Saturday, December 1, 2012

PRIBADI PENCURIGA, PENDENDAM, DINGIN TANPA HUMOR



Inu Wicaksana/Psikiater, Budayawan, Seniman
Kadang2ku TLD70 tercinta,Bersama ini saya upload tulisan saya untuk KR Minggu besok yg saya selesaikan semalam, bersama 13 foto yg sudah saya posting semua di BBM. Sesudah ini baru saya lanjutkan dua judul tulisan saya tentang Tour Surabaya kemarin. Juga sebuah postingan di Katy All Years di Fb tentang Sarasehan di SMA kita Minggu lalu yg dipimpin Ndan Edmart sebagai pimpinan KATY sekarang. Saya hadir hanya sebagai reporter sekaligus sopir penjemput Komandan pulang. Tgl 29 Des besok Reuni Akbar, saya harapkan paling tidak teman2 di Jogja bisa datang, dan esoknya Musyawarah Nasional untuk memilih Ketua Katy yg baru. Semoga Ndan Edmart bisa terpilih lagi menjadi Presiden Katy All Years dan saya sebagai Jubir Presiden Andi Malarengwicaksana yg tidak ikut korupsi. Sebagai Kepala Paspampres adalah Jendral Sugito. Kita harus bangga Komandan kita menjadi Presiden Katy keseluruhan.

Salam. Oh ya, foto2 ini semua hari pertama di Surabaya TLD70 night, tak usah dgn keterangan ya. Foto2 di Kapal hari kedua nanti menyusul ya. Semua yg saya pasang di BBM saya upload pula disini. Tolong beritahu gampang mbukaknya tidak, krn sudah saya kompres spt le ngajari Japong dulu. Makasih.
IW.

PRIBADI PENCURIGA, PENDENDAM, DINGIN TANPA HUMOR

            Seorang wanita, 27 tahun, karyawan di satu perusahaan swasta, menulis ke rubrik kita tentang seorang laki-laki, 35 tahunan, karyawan baru di tempat kerja yang sama, yang mencoba mendekatinya untuk menjalin hubungan cinta. Wanita itu sudah menyelidiki secara cermat karakter pria itu dari rekan-rekan sekerjanya dan orang-orang di tempat kerjanya dulu.

            Laki-laki itu beberapa kali pindah-pindah kerja, sering bentrok dengan rekan-rekan kerjanya dan merasa selalu tak cocok dengan lingkungan kerjanya. Ia selalu curiga dan tak bisa mempercayai orang lain meski tak ada alasan nyata, tak mau menerima kritik meski ada bukti kekurangannya, suka mencari-cari kesalahan orang lain dan,  cemburuan dan tak bisa gojegan (humor). Wanita itu bertanya apakah sifat-sifat yang macam itu bisa dirubah? Klau bisa bagaimana caranya? Bila tak bisa, meski ia ganteng, ia tak bisa mencintai laki-laki seperti itu.

            Baiklah. Dengan uraian sepintas macam itu, tentu masih kurang bagi saya untuk menentukan apakah itu suatu ciri (trait) kepribadian, gangguan kepribadian tertentu, atau malah gangguan jiwa yang lebih berat, misalnya psikosis. Dibutuhkan keterangan (alloanamnesis) yang lebih terperinci dari keluarga dan orang-orang disekitar priya itu, ditambah wawancara tatap muka dengan psikiater secara sistematis, dan serangkaian test psikologis dari psikolog untuk menunjang diagnosis.

            Tapi kira-kira, secara garis besar, saya bisa memberikan asumsi atau dugaan tentang karakter dan pola perilaku seperti itu. Pola perilaku macam itu bila menetap (pervasif), bisa disebut ciri kepribadian paranoid.

            Ciri kepribadian  adalah pola yang menetap dari persepsi, cara mengadakan hubungan, dan cara pikir tentang lingkungan dan diri sendiri, yang dinyatakan secara luas di dalam konteks kehidupan sosial dan hubungan pribadi dari seseorang. Ciri kepribadian baru disebut sebagai gangguan kepribadian bila ciri-ciri kepribadian seseorang itu tidak fleksibel dan sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya, sehingga mengakibatkan hendaya (ketidakmampuan) dalam fungsi sosial dan pekerjaannya, dan menimbulkan penderitaan subyektif bagi dirinya.

            Pada kasus priya itu, ada riwayat pindah-pindah pekerjaan, selalu bentrok dengan rekan-rekan sekerja, dan selalu tidak cocok dengan lingkungan. Kemungkinan besar dia sudah mengalami suatu gangguan kepribadian paranoid.

