Tuesday, September 14, 2010

KISAH SYAWALAN TLDJOG70 DI RM TARAKAN NGAYOGYAKARTA, 12 SEPT 2010.

Minngu pagi ini, 12 Sept 2010, pagi-pagi benar aku jalan cepat ke SunMor Bulaksumur. Gembira, sendirian. Sudah sebulan, karena puasa, aku tak berolahraga jalan kaki. Dengan 10 km perhari, pembuluh2 darah ke jantungku akan megar semua. Kolateralisasi, kata mas Haryadi, kardiologku.

Sampai Bulaksumur ternyata masih sepi. Aku jadi ingin mengecek acara syawalan. Kutelpon Ki Demang. Lima kali tak diangkat. Sialan. Prof gendheng ini pasti masih tidur kelonan. Ku telpon Surya, syawalannya besok ta, tanggal 13? Surya tergagap, lho ora ta, saiki. Lho kok saiki, bantahku. Iya saiki, kata Surya lagi. Sesuk!, saiki! Bah, Hp kumatikan. Surya cepat telpon Ning, konfirmasi, Ning malah bingung. Oya, saiki tgl telulas ya. Walah, edan kabeh. Surya cepat ambil sikap. Telp aku lagi, bener kok Nu, saiki. Wuah, aku harus cepat pulang, siap-siap.

Mobilku dipakai istri, sudah masuk ke RSU Muntilan (istriku benar2 buruh sing sregep banget). Mobil satunya dipakai anak2ku ngeterke sepupu2 yg berdatangan mubeng2. Aku harus mengalah pakai sepeda motor saja. Mau pakai si Pitung, takut nggak bisa jalan karena aku ingin menjemput si Sob. Berarti 96 Kg tambah 80kg. Jadi kupakai sepeda motor anakku mbarep, Yupiter MX biar sampai disana nanti baju2 temanku pada sobek2 semua hingga mereka wuda kabeh. Yupiter kunaiki, suaranya berdentam-dentam, kupasang booster mirip motornya Batman Begins, melayang bagai terbang di jl Monjali. Aku tak takut dicegat polisi, karena toh aku akan ketemu si AKBP Poer, jadi nggak bakalan ditilang aku malah dibayar (Poer misuh2 dengar ini).

Motor kuhentikan di depan Warung Sate Sobirin. Tutupan krekep. Kugedor pintu sengnya. Lalu kutelpon ke Hpnya. Oalah, Pak, aku lagi di Gunung Kidul, Wonosari, sak kulawarga, bakdan neng nggone mertua. Dingapura ya Pak, salamku nggo kanca2. Ya wis, maka kuterbangkan lagi motorku ke utara. Hyaat, utara lagi. Sampai RM Tarakan Baru. Kulihat halaman sudah penuh mobil teman2ku yang bagus2. Benar2 sugih kabeh kancaku Teladan ki. Kelompok The Haves TLDJog70. Tukang parkir terbengong-bengong melihatku datang bagaikan Batman Begins. Ben bae. Belum tahu siapa aku dia. Waduh.

Jam 12.00 tepat aku masuk rumah makan Tarakan. Disambut teman2, seperti biasa, dengan ejekan-ejekan. Dasar lalen, ra ngerti tanggal, ra ngombe obat. Biar saja. Itu tanda kasih sayang bukan? Nomer satu segera kutubruk Titik Ratna Sudewi. Piye Wiek, chemone, sukses ta, tahan ta? Apik, wis tiga kali. Wah rambutku brodol kabeh. Ia nampak tabah, dan cantik. Tak tambah kurus. Hanya matanya sedikit sendu. Maklum. Kehilangan suami tercinta, lalu dapat pula musibah seperti itu. Semoga prognosenya baik. Ewiek nampak bahagia dikelilingi teman2nya, putri2 disamoingnya dan para priya di depannya.

Naniek duduk disamping Ewiek. Ia tambah tua tambah cantik saja. Dulu waktu pulang sekolah nyepeda denganku ke Semaki ia tak secantik ini. Wuah. Sekarang Zuchron sampai tergiur dan menawarinya pulang nanti mau diboncengkan sepeda motor. Naniek menolak, nek mbiyen ra papa, katanya. Saiki malah ra papa, kata Zuch. Zuchron benar2 tak tahu diri. Awake sak kebo numpaki sepeda motor wis entek nggone, njur Naniek arep delehke ngendi? Teman2 tergelak-gelak semua.

