Saturday, May 28, 2011

PENCERAHAN STROKE DAN DEPRESI OLEH DOKTER INU WICAKSANA

Hitapria dan teman-temanku TLDJog-70 tercinta,

Senang rasa hatiku membuka mailist ini dan membaca kau sudah di rumah dan giat berlatih untuk pemulihan dari stroke. Setiap orang di usia spt kita bisa mengalami hal-hal seperti itu secara tak terduga. Seperti aku juga di Okt 2009 tiba2 harus masuk ICCU Sarjito dan harus pasang satu "ring" dan satu "balonisasi" unt pembuluh jantungku. Kemudian Nop 2010 dan Maret 2011 mendadak aku didiagnosis katarak dgn robekan retina yg mengancam kebutaan dan harus operasi mata tiga kali unt kedua mataku. Setiap orang, biar dokter ahli sekalipun, di usia di atas 50 th akan mengalami gangguan2 fisik yg tak bisa dielakkan.

Disini aku tak bermaksud "mengguruimu" atau menasehatimu, aku hanya ingin memberikan uraian sedikit krn menyangkut pekerjaanku dan sedikit pengetahuan saja yg mungkin penting untukmu dan teman2 lain. Sebelumnya aku mohon maaf bila aku berlagak memberi pengetahuan macam ini. Ini hanya krn kecintaanku padamu dan teman2 lain TLD-70.

Nah, Hit, kukira dokter syarafmu pasti telah memprogram obat2an post stroke yg harus diminum rutin. Obat2 untuk mengontrol tensi (bila hipertensi), menurunkan kholesterol dan trigliserid (bila diatas 220), menurunkan LDL (bila diatas 150), mengontrol gula darah (bila daibetes), memecah thrombus dan mengencerkan darah (spt Flavik, dll), vitamin2 otak untuk memperbaiki metabolisme otak, obat untuk mengaktifkan motorik otak ke otot2 yg "pingsan".

Stroke (pukulan) adalah pecahnya pembuluh darah otak krn faktor2 resiko diatas yg menyebabkan aliran darah ke bagian2 jaringan otak terganggu dan jaringan2 otak itu bisa nekrose (mati). Tergantung nagian apa yg terkena. Bila pusat motorik, maka gerakan akan terganggu. Bila pusat bicara (lobus temporalis) maka berbicara akan terganggu. Bila "batang otak" atau "fungsi luhur" yg kena maka penderita tak kan bisa mengenali orang lagi atau tak mengerti pembicaraan orang sekaligus ia sendiri tak bisa bicara (aphasia). Pusat motorik yg terkena itulah yg paling ringan, paling memungkinkan untuk diobati dan dilatih untuk pulih kembali.

Dalam pemulihan, dampak stroke juga tergantung usia. Aku merawat bapakku yg terkena stroke, setelah terkena serangan jantung bbrp tahun sebelumnya, di usia lebih dari 64 th. Bapak mengalami depresi paska stroke, sehingga menolak untuk berlatih. Petugas rehab fisioterapis Pantirapih yg datang ke rumah diberinya uang dan disuruhnya pulang. Aku susah payah merawatnya dgn memberikan obat2 antidepresi dosis kuat. Aku juga harus mengantar bapakku setiap bulan untuk kontrol ke dokter syarafnya di Pantirapih.

Aku ingat bapakmu almarhum juga terkena stroke dulu. Tapi mungkin "fungsi luhur"nya yg terkena sehingga tidak bisa berbicara dan tak bisa mengenali bapak ibuku yg datang menengok. Kedua bapak kita itu terkena stroke di usia diatas 63-64 shg pemulihannya sangat sulit dibanding yg terkena di usia di bawah 60an.

Berdasar penelitian, 80% dari orang yg terkena stroke di usia produktif (kita belum pensiun, jadi masih produktif kan?) mengalami depresi. Dari taraf ringan, sedang, sampai seberat-beratnya. Ini reaksi wajar. Karena orang yg masih giat bekerja dan berkarya, bergerak leluasa mobilitas tinggi tiba2 harus terkapar tak bisa apa-apa, pastilah mengalami sindrom depresi. Yaitu spt : sedih dan putus asa berkepanjangan, tak bergairah dlm semua aktivitas kehidupan, merasa tidak tertolong lagi, merasa tak berguna, anhedonia (tak bisa merasakan senang padahal semua orang bisa bersenang-senang), menolak segala pertolongan, kehilangan semangat hidup, menurunnya nafsu makan, dan gangguan tidur. Dan yg paling merepotkan orang2 disekitarnya adalah gejala sensitif, mudah tersinggung atau iritable.