            Manifestasi gangguan kepribadian paranoid pada umumnya sudah nampak sejak remaja atau dewasa muda, kemudian berkembang lebih nyata pada usia dewasa. Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian paranoid adalah, pertama, kecurigaan dan ketidakpercayaan pada orang lain yang tidak beralasan. Seperti : (1) merasa akan ditipu atau dirugikan; (2) kewaspadaan yang berlebihan yang terwujud sebagai terus menerus meneliti tanda-tanda ancaman dari lungkungan; (3) ,meragukan kesetiaan orang lain; (4) cemburu yng patologik.

            Yang kedua, adanya hipersensitivitas, yang ditunjukkan oleh : (1) mudah merasa terhina dan diremehkan; (2) membesar-besarkan kesulitan yang kecil; (3) menyimpan dendam dan siap mengadakan balasan; (3) tidak dapat santai.

            Dan ketiga adalah keterbatasan kehidupan afektif, yang ditunjukkan oleh : (1) penampilan yang dingin dan tanpa emosi; (2) merasa bangga dirinya selalu obyektif rasional; (3) tidak ada rasa humor yang wajar; dan (4) tidak adanya perasaan lembut, hangat dan sentimentil.

            Bila gejala kecurigaan diatas sudah berkembang menjadi keyakinan palsu, atau pikiran yang terdistorsi yang sangat diyakini dan sistematis, maka ini disebut waham curiga /paranoid. Dan sudah menjadi gangguan jiwa berat (psikotik) yang disebut Gangguan Waham Menetap. Bila gejala-gejala gangguan kepribadian diatas disertai halusinasi pendengaran berupa suara-suara yang mengomentari dirinya atau suara-suara yang mengancam tanpa ujud, ditambah adanya keruntuhan fungsi peran dan sosial (deteriorasi), alias tidak bisa bekerja lagi, maka ini sudah menjadi suatu gangguan jiwa berat lainnya, yaitu Skizorenia Paranoid. Kedua jenis gangguan jiwa berat ini sudah membutuhkan obat-obat psikotropik anti waham yang kuat dan bila perlu Terapi Kejang Listrik yang dikerjakan di RSJ.

            Bila gangguan kepribadian histrionik lebih banyak terjadi pada wanita, maka gangguan kepribadian paranoid sebaliknya. Lebih banyak pada pria dibanding wanita. Nmun, kecurigaan, dalam batas wajar dan beralasan, tak mesti jelek. Justru  diperlukan untuk profesi tertentu. Misalnya polisi, tentara dan dokter. Bagaimana seorang polisi bisa menangkap teroris bila ia tidak curiga pada penyamaran teroris itu? Seorang jendral perang yang tidak curiga pada strategi tipuan musuhnya pasti akan terjebak. Demikian pula seorang dokter harus curiga pada semua hasil pemeriksaan fisik dan lab pasiennya,  untuk bisa mendeteksi hal-hal patologis.

            Penelitian-penelitian ke masa lampau menunjukkan adanya “basic trust” atau kepercayaan yang mendasar antara anak pada ibu atau pengganti ibu yang tidak terbentuk waktu anak usia 3 tahunan. Tak ada “basic trust” dipastikan tak ada kasih sayang dan perhatian yang berarti suatu “deprivasi” atau penelantaran masa anak. Waktu dewasa ia menjadi benci dan curiga pada dunia yang dianggap menolaknya. Ia juga tak bisa mempercayai dunia yang dianggap mau menipunya. Ini juga menjadi mekanisme pertahanan dirinya terhadap konflik-konflik yang dialaminya di masa anak itu. Penderita gangguan ini, karena bentrok terus dengan lingkungan dan tak bisa menyesuaikan diri, akhirnya akan bekerja sendiri atau menganggur.

            Lalu bagaimana terapi untuk gangguan macam ini? Individu dengan gangguan kepribadian paranoid, sama dengan Gangguan Waham Menetap dan Skizofrenia Paranoid, mempunyai “insight” (tilikan diri) yang sangat jelek. Ia tidak pernah merasa dirinya punya gangguan atau perilaku buruk dan tidak pernah mau ketemu psikiater atau psikolog. Orang-orang disekitarnyalah yang “sakit” dan merekalah yang harus ketemu psikiater. Menurut Prof Bachtiar Lubis, Guru Besar Psikiatri FKUI, dalam bukunya “Understanding that Heals”, memahami diri sendiri dan gangguannya adalah sudah menyembuhkan.

            Berarti individu tersebut harus berupaya untuk memahami diri dan problemnya sendiri. Bagaimana caranya? Harus ada yang memberitahunya bukan? Lalu siapa bila ke psikiater dan psikolog ia ketemu saja tidak mau? Harus ada tokoh berpengaruh yang bisa didengarnya. Mungkin teman dekat terpercaya, bapak, paman, kakek, atau rohaniwan. Bila ia bisa memahami diri dan perilaku abnormalnya, otomatis ia bisa merubahnya sendiri.

