melakukannya.

Kenapa harus diwaspadai dan orang tua diharapkan mengawasi prilaku sexting anak remajanya. Sebenarnya, sexting apa sih?

Sexting adalah tindakan mengirim pesan atau foto seksual secara eksplisit. Pengririman tersebut terutama terjadi antar ponsel atau handphone. Namun dalam perkembangannya, prilaku sexting ini memanfaatkan internet untuk mengunggah gambar atau update status di jejaring sosial mengenai tindakannya.
Istilah sexting pertama kali dipopulerkan di awal abad 21 ini dan merupakan portmanteau dari seks dan SMS, di mana yang terakhir ini dimaksudkan dalam arti luas mengirim teks mungkin dengan gambar.

Bentuk Prilaku Sexting Remaja

Karena dorongan memperoleh kesenangan sesaat, banyak remaja yang tanpa berpikir panjang mengambil gambar sendiri dalam berbagai pose menantang mengundang birahi. Kemudian gambar-gambar (dan tidak jarang yang dalam bentuk video) telanjang mereka kirimkan dalam bentuk file multi media.
Ironisnya, apa yang dilakukan remaja yaitu berfoto setengah bugil (toplesss) atau bahkan tanpa busana sama sekali adalah dengan sadar dan tanpa adanya paksaan dari siapapun.
Selanjutnya, gambar aksi sexting mereka kirimkan ke rekan-rekannya atau diupload ke Twitter dan Facebook untuk update status mereka di wall. Ada juga di antara mereka yang tanpa malu menyebarluaskan video adegan seks.
Bentuk lain prilaku sexting di kalangan remaja adalah menjual diri. Mereka mengiklankan diri di media online dan memanfaatkan sosial media. Remaja berprilaku sexting ini secara terang-terangan berani memasang tarif untuk servis mereka.

Pelaku sexting tidak saja dari keluarga dengan tingkat ekonomi bawah, tetapi juga ada yang dari kelaurga sangat mampu. Mereka melakukan aksi sexting ada yang bertujuan mendapatkan uang, namun yang tidak sedikit yang melakukannya murni demi kesenangan beraktivitas seksual.
Lucunya, ada juga prilaku sexting yang didorong narsisme. Ingin membuktikan kepada teman-temannya, bahwa ia berani melakukannya. Tentu saja ini bentuk narsisme yang salah kaprah.
Mereka rupaya lupa bahwa dampak prilaku sexting adalah sangat besar. Tidak saja bagi dia sendiri tetapi keluarga dan lingkungan sosialnya pun ikut kena getahnya.
Prilaku sexting dapat dikategorikan sebagai tindakan kejahatan dunia maya (cyber crime). Dan kecuali itu tindakan tersebut dapat diancam dengan Undang-undang anti pornografi

Peran Orang Tua

Perkembangan teknologi handphone dan internet yang hebat dan canggih semestinya dibarengi dengan kontrol ketat oleh orang tua. Orang tua seharusnya mendampingi dan memberikan bimbingan tentang penggunaan teknologi yang sehat. Orang tua jangan hanya memberikan fasilitas yang dibutuhkan, tetapi juga memberikan bimbingan. Prilaku sexting merupakan bentuk penyalahgunaan teknologi. Dan hal itu dapat terjadi sangat mungkin karena minimnya perhatian dan kontrol orang tua.

Remaja mempunyai rasa ingin tahu atau penasaran terhadap sesuatu sangat tinggi. Hal ini memberi peluang kepadanya untuk menyalahgunakan alat teknologi canggih yang ada di sekeling mereka.
Turut memberikan andil prilaku sexting di kalangan remaja adalah gaya selebritis ketika berbusana. Mereka ketika tampil di TV mengenakan pakaian yang serba minim. Termasuk para artis penyanyi yang video musiknya memperlihatkannya dan artis pendukung mengenakan pakaian serba minim.
Para peneliti dan juga orang tua di Inggris sangat mengecam prilaku selebritis Inggris yang memakai busana minim dan menari erotis pada saat bernyanyi.
Sehingga para orang tua di Inggris meminta pihak sekolah untuk mengontrol anak-anak mereka dalam menggunakan ponsel dan internet di sekolah.