Karena itulah hampir 60% dari semua penderita stroke yg ditangani dokter neurolog dirujuk ke psikiater untuk raber (rawat bersama). Jadi aku banyak sekali menerima penderita2 stroke ini dari rekan2 nurolog di Pantirapih, Bethesda, PKU dan RSUD Muntilan. Aku harus memberikan psikoterapi, terapi perilaku dan obat antidepresan dgn penuh kesabaran karena mereka ini bahkan membentak-bentak padaku dan bilang tak mau ditangani olehku (penolakan dari pasien depresi).

Tapi aku percaya dan yakin kau tak mengalami gejala depresi seperti itu Hit. Dari gaya penulisanmu, pilihan kata-katamu dlm tulisanmua di mailist ini aku bisa menilai kau tak terkena sindrom depresi ini. Tapi setiap manusia dalam sejarah hidupnya, pasti mengalami sindrom depresi 3 atau 4 kali. Ini tak bisa ditolak. Karena setiap manusia pasti harus mengalami "kehilangan objeck-love" dalam hidup ini. Dan obyek yg dicintai itu bisa apa saja. Selain orang yang kita cintai, juga harta, pekerjaan, jabatan, harga diri dan kepercayaan orang lain.

Depresi terjadi ditentukan oleh status mental atau struktur kepribadian sebelumnya. Struktur kepribadian terbentuk lengkap di usia 17 th, tapi proses pembentukannya sejak masa kecil. Nah, kau adalah anggauta Pramuka Gudep 21 (anak buah Kak Moeng Murjadi) yg sangat kukagumi diwaktu aku sendiri Gudep Garuda Pancasila waktu kita masih bercelana pendek di SMP. Gemblengan Kak Mung pada anak2 Gudep 21 spt kamu, Kuncoro Aji Sidharta, Bambang Poejono, Edmart dll luar bisa hebat untuk pembentukan kepribadian, sampai aku iri waktu itu. Ini berlanjut ke SMA, dimana kita sama2 dididik Kak Giarto (saingan Kak Moeng).

Lalu kamu aktif dalam kegiatan Pecinta Alam, mendaki gunung di Mermoung (Merapi Merbabu Mountinering). Aku sendiri tak mampu seperti kamu. Nah sebagai "profesional scouts" Saka Dhirgantara murid Kak Moeng dan pendaki gunung Mermoung tentu pukulan stroke yg mengganggu gerak motorik itu bukan apa-apa. Kau pasti dengan penuh semangat akan melatih anggauta gerakmu seperti kau mati2an mendaki Sundoro, Sumbing, Merbabu dan Merapi dulu. Semangat yg tak kunjung padam. Ini modal besar untuk pemulihanmu Hit.

Lalu mengapa aku harus menjelaskan tentang sindrom depresi itu? Sudah kukatakan bahwa itu sesungguhnya reaksi wajar yg bisa terjadi pada setiap manusia. Nah "mengenali, memahami, dan menerima" sindrom itu, bila terjadi, merupakan langkah pertama yg terpenting untuk menghilangkannya. Bila kita mengenali dan memahami gejala tubuh kita sendiri, secara alami kita akan mudah mengantisipasinya (tak perlu dengan obat antidepresan).

Apakah para psikiater yg nampak "hebat" mengobati orang stres dan depresi itu tidak bisa mengalami stres dan depresi sendiri? Psikiater manusia juga sehingga seringkali tiba2 ia sudah jatuh dalam kondisi depresi. Di awal 2010 aku mengalami gejala2 itu. Di bln Okt 2009 aku masuk ICCU 4 hari dan harus pasang "ring". Sesudah itu segala macam larangan, termasuk berhenti merokok, harus kujalani.

Sebulan kemudian, aku berangkat praktek malam hari ke Pantirapih, mungkin masih lemah atau koordinasiku masih lambat, aku nabrak wanita tua istri tukang becak di jembatan Jetis. Korban kubawa lari ke IGD Sarjito, tapi tak tertolong. Aku ditahan kepolisian dan harus berurusan dgn polisi dan kejaksaan ber minggu2. Sampai akhirnya aku dibebaskan tapi tak diperkenankan menyopir mobil lagi sampai sekarang.

Aku harus tergantung pada sopir, atau anakku laki-laki, atau istriku untuk pergi kemanapun. Nah sindrom depresi kurasakan di bulan2 awal 2010 sampai aku tak mampu menulis di mailist ini dan di FB tiga bulanan. Tapi aku harus mengatasi gejala-gejala itu secepatnya karena nanti bagaimana aku mengobati pasien2 depresi itu dokternya sendiri depresi berat?