Tapi Zuchron serius bisik2 denganku. Ia mau mantu, 6 Nop 2010, di Pendopo Taman Siswa, tapi jangan diumumkan sekarang, katanya. Kasihan kalau teman2 dari luar kota pada ingin datang. Lho piye ta, kataku, ya ra papa. Kalau mereka pada ingin datang itu pasti sekalian mau nostalgia ke Jogya. Mereka toh pasti sudah punya tempat nginap. Kalau nggak ya nanti biar dibantu Prof Ed ngurusnya. Akhirnya kuumumkan juga di akhir acara. Sekalian reuni di Pendopo Taman Siswa, sip.

Lalu Aminul dengan istri. Ya, ia harus didampingi istrinya sekarang. Ia mendekatiku dan mengeluh, sudah cuci darah tiga kali di JIH. Setiap kali sejuta. Minta diusahakan pakai Askes ke Sarjito. Lha rak tenan ta. Ada faktor-faktor X yg tak bisa kau tembus Nu, dia merasa aman dan terbiasa ke JIH, kata Yangti. Betul, aku setuju. Dari dulu kurasakan itu. Tapi sekarang, setelah harus cuci darah seminggu sekali dan tiap kali sejuta, padahal dengan Askes gratis, ia terpaksa berpikir ke Sarjito. Sorenya kutelpon Sumarni psikolog yg kerja di Sarjito untuk menyiapkan jalur yg dulu pernah kami siapkan. Semoga Aminul benar2 mau ke Sarjito karena, untuk orang yg punya fasilitas Askes, tak mungkin menyia-nyiakan hal ini untuk cuci darah selamanya.

Superstar tamu “number one” siang itu adalah Om Pasikom. Pakai topi baret putih khas jurnalis, baju putih dan celana jean warna krem, tas handbag kulit coklatnya bikinan Itali yg selalu ingin kucuri, sepatu kets, handycam dan kamera, dan Blackberry. Siapa dia? Itulah Jumhan Bintarto. Baretnya yg condong ke depan sangat serasi dengan kepalanya yang kotak persegi dan rambutnya yg dari dulu selalu pendek. Wajahnya yang putih nampak tampan, muda dan semringah. Si Om melanjutkan pelajaran BB nya padaku yg dulu terputus di Pangandaran. Blackbarry massenger, pasang pin, to invight teman, dll.

Edmart siang itu berpenampilan kaos hitam dan velana hitam. Cukup keren. Ning kaya bar layat. Biasanya Ki Demang memakai batik suteranya yg baguss. Seperti aku yg siang itu pakai batik biru yg kupadu dengan celana jean biru. Batik barusan kubeli di butik Nakula Sadewa mBeran Sleman yg akhir2 ini laris dikunjungi orang2 dari Jkarta atau tamu2 asing. Teman2 kalau ke Jogya harus lihat kesana, Batik setengah tulis dan cap 250rb, sedang tulis total 350rb, bisa titip saya aku ra mbati wis. Toh masih kalah dengan batiknya Hajar. Coklat tua dipadu dengan celana hitam dan cepatu cethok hitam mengkilat. Hajar memang seniman yang selalu parlente.

Ki Demang tak banyak berpidato formal, atau mungkin sudah pidato tadi karena aku terlambat. Ia lebih suka mendekati dan menyapa teman2 satu2. Bicara dari hati kehati, Ya, siang itu tak ada organ tunggal, musik atau menyanyi-menyanyi. Bicara glenak-glenik saja, geguyon parikena, nyek-nyekan, ngalem pol njur nggarap, grundelan, ngrasani. inilah gaya khas Jogya.

Siapakah tamu superstar kedua? Itu, kata Prof Ed sambil menunjuk ke jalan besar depan RM. Ada machluk mirip Hulk di film, lagi nyeberang jalan. Itulah, Antony, si pemain basket bal. Dia sregep lho kalau reuni di Jakarta, kata si Om. Wuah, kalau itu bukan gemuk lagi, ning kaya truk gandengan. Kethemek-methemek mantep. Ku yakin refleks basket di otaknya masih ada hingga kalau kulempar bola basket padanya, pasti akan ditangkap sigap dan didrebel dengan indah. Tapi sekarang bola njur ngglinding bareng tubuhnya. Antony masuk dengan kalem disambut gegap gempita. Bambang Budi, Poer, Zuchron berusaha memeluknya, mau cpika cipiki tapi perut ketemu perut menghalangi. Susah payah mereka berangkulan.