Pelaku Aksi Sexting

Tidak hanya remaja, menurut hasil survei di Inggris disebutkan bahwa aksi sexting juga dilakukan oleh satu dari empat yang berumur 11 tahun. Mereka bertukar foto porno diri mereka sendiri dengan disispi pesan teks.
Dalam survei tersebut dikatakan juga bahwa 40 persen dari anak-anak berusia antara 11 hingga 14 tahun mengaku menggunakan handphone atau komputer untuk keperluan mengirim gambar diri mereka dalam keadaan tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.
Dan ada 4 dari 10 anak yang menganggap wajar mengedarkan foto perempuan tanpa busana di lingkungan sekolah.
Trend sexting sekarang ini, menurut para ahli adalah bentuk pergeseran yang signifikan dari anak-anak yang hanya melihat kini berubah menjadi pelaku dan pembuat.

Kiat Mengantisipasi Prilaku Sexting

Ketenaran yang ditimbulkan menyebabkan remaja merasa prilaku sexting tersebut adalah hal yang wajar. Mereka tidak sadar bahwa prilaku sexting adalah sangat berisiko.
Gambar dan video yang mereka ambil dengan handphone ketika sudah terupload di Facebook dan Twitter menjadi sangat mudah masuk ke laman pornografi.
John Shehan, director Exploited Child Division of the National Center for Missing and Exploited Children, Amerika Serikat menyebutkan bahwa sekali saja foto dan video diupload maka akan selamanya tersimpan dan tentu saja berakibat merusak reputasi, privasi, serta keamanan diri mereka.

Lalu bagaimana tips dan cara yang dapat dilakukan orang tua anak-anaknya terhindar dari trend aksi sexting? Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat dilakukan :

Gali informasi sebanyak-banyaknya mengenai sexting dan prilaku tidak pantas yang lain. Diskusikan dengan terbuka kepada anak. Jelaskan kepada mereka tentang bahaya dari prilaku sexting dan hubungan seksual di usianya sekarang. Jelaskan bahwa Anda sangat memahami keinginannya untuk diperhatikan lawan jenis, akan tetapi sexting bukan merupakan pilhan yang tepat.

Bantu anak untuk menghargai tubuhnya sendiri dan tunjukkan bagian yang tidak pantas dieksploitasi
Peraturan keluarga tentang pengiriman pesan singkat perlu untuk dibuat. Berikan batasan penggunaan handphone. Ketika malam hari hendak tidur, HP anak lebih baik disimpan oleh orang tua. Kontrol HP, instan messaging, surat elektronik, jejaring sosial anak. Berikan pengertian bahwa Anda tidak sedang mengganggu privasinya.

Sepakati konsekuensi jika tata tertib dilanggar. Berikan batasan akses internet, menyita HP, atau memblokir teman anak pemberi pengaruh negatif
Berikan HP tanpa kamera. Ingatkan agar anak membangun relasi di dunia nyata.
Jaga dan awasi agar anak-anak kita tidak terjerembab dalam prilaku tidak pantas, termasuk sexting. Artikel ini semoga dapat mengingatkan para orang tua untuk selalu waspada akan dampak negatif HP dan internet yang dapat disalahgunakan untuk sexting.

http://info-newsentertainment.blogspot.com/2012/12/fenomena-sexting-dikalangan-remaja.html

Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak


Dalam rangka memenuhi tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan, maka sudah saatnya kita meninjau kembali tentang bagaimana sikap kita selama ini dan yang akan datang terhadap anak-anak kita. Sebagai masa depan masyarakat dan bangsa sangat erat hubungannya dengan bagaimana sikap dan perilaku kita terhadap mereka pada saat sekarang.

Demikian pula dengan hal belajar para orang tua sangat perlu meninjau dan memperbaiki sikap dan perlakuannya terhadap anak sehingga tidak akan menimbulkan penyesalan dan disalahkan oleh mereka dimasa-masa yang akan datang. Orangtua sangat perlu memberikan bantuan dalam rangka mengantarkan mereka kepada sikap belajar yang benar dan efektif sehingga pengetahuan, keterampilan dan keluhuran budi akan menghiasi kepribadiannya.

Kesibukan orangtua dalam mencari nafkah keluarga , hendaknya tidak mengorbankan masa depan anaknya. Sebelum terlambat sebaiknya orangtua dapat mengatur waktunya, karena hal itu lebih penting daripada menangisi kesalahan dimasa yang akan datang. Karena masa depan anak sangat erat hubungannya dengan apa dan bagaimana kehidupan belajar yang dibiasakan dalam kehidupan belajar yang diterapkan oleh orangtua dimasa kini. Orangtua yang baik dan bijaksana akan memikirkan dan berbuat sesuatu yang baik bagi kehidupan anak-anaknya dimasa datang. Istilahnya, walau kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki, orangtua akan berusaha sekuat tenaga demi masa depan anak-anaknya.