Caranya, ya seperti diatas tadi, secepatnya "mengenali, memahami. menerima" untuk secara alami "mengantisipasinya". Hehe, ya, ditambah lagi ajaran falsafah Jawa yang kudapat dari ibumu, "rila, sabar, narima". Kalau kita bisa "rila" dan "menerima" hal itu, maka hal itu tak akan mengganggu hati kita lagi dan secara otomatis kita akan mampu berjuang untuk mengantisipasinya.

Masih ditambah lagi dengan ilmu baru di biang mental and behaviour saat ini, Mind Sciences. Program di otak kita setiap pagi, "aku bisa mengatasi ini, dan aku akan gembira hari ini". Maka alam seisinya akan menyambut program otak kita ini dan mewujudkannya seketika. Ini mirip dengan latihan kita dikepanduan dulu "disini senang, disana senang, di mana2 hatiku senang". Hehe, alih2 menasehatimu, padahal sesungguhnya menasehati diriku sendiri.
Nah, sekian dulu, selamat berlatih dengan semangat pendaki gunung Hit!
Semoga kita bisa bertemu di bulan Juli nanti.
Salam hangat.
Inu Wicaksana (twittr @inukertapati).

HITAPRIYA SUPRAYITNO:

Ytc Inu temanku sejak SMP ......

Terima kasih sekali saya sudah dikirimi suatu tulisan yang luar biasa.
Terima kasih telah berusaha menyemangati saya dan membesarkan hati saya.
Terima kasih sekali telah memberi tambahan pencerahan tentang stroke dan depresi.
Memang betul perkenalan kita berdua ini juga dinaungi oleh pertemanan orang tua kita berdua.
Saya masih ingat betul Bu Lastin, keng ibu.

Memang betul, alhamdulillah saya rasa sampai saat ini saya tidak terkena depresi akibat penurunan fisik yang serius ini.
Mudah2an seterusnya saya juga masih dianugerahi semangat untuk berusaha pulih secara fisik.

Mengapa kok bisa begini.
Nomer satu karena kebodohan/ke-tidak-tahu-an saya sendiri.
Waktu hari pertama sampai ke-empat saya masih belum tahu kalau akibat fisiknya seperti ini.
Saya pikir di RS barangkali butuh seminggu, kemudian butuh istirahat 1-2 minggu, kemudian akan kembali normal.
Ternyata salah besar, makanya waktu teman2 menegok Rima misalnya, saya masih bisa tertawa2.

Hari ketiga ada teman yang pernah terkena stroke nengok saya.
Dengan sengaja dia berbicara serius kalau jangan khawatir, semuanya nanti akan bisa balik kembali.
Yang penting harus ditangani fisioterapist dan ahli akupuntur.
Dia memang sudah berada dalam kondisi normal.

Walah, walah ..... baru saya lebih berpikir ........
Oooooo ......... makanya waktu Asti nunggu saya digerbang UGD terlihat sekali kalau dia sangat khawatir ........
Ooooooooo ....... makanya waktu saya terbaring di bed UGD, dia melihat saya dg ekpresi serius & khawatir .......
Oooooo ....... makanya Asti setelah menghilang sebentar ........ berbisik ke saya ...... nanti bisa recovery kok ........
He, he, he ....... ternyata dalam hal ini saya masih sangat bodoh ........

Untungnya teman yang menegok tadi sudah kembali normal ......
Ok jadi mestinya saya tidak perlu pesimis, saya bisa optimis ....... hanya tinggal PROSES .........

Nah selama di RSAL saya sudah difisioterapi .........
Selama di RSAL juga saya banyak mengalami kebodoh2an bersemangat untuk bisa mandiri .........
Kalau diceritakan pasti sangat terlihat kalau bodoh akibat kurang informasi bagaimana sebaiknya berlatih fisik agar sembuh ........

Dari hasil diskusi dg fisioterapist, dari kata2 bu dokter, dari pengalaman sendiri sudah termasuk kebodohannya, dari membaca buku yg diberi Asti, dari sms teman2 ......
Akhirnya saya mencoba me-rangkum2 se-ada2nya, se-mampu2nya saya berpikir (saya kan bukan dokter) ........
Saya mikir sendiri, distruktur sendiri ......... ooooooo .. menurut saya yg harus dilakukan ini harusnya begini, tahapannya begini, prinsip dasarnya begini .......
He, he, he, he, .......... hasil rangkuman sendiri untuk keperluan sendiri ...........