Ku tepuk si Hulk dari belakang. Ia menoleh, eh Inu, kowe pemain basket juga ta, mbiyen?, katanya. Ah, aku bahagia dia masih mengingatku sebagai pemain basket. Tapi meski dulu loncatan dan lemparanku mirip Michael Jordan, semua itu tak ada gunanya kalau ketabrak Antony, aku pasti ngglimpang cekakaran. Si Hulk ini terkenal dengan lemparan maut jarak jauhnya yang tak ada tandingannya, langsung: bleng. Yahud. Aku memotretnya berkali-kali dengan latar teman2 semua.

Tapi kuingin memotretnya bersama tiga Big Brother lainnya saja. Namun teman2 tak bisa dipenggak. Mereka uyel2an sampai ada yg di belakang yg naik meja. Gila, benar2 anak SMA. Ketika kutanya, si Hulk rupanya kerja sebagai jaksa di Palembang, pensiunnya nanti umur 62 th. Ketika hidangan gurameh bakar dan kepithing disajikan (Yangti sudah sangu cathut dari rumah), aku dengan Poer dan Hajar meraih piring ayam goreng kering kemlithik. Tapi kalah cepat dengan tangan besar si jaksa Hulk. Rupanya ia senang ayam goreng kering juga yg memang disini sangat enak. Kami tak menyentuh gurameh dan kepithing, tapi tiga piring ayam goreng menumpuk di tempat kami berempat. Sak balung-balunge.

Tamu superstar ketiga yg tak kuduga adalah sang ketua kemantren Jatim bersama nyonya, Herbud. Ia datang necis dengan baju sutera abu-abu kraag ho-cin-cu, celana hitam dan sepatu cethok hitam mengkilat. Semua teman dipeluk dan dicipika cipiki. Herbud bagai tamu kehormatan yg tak sempat duduk, ia berdiri berputar-putar ngobrol dengan semua. Ia bahkan tak sempat makan dan minum. Memang apalah artinye makan dalam kesempatan berharga untuk berbicara yg hanya setahun sekali ini?

Aku tak pernah menganggap Jafron Rifai tamu superstar dari Jakarta. Japong selalu kuanggap orang Jogya karena setiap kali reuni SMP dan SMA selalu hadir. Siang itu ia pakai hem koko putih berenda lengan panjang, seperti biasa sibuk memotret dan menyuting kita semua. Ia malah membawa hasil karyanya film-film Green Canyon Pangandaran. Dari rumah aku sudah membawa catatan2 dari tampilan komputerku ingin kutanyakan Japong. Di dunia ini cuma dia yg bisa menjelaskan tentang croping, editing, compress jadi sekian pixel, dengan perangkat ini dan itu.

Wacana tak kuduga bisa datang. Tinggal teman dekatnya, si Prof Suwarjono yg belum pernah muncul. Padahal ia pernah datang ke praktekku untuk anak perempuannya yg histeris waktu itu. Suwarjono dulu adalah ssaran tembak utam penggarapan si Emel di kelas. Wacono dari kantor agraria Sleman pindah ke . propinsi dan sekarang telah pensiun. Busananya rapi dan necis seperti pegawai kantoran.

Aku mengharap Chaiyatul Hujono, Gus Bowo, dan Suharyadi Maryanto datang, ternyata tidak. Chayatul pasti sibuk momong bayeknya (atau ibu bayeknya?). Malah datang dua priya besar2 yg masih kukenal wajahnya tapi lupa namanya. Kutanyakan pada Edmart, ternyata Bambang Budi dan Murtiyanto. Oh, ini ta Murtiyanto yg sering kubaca di mailist. Ia menyumpahiku sebagai lupa segala. Tapi tidak kok. Kalau wajah aku tak lupa. Tiga teman lainnya aku sudah lupa lagi namanya. Dan si Prof Biologi dari Surabaya itu, aduh mak, aku sudah lupa lagi.

Surya berfoto mejeng disamping si Hulk dkk dengan gaya miring seperti peragawti kuna, Irma Hadi Surya. Wanita yg bersama Ning menjadi tuan rumah ini nampak cantik dan seksi. Jauh lebih cantik dan “atractive” dari lima belas tahun lalu ketika aku kerja penelitian sama dia. Sayang Emel tak ada. Kalau ada pasti digarap habis-habisan dibandingkan waktu SMA dulu. Emel suka mbanding-mbandingkan dgn jaman dulu. Dan kami semua pasti terpingkal-pingal. Siapa sangka wanita yg bagai peragawati Irma Hadi Surya ini adalah doktor pharmakologi klinik UGM yg menjadi orang Indonesia satu-satunya yg pejabat WHO? Ya, bidang pengawasan narkotika. Sayang, orang2 UGM sendiri mungkin tidak pada tahu.