Anak yang ideal yang selalu kita do’akan dan harapkan kehadirat Allah, adalah mereka yang mempunyai keadaan yang baik, bukan saja dalam aspek fisik biologis tetapi juga psikis dan sosial serta keagamaannya. Kita selalu mendambakan anak-anak menjadi buah hati dan harapan dimasa depan. Yakni anak-anak yang cerdas, terampil, dan taqwa. Jadi bukan saja kita upayakan anak-anak yang ayu, cantik, gagah, dan sehat, tetapi juga luhur budi pekertinya.

Anak-anak dan remaja pada masa sekarang perlulah mendapatkan perhatian dan bimbingan yang penuh kasih saying dari kedua orang tuanya dan orang-orang dewasa lainnya dalam rumah tangga, agar mereka dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang terarah kepada kebahagiaannya antara lain dalam bidang proses belajar. Tidaklah tepat jika kita membiarkan tanpa pengarahan yang tepat atau menyerahkan seutuhnya kepada bapak dan ibu guru di sekolah, sebab disamping waktu yang sangat terbatas juga perhatian dan kasih saying yang tulus seperti yang didapatkan dari ayah dan ibu.

Orangtua yang baik pasti bukan hanya akan memperhatikan aspek lahiriah dan badaniah saja, namun tidak kurang pentingnya juga memperhatikan permasalahan perkembangan rohaniah dan keadaan belajarnya. Dalam aspek lahiriah, orangtua dapat memberikan makanan dan pakaian yang cukup, namun anak sangat memerlukan perhatian dan bimbingan dalam kegiatan belajar dan sekolahnya.

Orangtua harus memperhatikan suasana rumah tangga yang tenang dan ruang belajar anak yang memungkinkan mereka dapat nyaman belajar. Suasana rumah tangga yang hiruk-pikuk dengan suara radio dan televisi yang tidak terkendali akan sangat mengganggu konsentrasi belajar anak. Peralatan tulis perlu disiapkan dan ruang belajar yang bersih, terang, dan nyaman.

Disamping itu, orangtua hendaknya memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dan mendalami ilmu pengetahuan yang disukainya. Jadi bukan anak yang menyesuaikan diri dengan kehendak dan paksaan orangtua. Kemudian barulah kita menyediakan beberapa fasilitas yang mendukung proses belajar-mengajar.

Untuk suksesnya studi anak di sekolah, orangtua perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Pertama, pertengkaran ayah ibu selalu mengganggu perasaan dan pemikiran anak. Perasaan anak menjadi kacau dan kebingungan anak memihak siapa. Pertengkaran tidak selamanya baik bagi proses pembentukan kepribadian anak yang utuh.

Kedua, orangtua yang baik hendaknya jauh sebelum mempunyai anak dan keturunan telah berniat untuk menjadikan rumah tangganya yang berbahagia dan terbebas dari penyelewengan. Anak-anak yang semula sangat membanggakan dan kagum akan figure ayah dan ibunya akan runtuh jika mengetahui perilaku orangtuanya yang tidak baik.

Ketiga, anak-anak kita walaupun sama jenis dan tinggi badannya tidaklah sama dalam aspek-aspek lain yang dimilkinya. Misalnya dalam hal kecerdasan. Anak-anak kita mungkin mempunyai IQ 100 tetapi anak mungkin memiliki IQ 130. Jelas taraf kemampuannya dalam berpikir dan menyelesaikan permasalahan dan proses belajarpun akan berbeda.

Keempat, jangan memaksakan kehendak orangtua terhadap anak, karena anak masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Janganlah diminta dan diharapkan sama, sebab memang berbeda dalam kenyataannya. Jika anak kurang minatnya dalam bidang matematika dan tertarik kepada masalah-masalah sosial, orangtua sebaiknya mengarahkannya sesuai dengan minat dan bakat agar dapat berkembang secara maksimal. Janganlah orangtua memaksakan keinginan dan kehendaknya agar anak menyamai minat dan bakatnya, padahal jelas bahwa anak adalah anak kita dan bukan diri kita sendiri.

Kelima, orangtua seharusnya selalu memperhatikan perhatian dan penggunaan waktu dari anak-anaknya. Jangan dibiarkan anak-anak meneruskan kebiasaan dan berperilaku yang kurang terpuji. Untuk itu, orang tua perlu menjalin komunikasi yang baik dengan anak, sehingga interaksi akan berjalan baik.