Aja diece lho Asti ....... aja digeguyu aku wis tau ngeyel marang Yth Ibu Kadiskesal dr PSP SpOG .........
Iki proses-e durung rampung, mbok menawa isih 1/4 jalan ........
Dadi isih kudu rumangsa ati2 nek pikirane mesthi ana salahe ...... mugo2 ora patio gedhe ......
Dadi ish kurang luwih bener ........
Kuwi mung sak dermo, lha wong butuh, ya mestine apike ya rada2 mikir sethithik, ra ketang mung sethithik banget ......

Yang paling terakhir, saya kadang2 berpikir .......
Kenapa kalau bela diri itu harus latihan ber-ulang2 .......
Kenapa kok pemain badminton kita itu harus berlatih pukulan yg sama ber-ulang2 .......
Kenapa setiap olahragawan harus rajin lari ........
Kenapa kok tentara itu harus belajar berjalan tiarap ber-ulang2 .....
Terus ingat jaman dulu ..... kami seregu juga harus latihan lari untuk menghadapi LT .....
He, he, he ........ jer basuki mawa bea ......
Yah, jadilah saya harus mau gigih berlatih secara benar ......

Matur nuwun Inu ....

Salam.
Hit.

HERBUD:

Mas Inu ysh...ysb....
Tulisan mas Inu itu tentu tidak hanya sangat bermanfaat bagi mas Hita....tetapi juga sangat bermanfaat bagi siapapun yg membaca nya, terutama saya....
Khususnya tentang mengatasi depresi itu...
"Mengenali,memahami, menerima....dan mengatasinya..."
Terima kasih mas Inu...
Wassalam Herbud

EDMART:

Inu dan teman2 semua:

Ketika aku mencoba memulai mailing list ini, keinginan utamanya hanyalah sekadar mengumpulkan kembali kita bersama, silaturahmi mengingat kebersamaan kita selama tiga tahun jauuuh empatpuluh tahun lalu. Dalam perkembangannya ternyata maillist ini berfungsi lebih luas, lebih dalam dan lebih mumpangat ....

Apa yang disampaikan Inu, diamini oleh mas Herbud, saya kira juga diamini oleh kita semua. Suatu ketika saya ditanya oleh seorang calon mahasiswa, pinter itu yang bagaimana. Saya bilang, pinter itu bukan hanya soal kemampuan kognitif, mampu menyelesaikan problem skolastik, tetapi pinter itu juga harus menuju ke "wicaksana" dan "paramarta". Nah, Inu sudah punya predikat wicaksana itu semenjak baru dilahirkan, jadi sepantasnyalah memberi masukan (karena dia tidak mau disebut "menggurui" dan "menasehati") sebagai yang dia tulis.

Memang pada dasarnya pinter itu terutama ada pada pemahaman (kognitif), dan mesti diluaskan menjangkau ranah afektif (kepedulian, kearifan). Namun tidak bisa dilupakan adalah ranah spiritual, karena terdapat banyak hal yang tidak pernah dapat kita prediksi secara begitu saja, tidak dapat kita duga sebelumnya hanya dengan tangkapan indera, tidak pernah dapat dinalar dengan nalar manusia yang terlalu cupet untuk dunia seisinya ini. Inilah ranah keimanan kita, kepercayaan kita kepada Yang Maha Menentukan, Dalang yang Memetakan Perjalanan kita. Orang menyebut Dia dengan berbagai sebutan, saya menyebutnya Allah subhannahu wa taala.

Ketika kita mengatakan "rila", "nrima", "sabar", itu sifatnya transitif atau intransitif? Apakah sifat itu hanya sekadar sabar, menerima apa adanya dan rela terhadap diri sendiri? Kayaknya nggak cuma itu ya. Kita juga perlu ridla, ikhlas dan shobar kepada Sang Pembawa Lakon. Tidak ngundhat-undhat dan menuntut: "why me, why not others, why others seem to be always better than me?".

Makanya, marilah kita sama-sama selalu bersyukur. Bersyukur ada kesembuhan yang semakin meningkatkan kokohnya ruhani terutama, karena jasmani kita memang jelas2 akan mengalami degradasi: kita hanya dapat membantunya melalui berjaga diri. Namun juga bersyukur ada Inu, ada Hita, ada Asti, ada seluruh teman2 yang aktif maupun tidak aktif di mailing list ini tetapi memberi nilai dan wawasan baru dalam perjalanan kita.

Nuwun Nu, dan teman-teman semua. BTW, tanggal 28 Mei ini diundang SMA N 1 diminta mewakili alumni pada acara wisuda, kerjaan rutin tiap tahun ...

makaten,

edmart

No comments:

Post a Comment