Aku sudah mengetahuinya sejak lama tapi Surya sendiri wanti-wanti untuk tidak mengumumkannya ke teman2. Kulihat di mailist kemarin ucapan selamat dari teman2 bertaburan. Ia berhak menerimanya. Tapi bagi kebanyakan teman2 putra, wanita cantik dan seksi ini bagai terselimut kabut misteri. Yang bahkan aku dan Edmart tak sanggup menjawab pertanyaan teman2. Tapi pada syawalan tahun lalu, sejumput rahasia teknik kehidupan diberikannya padaku. Yang ternyata sangat ampuh bagiku untuk menghadapi orang2 di kantorku yg menyebalkan. Waktu di rumah Janti, Asti ditawarinya kalau ke Jogya supaya menginap di rumahnya. Astihoet mengangguk. “Kau terpilih” bisikku di telinganya. Asti cuma “mlengeh”. Terpilih apa ta Nu?

Ketika Tumenggung Herbud sudah puas berbicara berputar-putar, teman2 minta foto bersama. Berarti harus keluar. Berarti pula syawalan telah berakhir tanpa ditutup Ki Demang. Memang tak pernah ada yang tegel nutup pemicaraan syawalan yg seakan tak ada habis2nya. Semua berjajar di depan RM Tarakan, yg njepret keponakannya Yang Ti dgn kamera2 titipan. Lalu pada pamitan satu persatu. Harjanti tak garap sekarang jadi wanita mandiri, tak diantar Mas Santosa. Ia menjawab manja, lha kalau malam aku ya minta diantar ta Nu. Lalu masuk ke mobil Merci nya yg besar. Mundur we ungkag-ungkeg. Tubuhnya yg seukuran istriku jelas ambles ditelan mobil.

Naniek akhirnya diantar Japong dengan Inova hitamnya. Mashuri disopiri teman kita yang, aku lupa namanya. Dan masih ada sekitar 15 org yg belum mau pulang. Ngobrol2 mengitari si Om Pasikom. Menanyakan, rancangan2nya yg hebat. Bandara itu 10 th lagi seperti apa ujudnya? Lha kalau gedung itu, 10 th lagi seperti apa? Si Om menjawab keras:

“Wuah, kamu itu kok pada bertanya sepuluh tahun lagi. Lha kita ini sepuluh tahun lagi seperti apa? Barangkali datang syawalan saja pakai teken!”.
“Atau malah tak bisa datang. Yang datang cucu kita. Si Mbah anfal! Wah!”.
“Atau cucu pun tak datang.....sudah........bablasss......hahahahaha”.
“Ya, satu persatu kita akan pergi......bablas.......hahahaha”.
“Dan yg rajin mencatat si Edmart. Tapi bukan berarti dia yg paling akhir. Barangkali dia malah.........hahaha”

Aku jengkel dan sebal dengan geguyon ra mutu ini. Tapi kusahut juga :
“Biasanya kalau profesor itu ndisiki”,
“Huahahahahahahaha.....”, meledak tawa teman2.
“Gari profesore disik sapa, Edmart pa Mashuri”, kata Juned Mata.
“Mashuri. Endi Mashuri. Lha wis mlayu ndisik ta. Wedi dewekne”, kata Ed.
“Huahahahahahaha........”.

Aku sebal, disamping takut, dengan geguyon yg mengerikan ini. Bukankah kita bertemu, berkumpul, reuni, dengan teman2 seangkatan di SMA ini untuk mengisi sisa-sisa hidup kita dengan kebahagiaan bersama teman2 dulu? Kita bisa merasakan betapa makna hidup kita selama ini, bisa melihat kembali “flashback” kehidupan kita dengan melihat mata teman2 kita (mataku wis katarak je). Lalu kenapa hal “bablas-bablasan” malah ditonjolkan, dinggo geguyon?

Ini hal yg ingin kulupakan. Hampir saja kukatakan, kalau aku yg dipanggil duluan, kalau nanti pas syawalan ada puntung rokok berasap datang melayang-layang, nah itu berarti aku yg datang. Tapi hal ini tak kukatakan. Wegah. Lalu kubentak teman2 itu untuk foto-foto bersama lagi. Nah, jepret-jepret-jepret. Surya, Herbud dan nyonya masih ada. Nah, sekarang berpisah. Syawalan yg membahagiyakan. Dan memuaskan. Menambah arti hidup. Mudah2an tahundepan masih bisa ketemu lagi. Dan tahun depannya lagi. Amin, Amin, Ya Robilalamin.****

Inu Wicaksana, Popongan, Si

No comments:

Post a Comment

Post a Comment