Keenam, orangtua hendaknya senantiasa memantau pergaulan anak-anaknya, namun bukan berarti mengekang mereka. Karena tidak semua pergaulan baik untuk anak, hal ini sangat penting untuk mendukung kemajuan belajar anak. Anak-anak perlu dijauhkan dari pergaulan dengan anak-anak yang mempunyai perilaku yang tidak sehat.

Ketujuh, orangtua hendaknya memasukkan anaknya ke sekolah yang baik, yaitu baik dari segi sarana maupun dari kualitas para pendidiknya. Karena dengan kualitas sekolah yang baik, maka pendidikan anak akan berjalan dengan baik, sehingga perkembangan kecerdasan anak dapat tumbuh secara maksimal.

Kedelapan, orangtua hendaknya menghindarkan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, misalnya terlalu banyak mengkritik, hanya senang memerintah tanpa memperhatikan kepentingan anak, menganggap anak kecil terus, jika berdiskusi ingin menang sendiri, tidak membiarkan anak mengembangkan pengertiannya, dan menyuguhkan pengalaman-pengalaman yang kurang baik.

Demikianlah beberapa hal yang patut diketahui para orangtua dalam mendidik anak. Disamping kemampuan intelektual, kondisi-kondisi di dalam keluarga sangat penting untuk mendukung keberhasilan belajar anak.***

http://edukasi.kompasiana.com/2013/10/07/peran-orangtua-dalam-mendidik-anak-596469.html

Sunday, September 29, 2013

Demensia Beda dengan Pikun


Seiring meningkatnya usia, kemungkinan mengalami penurunan fungsi kognitif otak pun meningkat. Penurunan tersebut bisa mengakibatkan gangguan atau hilangnya daya mengingat. Biasanya orang menyebut demensia sebagai pikun, padahal keduanya adalah kondisi yang berbeda.

Demensia adalah gangguan yang menimbulkan kerusakan progresif pada sistem saraf yang akan menghasilkan kumpulan gejala. Beberapa ciri demensia yang paling umum adalah penurunan daya ingat, penalaran, menilai, serta berbahasa.

"Pikun adalah terminologi awam yang berkonotasi lupa. Tetapi pikun atau lupa pada usia lanjut bukanlah gejala demensia atau Alzheimer stadium awal," kata dr Arya Govinda Roosheroe, Sp PD-KGer dari Persatuan Gerontologi Medik Indonesia di Jakarta (31/5/13).

Ia menambahkan, orang yang pikun biasanya hanya lupa pada detail, sedangkan penderita demensia bisa mengalami lupa sama sekali pada apa yang terjadi dengan dirinya. Mereka bahkan kehilangan kemampuan melaksanakan tugas yang paling mendasar seperti makan, berbicara, atau buang air.

Tanda dan gejala yang dialami orang yang menderita demensia juga dapat menunjukkan adanya penyakit Alzheimer atau gangguan otak lain.

Arya menambahkan, demensia bukanlah bagian dari proses penuaan, melainkan suatu kondisi yang memengaruhi otak. "Demensia melibatkan kematian sel-sel otak secara abnormal, penyakit ini bisa dialami siapa saja, bahkan pada orang berusia muda," katanya.

Pada orang muda, demensia bisa timbul karena cedera berat, misalnya pada petinju atau korban kecelakaan. "Pada orang yang punya kebiasaan minum alkohol juga bisa kena," imbuhnya.

Perjalanan penyakit demensia berjalan perlahan. Karena itu, penting dilakukan diagnosis dini karena penanganan yang tepat akan memengaruhi perkembangan penyakit tersebut. "Yang terpenting lansia harus dirawat sebaik-baiknya, terutama bila mudah lupa," kata Arya.

http://health.kompas.com/read/2013/06/01/11401953/Demensia.Beda.dengan.Pikun.

Wednesday, May 8, 2013

FoMO, Fobia Baru Para Pecandu Internet !


Media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter tak dapat dilepaskan dari kehidupan orang-orang masa kini. Apalagi keduanya dianggap sebagai sarana untuk mengetahui tren yang ada atau update kabar dari teman. Namun siapa sangka jika kondisi ini memunculkan fenomena baru yang disebut dengan 'fear of missing out' (FoMO). Apa itu?

Fenomena ini terjadi ketika Anda membuka akun jejaring sosial lalu mengetahui teman-teman Anda tampaknya asyik membahas sesuatu dan Anda merasa sedih atau tertinggal karena tak dapat mengikuti obrolan itu, bahkan tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

Konsep baru ini merujuk pada kekhawatiran orang-orang jika melihat orang lain terlihat lebih bahagia dan merasakan kepuasan yang lebih besar daripada mereka. Keadaan ini biasanya ditandai dengan keinginan untuk tetap terhubung dengan media sosial secara terus-menerus, terutama untuk mengetahui apa yang orang lain lakukan.