            Wanita diatas bisa mengajukan persyaratan bila lelaki itu ingin mendekatinya. Ia harus mau diajak ke tokoh berpengaruh, mendengarnya, dan menghilangkan semua perilakunya itu. Bila pria itu marah, ia akan mundur menjauh dengan sendirinya. Gangguan paranoid ini akan berkurang dengan sendirinya dengan bertambahnya umur. Setelah mengalami benturan-benturan dan “dihajar” lingkungan, ia akan berefleksi diri dan mulai menyadari perilakunya yang buruk. Tapi sudah agak terlambat. Biasanya pada usia sekitar 60 tahun keatas.**** inuwicaksana.com   

KOMEN:

Sugito:

Wah menarik banget tulisanmu, jadi si wanita nek isih kepingin nikah nunggu si pria umur 60 th,koyo umure dewe to, wah Mas Yono dadi ngguyu maneh.

Suyono:

Mas Gito, hla piye le ra ngguyu ...sampeyan ki ya lucu, mosok cewek naksir cowok ndadak nunggu umur 60 th.  Yen ngono awake dhewe 1 -2 tahun meneh isa dadi kandidate si wanita mau ya ...
Wis ndang njaluk tulung mas Inu kon ngenalke ....hehe ..
salam (ojo-ojo awake dhewe ki penderita personality disorder)

Arief Joko:

Iki bethek-e msGito kesepian nang Magelang. Arep guyonan karo muride dudu levele, murid2e kan pantese dadi putune. Mula maca tulisane msInu, dijupuk sepotong, ditulis nggo msYono, karo bgarep-arep ngenteni umur 60. Hehehehe ...
Salam. Mas Yono dan Mas Gito.
Pakdhe ....

Prasti:

Halahhhh ....halahhh ...
Ngomongke apa to eyang2 iki ??
Ning ncen bener lho .....bocah wedok saiki akeh sing golek-ane ....waton mapan , sugih ....umur ra dadi soal ...

Aku duwe pasien umure 19 thn , ayu , mulus ....hamil diterke bojone (sbg istri ke 5 sing lanang umur 60 thn , anggota DPRD dari slh st parpol , ustadz) .....
Sing lanang isih gagah , PD ....wong sugih ....?

Ono maneh ...iki prof dokter (preklinik , ustadz juga) saat ini usia 70 thn ....bojone ke 3 (saiki usia 36 thn) mulai anak pertama aku sing nulung ...saiki anake 3 wis steril (mow) ...

Itulah bukti nek wong lanang kuwi ora ono istilah "bendaya" .....kapanpun oke aja ....he he he ....

Kira2 kancane dewe ono ora yo sing koyo kuwe ?

Masyhuri:

La sing ustadz ono, umur meh 60th, sugih, sudah jelas orangnya
He...he...

Inu:
Mas Gito, Mas Yon, Mas Arief makasih wis maca tulisanku, isa nggo guyon parikena....mbok biyen2 saben nulis neng KR tak posting neng kene isa nggo guyonan. Ngrekasa tenan lho le nulis ki, merenung 3 hr njur le nulis 4 jam. Tulisan harus populair, enak dibaca awam, tapi juga berbobot ilmiah yg bisa bikin kaget para psikiater n psikolog. Nek tulisanku tidak bisa bikin gumun psikiater n psikolog, aku pasti dianggep ora mutu. Lha rak angel ta. Tukang becak n bakul lombok kudu mudeng, ning para ahli kejiwaan juga "belum begitu tahu". Nah, mula banyak para psikiater n psikolog muda sing mengkliping tulisanku kuwi. Krn aku mengambil referensi dari banyak buku diluar psikiatri, bahkan dari Zen Budism, ditambah pengalaman praktekku dewe sing lebih 25th.

Nah mengko tak sambung diskusi seks usia lanjut membahas critane Asti lan Edmart.

Ning saiki kok da mas2an ki piye? Biyen neng Joglo Samiaji Wonosari rak wis da sepakat ngundang ra sah nganggo Pak, Bu, Prof, dok, Mas, Mbak ta? Langsung jeneng ta? Angkatan diatas kita ya sepakat ngono. Tapi ternyata, kita ini wis tuwo, ora tegel jangkar2an. Terutama nek ketemu secara tertulis di mailist or BBM. Ya wis ra papa. Ning perkenankan aku tetep njangkar kaya biyen ya. Aku pengin merasakan keakraban spt dulu karo sliramu kabeh. Rasane wagu dan asing nek kudu nyebut, mas Japong, mas Arief, mas Gito, mas Yon, mas Herbud, mas Edmard, mbak Asti, mbak Surya, mbak Martin. Wah wah, rasane, aku malah bisa "depersonalisasi", menjadi asing dgn diriku sendiri. Hahaha.
Mengko tak sambung diskusi seks khusus laki2 usia lanjut. Sing putri ra kena maca. Rahasia laki2.
IW.


Sumber: Milis TldJOG70

No comments:

Post a Comment

Post a Comment