Hal ini mendorong tim peneliti dari University of Essex, Inggris untuk menggelar studi pertama tentang fenomena yang baru muncul tiga tahun belakangan atau ketika popularitas media sosial mulai merangkak naik ini dan hasilnya akan dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada bulan Juli 2013.

Menurut ketua tim peneliti, psikolog Dr. Andy Przybylski, FoMO sendiri sebenarnya bukanlah hal baru. "Yang baru adalah peningkatan penggunaan media sosial dan hal itu menawarkan semacam jendela baru untuk melongok ke dalam kehidupan orang lain. Tapi bagi orang yang memiliki kadar FoMO tinggi hal ini bisa menimbulkan masalah karena mereka cenderung selalu mengecek akun media sosialnya untuk melihat apa saja yang dilakukan teman-teman mereka hingga mereka rela mengabaikan aktivitasnya sendiri," katanya.

"Saya kira Facebook itu memang memiliki manfaat tersendiri, tapi persepsi tentang bagaimana kita menggunakan media sosial itu sendiri berubah. Kita tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk iseng membukanya atau mengakses akun lewat ponsel sepanjang waktu. Kita jadi cenderung menggunakannya untuk mengikuti kehidupan orang lain dan fenomena ini belum pernah ada sebelumnya karena kita akan terus mendapatkan notifikasi terkait aktivitas orang lain itu," terang Dr. Przybylski.

Untuk itu, Dr. Przybylski pun menyarankan agar setiap orang belajar untuk mengendalikan penggunaan media sosial, terutama mengurangi frekuensinya menjadi sedang atau biasa-biasa saja. "Jika tidak, fenomena ini akan menciptakan aspek pedang bermata dua dari penggunaan media sosial," tandasnya.

Selain berhasil menciptakan sebuah metode untuk mengukur tinggi-rendahnya kadar FoMO yang dimiliki seseorang, dari studi ini peneliti juga menemukan bahwa orang-orang yang berusia 30 tahun ke bawah terlihat mempunyai kecenderungan paling tinggi mengalami FoMO dibandingkan kelompok usia lainnya.

Lagipula kelompok ini dilaporkan paling sering menganggap media sosial sebagai salah satu hal penting bagi mereka, sehingga mereka lebih bergantung pada sarana ini sebagai bagian dari interaksi sosial, ketimbang mungkin tatap muka langsung.

Studi ini pun menemukan faktor sosial juga memainkan peranan penting di balik munculnya fenomena FoMO ini. Dr Przybylski menyatakan ketika 'kebutuhan psikologis' seseorang tak terpenuhi, ia akan lebih cenderung melampiaskannya melalui media sosial dan FoMO menjembatani kesenjangan tersebut. Itulah sebabnya mengapa sebagian orang cenderung lebih banyak menggunakan media sosial daripada yang lainnya.

Ketika melihat efek FoMO terhadap kehidupan seseorang, tim peneliti juga menemukan bahwa orang yang diketahui mengidap FoMO level tinggi lebih cenderung tergoda untuk SMS-an dan bertukar email ketika berkendara. Tak hanya itu, orang-orang ini juga lebih mudah teralihkan perhatiannya oleh media sosial saat mendengarkan kuliah dan lebih concern terhadap penggunaan media sosial ketimbang aktivitas lainnya.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi orang-orang yang sudah terjebak dalam FoMO ini? "FoMO terjadi ketika kita mengabaikan pengalaman kita rasakan sendiri karena terlanjur terobsesi pada pengalaman orang lain yang tidak kita alami," terang psikolog Arnie Kozak, Ph.D., penulis buku Wild Chickens and Petty Tyrants: 108 Metaphors for Mindfulness tapi tidak terlibat dalam studi ini.

Agar tak terjebak pada kondisi itu, Kozak pun mengingatkan agar setiap orang hanya melihat bagian terbaik dari pengalaman orang lain yang mereka bagikan lewat media sosial. Setelah itu, jangan pernah menganggap kehidupan Anda membosankan karena pengalaman setiap orang tentu berbeda satu sama lain atau merasa ketinggalan jaman.

"Gunakan FoMO Anda sebagai katalis untuk menciptakan target yang realistis. Anda dapat memanfaatkannya sebagai inspirasi," saran Kozak, seperti dikutip dari Emaxhealth, Sabtu (4/5/2013).